TRIBUNBENGKULU.COM - Pengakuan Syamsiah, Guru SMA Negeri 1 Purwakarta setelah viral diolok-olok hingga dicaungkan jari tengah oleh siswanya sendiri.
Bukannya marah, beliau justru legowo menerima perilaku buruk para siswa tersebut.
Ia bahkan memiliki niatan yang sangat mulia sebagai seorang guru.
“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat, yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” ujar Syamsiah saat memberikan keterangan pada Senin (20/4/2026).
Diketahui, insiden ini terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS, tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) mengenai pengolahan makanan selesai.
Syamsiah mengaku saat itu ia hanya fokus menjaga ketertiban kelas dan tidak menyadari jika tindakan provokatif siswa tersebut direkam.
“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.
Meski sempat merasa sedih secara manusiawi, Syamsiah memilih untuk menguatkan diri melalui keikhlasan.
Ia menganggap luka hati yang muncul dapat disembuhkan dengan komitmennya untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya.
Sanksi pembinaan
Meski telah dimaafkan secara pribadi oleh Syamsiah, prosedur institusi tetap berjalan sebagai bentuk evaluasi.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, memastikan bahwa sembilan siswa tersebut tidak akan dikeluarkan dari sekolah.
Sebagai gantinya, mereka akan menjalani masa pembinaan intensif selama tiga bulan, dilansir dari Kompas.com, Senin.
Langkah ini selaras dengan saran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar sanksi yang diberikan bersifat mendidik, seperti kerja sosial membersihkan fasilitas sekolah, daripada sekadar memberikan skorsing yang menjauhkan siswa dari lingkungan pendidikan.
Melalui kejadian ini, Syamsiah berharap pendidikan karakter dan adab kembali menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan.
"Adab itu hal utama. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," ujar Syamsiah.
"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," sambungnya.
Siswa Minta Maaf
Menanggapi polemik yang terjadi, pihak sekolah bersama para siswa kemudian memberikan klarifikasi melalui video lanjutan yang diunggah akun Instagram @infojawabarat pada Sabtu (18/4/2026).
Dalam video itu, seorang siswi bernama Hamila tampil sebagai perwakilan kelas dan menyampaikan penyesalan atas tindakan yang telah dilakukan.
Ia mengakui bahwa perilaku tersebut tidak pantas ditujukan kepada guru mereka.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu guru atas tindakan kami yang kurang berkenan. Kami menyadari kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ungkapnya.
Di akhir video, seluruh siswa tampak menundukkan kepala dan secara bersama-sama mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan yang telah terjadi.
Evaluasi Sistem dan Pengaruh Lingkungan Digital
Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.
Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan.
Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar.
Sumber: TribunTrends