Menelusuri Museum Wajakensis yang Merekam Peradaban Manusia di Tulungagung
Mujib Anwar April 20, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Museum Daerah Kabupaten Tulungagung atau yang dikenal sebagai Museum Wajakensis menjadi salah satu pusat pelestarian sejarah dan budaya penting di Jawa Timur. 

Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang merekam perjalanan panjang peradaban manusia di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

Museum Wajakensis merupakan museum umum milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat. 

Berdasarkan data dari museum.kemenbud.go.id, museum ini terdaftar secara resmi dalam Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) 35.04.K.04.0153 dan termasuk dalam kategori museum tipe C.

Keberadaan museum ini tidak lepas dari banyaknya temuan benda cagar budaya di kawasan Tulungagung, khususnya di sekitar situs percandian. 

Artefak-artefak tersebut menjadi dasar penting bagi pendirian museum sebagai tempat penyimpanan sekaligus pelestarian sejarah lokal.

Sebelum berdiri sebagai museum, benda-benda bersejarah tersebut telah lebih dulu dikumpulkan sejak masa pemerintahan Bupati pertama Tulungagung, R.M.A. Sosrodiningrat, sekitar tahun 1856–1864. 

Pada masa itu, koleksi disimpan di ruang kaca di Pendopo Kongas Arum sebagai bentuk upaya awal pelestarian.
Seiring bertambahnya jumlah koleksi, ruang penyimpanan di pendopo tidak lagi memadai. 

Kondisi ini mendorong pemindahan koleksi ke bangunan khusus museum yang kemudian resmi didirikan pada akhir tahun 1996.

Baca juga: Museum Terbuka Megalitik Bondowoso, Jejak Warisan Manusia Prasejarah yang Masih Terjaga

Awal Berdirinya Museum Wajakensis

Museum Wajakensis dibangun sebagai jawaban atas kebutuhan akan tempat yang lebih layak untuk menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah. 

Bangunan museum ini berlokasi di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, yang dikenal sebagai kawasan dengan potensi cagar budaya yang tinggi.

Dilansir dari laman resmi Wonderful Indonesia, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai pusat edukasi yang memperkenalkan sejarah, arkeologi, serta budaya masyarakat Tulungagung kepada publik.

Nama “Wajakensis” sendiri diambil dari penemuan fosil manusia purba di wilayah Tulungagung Selatan, yaitu Wajak 1 dan Wajak 2. 

Fosil tersebut kemudian dikenal sebagai Homo Wajakensis, yang menjadi salah satu ikon penting dalam koleksi museum.

Sejak awal berdirinya, museum ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mampu menghubungkan masyarakat dengan sejarah masa lalu melalui berbagai koleksi yang dipamerkan.

Koleksi dan Peran Edukatif Museum

Museum Wajakensis menyimpan berbagai jenis koleksi yang terbagi dalam dua kategori utama, yaitu arkeologika dan etnografika. 

Koleksi arkeologika meliputi arca, batu candi, hingga prasasti, sedangkan koleksi etnografika mencakup alat-alat tradisional yang digunakan masyarakat pada masa lampau.

Salah satu koleksi unggulan museum ini adalah replika Homo Wajakensis yang menjadi simbol penting dalam kajian evolusi manusia di Indonesia. 

Kehadiran koleksi tersebut memperkuat peran museum sebagai sarana edukasi sejarah manusia purba.

Selain sebagai tempat penyimpanan, museum ini juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan pembelajaran. 

Dikutip dari Pustaka Jawatimuran, keberadaan museum diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan budaya sekaligus mendorong partisipasi dalam pelestariannya.

Museum ini juga menjadi destinasi wisata edukatif yang terbuka bagi pelajar dan masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat sejarah lokal Tulungagung.

Baca juga: Mengungkap Sejarah Museum Tembakau Jember, Jejak Panjang Komoditas Unggulan Daerah yang Mendunia

Patung Dewi Parwati, salah satu koleksi Museum Wajakensis Tulungagung yang tidak diketahui lokasi penemuan dan tahunnya, Selasa (24/11/2020).
Patung Dewi Parwati, salah satu koleksi Museum Wajakensis Tulungagung yang tidak diketahui lokasi penemuan dan tahunnya, Selasa (24/11/2020). (TRIBUNJATIM.COM/DAVID YOHANES)

Perkembangan dan Tantangan Museum

Seiring waktu, Museum Wajakensis terus berkembang sebagai pusat informasi sejarah daerah. 

Berbagai kegiatan edukatif dan pameran pernah diselenggarakan, termasuk pameran tentang manusia purba dan evolusi manusia yang melibatkan kerja sama dengan lembaga nasional.

Namun, museum ini juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan ruang. 

Diketahui, jumlah koleksi yang mencapai ratusan membuat tidak semua benda dapat dipamerkan secara optimal.

Sebagian koleksi bahkan harus disimpan di gudang karena keterbatasan ruang pamer yang ada. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam upaya maksimalisasi fungsi museum sebagai sarana edukasi.

Meski demikian, Museum Wajakensis tetap memiliki peran penting sebagai penjaga warisan sejarah dan budaya Tulungagung. 

Keberadaannya menjadi bukti nyata upaya pelestarian masa lalu sekaligus sarana pembelajaran bagi generasi masa kini dan mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.