Puluhan Siswa TK di Tanjung Morawa Kunjungi Den Gegana Brimob Sumut, Belajar Tugas Polisi Sejak Dini
Arjuna Bakkara April 20, 2026 03:54 PM

TRIBUN-MEDAN.COM, TANJUNG MOORAWA-Di Aula Batalyon A Pelopor, Senin pagi itu, suara tawa anak-anak lebih nyaring daripada aba-aba barisan.

Sebanyak 67 murid Yayasan TK Kemala Bhayangkari 02 Brimob Tanjung Morawa datang berkunjung ke Den Gegana Satuan Brimob Polda Sumatera Utara, Senin (2004/2026).

Bukan untuk melihat ketegangan, melainkan belajar dengan cara yang sederhana dan menyenangkan tentang siapa itu polisi dan apa yang mereka kerjakan.

Anak-anak itu turun dari kendaraan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Beberapa menggenggam tangan gurunya erat, sebagian lain sudah tak sabar melangkah lebih dulu.

Di halaman aula, personel Den Gegana menyambut mereka dengan senyum yang sengaja dibuat seramah mungkin. 

Hari itu, seragam loreng dan perlengkapan taktis tak lagi tampak menegangkan, melainkan menjadi alat perkenalan yang bersahabat.

Kegiatan dipandu IPTU Saiful. Ia tidak berdiri sebagai instruktur yang kaku, melainkan seperti pemandu yang mengajak anak-anak berkeliling dunia baru.

Dengan bahasa sederhana, ia menjelaskan tugas-tugas Brimo terutama Unit Wanteror yang biasanya identik dengan situasi genting. Di tangan Saiful, penjelasan itu berubah menjadi cerita ringan yang mudah dicerna anak-anak.

Satu per satu perlengkapan diperlihatkan. Helm, rompi, hingga alat-alat khusus yang biasa digunakan dalam penanganan teror.

Anak-anak mendekat, sebagian berbisik pada temannya, sebagian lagi menunjuk penuh antusias. Ketika giliran Unit Jibom memperkenalkan peralatan penjinak bom, perhatian mereka seperti tertambat.

Mata-mata kecil itu membesar, mencoba memahami benda-benda yang sebelumnya hanya mereka lihat di televisi.

Namun, yang terasa paling kuat bukanlah deretan alat atau kendaraan taktis yang dipamerkan. Melainkan suasana yang terbangun hangat, cair, dan penuh tawa.

Polisi, yang kerap dipersepsikan tegas dan jauh, hari itu hadir dalam wujud yang lebih dekat ramah, sabar, dan terbuka.

Di penghujung kegiatan, anak-anak diajak berfoto bersama. Mereka berbaris, beberapa masih melambaikan tangan, sebagian lagi tersenyum lebar ke arah kamera.

Di belakang mereka, kendaraan taktis berdiri kokoh. Di depan, kenangan kecil tercipta tentang pertemuan pertama dengan polisi yang tidak menakutkan.

Kunjungan singkat itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, bagi anak-anak itu, ia bisa menjadi awal dari cara pandang baru bahwa polisi bukan sekadar penegak hukum, melainkan juga sahabat yang menjaga.(Jun-tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.