TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Maraknya pembakaran sampah di wilayah Denpasar dan Badung beberapa waktu terakhir berdampak terhadap gangguan kesehatan, khususnya pernapasan hingga penyakit paru-paru kepada anak-anak.
"Rumah sakit kami kasus yang terbanyak itu sebetulnya adalah kasus obgyn dan anak. Untuk di anak sendiri memang salah satunya ada pneumonia."
"Tapi saya kira kaitannya dengan sampah, mungkin pneumonia ini sudah ada sejak sebelum-sebelumnya," ujar Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi, usai kegiatan FGD dengan Media Meningkatkan Literasi Publik Tentang Tumor Otak, pada Senin 20 April 2026.
Baca juga: Ditemukan Karung Sampah di Jalur Nasional, Warga Resah Bali Barat Jadi Tempat Buang Sampah Liar
Namun ia belum dapat memastikan bahwa peningkatan kasus pneumonia pada anak ini akibat tren maraknya aksi bakar sampah.
"Jadi saya tidak bisa buktikan secara langsung apakah tren sampah ini menyebabkan kasus pneumonia semakin bertambah karena pneumonia sendiri banyak faktor yang menyebabkan, bukan hanya terkait dengan polusi tetapi di sana juga ada bakteri dan infeksi yang lainnya begitu," imbuhnya.
Akan tetapi diakuinya bahwa di RS Kasih Ibu Kedonganan saat ini kasus pneumonia pada anak memang cukup sering (menerima pasien dengan kasus Pneumonia) dan tinggi.
Dan kaitannya dengan maraknya bakar sampah ini ia khawatir akan memperburuk kondisi anak yang mengalami Pneumonia itu sendiri.
Baca juga: BEM Universitas Udayana Akan Ajukan 5 Tuntutan Aksi Bali Darurat Sampah
"Yang kami takutkan semakin memperparah kondisi pasien ya dan meningkatkan kasus pneumonia itu sendiri. Peningkatannya kalau saya lihat sih belum terlalu signifikan untuk akhir-akhir ini," jelasnya.
"Kondisi bakar sampah juga saya kira baru-baru ini terjadi sementara kasus pneumonia sendiri memang sudah tinggi dari sebelumnya. Jadi saya kira belum ada korelasi yang cukup signifikan terkait dengan dua hal tersebut," sambung dr. Ayu Utari.
Disinggung berapa besar dampak terhadap kesehatan jika kita sering terkena atau menghirup udara dari polusi asap pembakaran sampah?
Ia menyampaikan bahwa itu sangat berbahaya karena sampah ini kan jenisnya banyak dan dibakar menjadi satu membuat bahaya dan kurang bagus jika sering menghirup atau terkena paparan asap pembakaran sampah.
Baca juga: Pembuangan Sampah Organik dari Denpasar ke TPA Suwung Hanya untuk Desa yang Tak Punya TPS3R
Selain mengakibatkan pneumonia ada beberapa penyakit lainnya yang berdampak terhadap kesehatan paru-paru.
Mengenai usia anak yang rentan terkena pneumonia, dr. Ayu Utari menyampaikan sejak bayi pun bisa terkena masalah kesehatan satu ini.
"Saya lihat dari bayi, jadi bayi usia mungkin sekitar 6 bulan itu sudah cukup tinggi kasusnya sampai dengan anak-anak di bawah 5 tahun. Itu yang paling sering apa namanya dan ini banyak faktor yang mempengaruhi, tidak hanya faktor infeksi bakteri itu sendiri tetapi memang lingkungan dan higienitas juga mungkin bisa berpengaruh ya," tuturnya.
Biasanya untuk kasus pneumonia yang ringan masih bisa ditangani dengan rawat jalan dan dengan pengobatan dari dokter spesialis anak.
Akan tetapi untuk kasus yang sudah berat pihaknya akan merekomendasikan untuk dilakukan rawat inap bahkan tidak jarang juga kasus yang sudah cukup berat akan di rawat di ruang intermediate ataupun ruang intensive care, khususnya kasus-kasus yang secara oksigen kadar oksigen di dalam tubuhnya sudah berkurang.
"Jadi pasien akan diberikan oksigen tambahan karena pneumonia sendiri menyerang paru-paru ya pada pasien, tetapi kasus yang biasa kami tangani di sini cenderung kasus yang tidak membutuhkan dengan perawatan intensif. Jadi cukup untuk dirawat di ruang biasa," ucapnya.
Disinggung apakah anak-anak datang ke RS dan mengeluhkan terkena gangguan pernapasan dampak dari asap polusi bakar sampah?
dr. Ayu Utari mengatakan sejauh ini secara langsung masuk ke rumah sakit akibat asap bakar sampah tidak pernah dengar.
"Tapi kembali lagi untuk kasus yang ada di RS Kasih Ibu Kedonganan saya tidak bisa sampaikan bahwa sampah berkontribusi langsung terhadap peningkatan pneumonia di sini."
"Jadi kami tidak bisa kembali lagi tidak bisa sampaikan hal tersebut berkorelasi langsung ya terkait dengan maraknya kasus pneumonia dengan tren sampah saat ini begitu," urainya.
"Yang menyampaikan secara langsung saya tidak dengar tetapi mungkin secara penelitian saya tidak tahu dari dokter spesialis anak barangkali memang ada kaitannya karena salah satu penyebab pneumonia sendiri kan memang polusi, polusi lingkungan," sambung dr. Ayu Utari. (*)