Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Utara (Pemkot Jakut) melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara menggencarkan edukasi dan memperkuat sarana prasarana pendukung untuk mengatasi sampah organik yang masih mendominasi wilayah tersebut.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Edy Mulyanto di Jakarta, Senin, mengatakan sampah di Jakarta Utara masih didominasi sampah organik yang selama ini belum tertangani secara optimal. Ia mencatat dari total sekitar 1.300 ton sampah per hari di Jakarta Utara, hampir separuhnya merupakan sampah organik.
“Tantangan utama pengelolaan sampah di Jakarta Utara terletak pada dominasi sampah organik,” katanya.
Edy mengatakan pihaknya terus menggencarkan edukasi soal pengelolaan sampah organik.
Di sisi lain, pemerintah setempat juga menyiapkan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung, yaitu mendistribusikan 410 unit tong drop point di tingkat RT. Pihaknya juga menyediakan 11.982 ember pemilahan untuk rumah tangga dan 93 unit timbangan gantung.
Selain itu, Pemkot juga menyiapkan 650 unit Lodong Sisa Dapur (losida), serta 12 unit tong komposter.
"Kami juga menghadirkan dukungan teknologi pengolahan sampah, seperti mesin pencacah dan bioreaktor untuk mempercepat proses penguraian sampah organik," kata dia.
Edy menambahkan, sistem pengelolaan sampah di Rorotan kini berjalan lebih terstruktur dan warga memilah sampah dari rumah, kemudian mengumpulkannya di titik drop point.
Sampah organik selanjutnya diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) untuk diolah menjadi bubur sampah yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan budi daya maggot.
Ia menyebutkan dalam satu bulan, volume sampah organik yang berhasil dikelola mencapai 21 ton hingga 25 ton.
“Ini tidak hanya mengurangi beban TPST Bantar Gebang, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular di tingkat masyarakat," katanya
Menurutnya, keberhasilan tersebut turut didukung oleh peran aktif kader Gerakan Pilah Sampah (GPS), petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), penyuluh lingkungan hidup, serta kolaborasi berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara juga berencana mereplikasi keberhasilan Rorotan ke wilayah lain sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Rorotan menjadi contoh bahwa dengan kolaborasi dan perubahan perilaku, pengurangan sampah dapat dilakukan secara cepat dan terukur," kata dia.
Sementara itu, Kader Gerakan Pilah Sampah (GPS) RW 06, Kelurahan Rorotan, Juju (56) menegaskan siap mendukung penuh program pemilahan sampah yang kini mulai menjadi kebiasaan warga, mulai dari rumah hingga ke titik penampungan.
Menurut dia warga sudah mulai terbiasa memilah sampah dari rumah dan terus mengingatkan dan membantu warga lainnya agar semua berjalan lancar.
Dirinya berharap program ini dapat terus berjalan secara konsisten dan tidak kembali pada kebiasaan lama membuang sampah tanpa pemilahan.
"Semoga semua warga tetap berkomitmen. Ini bukan hanya untuk lingkungan yang bersih, tetapi juga untuk masa depan anak cucu kita," katanya.





