Pelajar di Bantul Tewas usai Dijemput Temannya Malam-malam, Dianiaya Segerombolan Orang di Lapangan
Yoseph Hary W April 20, 2026 07:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16), asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tewas usai menjadi korban pengeroyokan.

Ayah korban, Sugeng Riyanto (53), menceritakan, bahwa korban dikeroyok oleh segerombolan orang di Lapangan Gadung Mlaten Kapanewon Pandak.

Ia belum bisa memastikan identitas pelaku pengeroyokan tersebut.

Awalnya dijemput temannya malam-malam

"Awalnya, Selasa (14/4/2026) kira-kira jam 21.00 WIB itu, anak saya masih di rumah. Itu dia masih bermain sama keponakannya. Terus sekitar jam 21.30 WIB, saya posisi sudah tidur karena capek kerja," ungkapnya, kepada wartawan, di rumahnya, Senin (20/4/2026).

Sugeng mengaku tidur dulu dikarenakan sudah lelah usai bekerja. Kakak korban juga sudah tidur terlebih dahulu.

Ayah Ilham Dwi Saputra (16), korban penganiayaan asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Sugeng Riyanto (53)
Ayah Ilham Dwi Saputra (16), korban penganiayaan asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Sugeng Riyanto (53) (Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana)

Namun, istri Sugeng yakni Sriwahyuni dan kakak ipar Sugeng belum tidur.

"Nah di situ, tiba-tiba ada teman anak saya pakai sepeda motor Nmax kalau enggak salah boncengan. Terus njemput anak saya itu. Yang tahu itu malah tetangga," jelasnya.

Dikatakannya, korban dibawa ke belakang salah satu SMA di Kapanewon Bambanglipuro. Di lokasi itu disebut ada teman korban. 

"Terus tidak selang lama, ada dua orang lagi boncengan pakai Scoopy warna hitam merah, kalau enggak salah. Itu boncengan dan jemput Ilham, anak saya," beber dia.

Kakak kelas curiga

Di lokasi itu ada kakak kelas korban. Kakak kelas korban sempat menaruh rasa curiga, sehingga membuntuti korban.

Ternyata, korban dibawa ke Lapangan Gadung Mlaten.

Dianiaya dan disiksa sepuluhan orang

"Setelah sampai di situ, ternyata sudah ditunggu banyak orang. Sekitar hampir 10 orang di situ. Anak saya itu cuma disuruh duduk dan ditanya apa ikut geng tertentu, dia jawab tidak," ujar Sugeng.

Namun nahas, korban ternyata langsung dipukul oleh gerombolan orang tersebut. Pemukulan dilakukan menggunakan selang, paralon, hingga gunting.

Mirisnya lagi, korban sempat disundut rokok dan digilas pakai sepeda motor berulang kali.

Dievakuasi kakak kelas ke RS

"Pada akhirnya, ketika sudah tidak sadar. Anak saya mau dipotong telinganya. Kebetulan, gunting itu disahut sama teman anak saya yang tadi buntutin," urainya.

Setelah tahu korban dalam keadaan tidak sadar alias pingsan, gerombolan orang tersebut langsung bubar.

Rekan korban atau kakak kelas korban bergegas membawa korban ke Rumah Sakit Saras Adyatma.

Tidak sadarkan diri hingga meninggal

"Anak saya dirawat di rumah sakit itu selama dua hari. Itu tidak ada perkembangan, padahal biayanya mahal. Per hari bisa sampai Rp10 juta. Dan dikarenakan tidak ada perkembangan, terus dipindah ke Rumah Sakit PKU Jogja," katanya.

Korban dirawat di Rumah Sakit PKU Jogja sejak Kamis (16/4/2026) malam hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (19/4/2026) pukul 21.30 WIB.

Korban ternyata mengalami luka cukup parah dan berat untuk dilakukan operasi.

"Itu (korban mengalami) bengkak pada kepala, sehingga dia tidak sadarkan diri sampai meninggal belum pernah sadar. Sebentarpun belum (pernah sadar) sampai akhirnya meninggal," ucap Sugeng.

Tidak ikhlas, berharap pada polisi

Kini, ia hanya bisa menaruh harapan kepada pihak kepolisian untuk turut melakukan penyelidikan dan pengungkapan kasus sampai tuntas. Pelaku diharapkan segera diproses hukum.

Menurutnya, mana ada orang tua yang ikhlas ketika anaknya dianiaya. Apalagi, dalam kasus ini terdapat dugaan penculikan sebelum akhirnya dilakukan penganiayaan berencana sampai meninggal dunia.

"Mana ada orang tua yang ikhlas seperti itu. Kalau benar-benar takdir Allah, ya insyaallah semua bisa dikembalikan dengan iklas. Akan tetapi, ini dianiaya bahkan melebihi Partai Komunis Indonesia," ucapnya.

Bukan anak yang sering keluar malam

Di sisi lain, hampir setengah tahun ini korban jarang keluar malam-malam. Apabila berada di luar hingga pukul 21.00 WIB sampai 21.30 WIB, Sugeng selalu langsung menghubungi korban dan meminta agar segera pulang.

Korban sendiri merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Korban juga disebut jarang membawa sepeda motor, sehingga kerap membonceng rekannya ketika pulang pergi sekolah. 

"Itu sudah sering saya lakukan. Hampir setengah tahun ini. Jadi, kalau masalah di luar, saya kurang tahu, tapi memang akhir-akhir ini anak saya jarang keluar malam. Paling 21.30 WIB atau 22.00 WIB, sudah di rumah," paparnya.

Polisi butuh waktu

Terpisah, Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, belum bisa memberikan keterangan detail terkait kejadian tersebut.

"Mohon Waktu, saya koordinasikan dulu dengan Reskrim," tutup.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.