Kucuran Air Mata Orang Tua Warnai Pencarian Remaja yang Terseret Arus di Pantai Parangtritis
Hari Susmayanti April 20, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kucuran air mata menjadi saksi bisu kepedihan mendalam yang dirasakan orang tua Angger Raditya Nanda Pradana (16) saat menyaksikan secara langsung proses pencarian anaknya yang hilang di Pantai Parangtritis.

Ayah remaja tersebut sempat diberikan bantuan oksigen oleh tim SAR saat mendampingi proses pencarian.

Ia tampak syok, tak berdaya, dan tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa berharap putranya segera ditemukan. 

Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, di Pantai Parangtritis pada Senin (20/4/2026), tak hanya keluarga yang menantikan kabar terbaru korban, namun juga sejumlah rekan korban.

Salah satu rekan korban, SPP (16), menjadi saksi hilangnya korban di tengah laut.

Awalnya, ia hanya mengajak dua temannya ke Pantai Parangtritis pada Minggu (19/4/2026).

Namun, tak menyangka jika korban turut ikut ke Pantai Parangtritis.

"Itu pas saya lagi ada tamu, jadi tidak saya perhatikan. Terus tiba-tiba (korban) terbawa (arus pantai) ke tengah," ucapnya, kepada awak media.

Dikatakannya, setelah korban dan teman-temannya sampai di Pantai Parangtritis sempat diperingatkan untuk tidak bermain air di area rip current.

Namun ternyata, korban nekat belajar surfing tanpa pengawasan dan standar operasional. 

Baca juga: Terlepas dari Dekapan Petugas, Remaja yang Belajar Surfing Hilang Ditelan Ombak Parangtritis

Kronologi Kejadian

Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Parangtritis dan Depok, Arief Nugraha, menjelaskan bahwa kecelakaan air tersebut terjadi pada Minggu (19/4/2026) dan melibatkan dua remaja, yakni Angger dan rekannya, Angga Hendra Saputra (16).

Peristiwa bermula saat keduanya menyusul rekan sekolah mereka yang sedang melatih surfing di Pantai Parangtritis.

Meski sudah diperingatkan untuk menunggu giliran didampingi, kedua remaja ini diduga tidak sabar dan nekat bermain sendiri.

"Angger dan Angga bermain surfing terlebih dahulu menggunakan papan surfing yang sudah ada di sana. Akan tetapi, tidak meminta pendampingan dari teman-teman atlet yang sudah profesional," jelas Arief.

Ketidaktahuan korban membuat penggunaan alat menjadi fatal. Papan surfing digunakan tanpa mematuhi standar operasional prosedur (SOP), termasuk tidak memasang tali pengait (leash) ke kaki.

Akibatnya, saat terhempas ombak besar di area arus bawah yang kuat (rip current), keduanya terlepas dari papan dan terseret ke selatan.

Arief meluruskan bahwa papan yang digunakan bukanlah milik orang lain yang diambil tanpa izin, melainkan fasilitas latihan yang memang tersedia di lokasi.

Namun, penggunaannya wajib di bawah pengawasan instruktur.

"Karena memang di Pantai Parangtritis bisa untuk latihan surfing tetapi harus ada pendampingan dari instruktur yang sudah ada di Pantai Parangtritis dan yang juga di bawah kendali Pantai Parangtritis," tutur dia.

Proses Penyelamatan dan Pencarian

Saat kejadian, petugas SAR sebenarnya telah berupaya keras menyelamatkan keduanya.

Korban Angga berhasil diselamatkan meski melalui proses yang dramatis karena besarnya gelombang.

"Korban Angga sudah sempat dijangkau oleh petugas. Ada tiga petugas yang sudah menjangkau. Tetapi, berhubung itu ada di gelombang terakhir di wilayah selatan dan gelombang itu tinggi. Jadi, korban sempat terlepas dari petugas kurang lebih lima sampai tujuh kali," paparnya.

Kondisi korban yang sudah lemas serta petugas yang mulai kelelahan membuat proses penyelamatan dilakukan secara bergantian hingga akhirnya Angga berhasil ditarik ke darat.

Sayangnya, Angger tidak berhasil dijangkau dan dinyatakan hilang.

Memasuki hari kedua pencarian pada Senin, tim gabungan yang terdiri dari sekitar 150 personel telah dikerahkan sejak subuh.

Pencarian dilakukan melalui penyisiran darat dari Tebing Parangtritis hingga Parangkusumo, serta penyisiran laut menggunakan jetski dan pemantauan udara via drone.

"Pada hari kedua pencarian ini, ada sekitar 150 personel dari petugas gabungan. Hasil pencarian sementara masih nihil," tutup Arief. (nei)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.