BANGKAPOS.COM -- Jejak moncer Mossad Kennedy Refra, anak John Kei dikabarkan siap maju sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maluku Tenggara.
Nama dan sosoknya diduga bakal menggantikan posisi Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.
Nus Kei tewas usai ditusuk di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: Sosok Dani Hollat, Kematiannya 2019 Lalu Diduga Pemicu Dendam Hendrikus Atlet MMA Tewaskan Nus Kei
Mossad Kennedy Refra atau yang dikenal dengan inisial MKR disebut-sebut telah mendapat dukungan dari sejumlah pemilik suara menjelang Musda.
Dia juga telah tiba di Maluku Tenggara untuk mempersiapkan diri mengikuti proses Musda.
Dalam video yang beredar, MKR tampak disambut puluhan pendukung saat tiba di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur.
Di bagian lain, Sekretaris DPD Partai Golkar Maluku, Anos Jeremias, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan pencalonan MKR karena proses pendaftaran belum dibuka.
“Kalau terhadap itu, nanti ditanyakan ke panitia karena belum ada laporan. Memang ada informasi, tapi dia belum daftar, jadi kami belum bisa berkomentar,” kata Anos saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan, kepastian calon baru dapat diketahui setelah pendaftaran resmi dibuka oleh panitia Musda.
Saat ini, pelaksanaan Musda Partai Golkar Maluku Tenggara masih ditunda menyusul meninggalnya Ketua DPD Golkar setempat, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.
“Kalau sudah buka pendaftaran dan ada yang mendaftar, baru kita bisa tahu siapa saja yang akan maju,” ujar Anos.
Baca juga: Sepak Terjang Hendrikus Rahayaan, Petarung MMA Tewaskan Nus Kei Dituding Otak Pembunuhan Dani Hollat
Terkait kasus penikaman yang menewaskan Nus Kei, polisi telah menangkap dua terduga pelaku.
Hingga kini, penyidik masih mendalami motif di balik kejadian tersebut.
Mossad Kennedy Refra (MKR) adalah putra dari John Refra (John Kei) dan Sophia Eden Leatemia.
Dia lahir di Jakarta pada 18 Mei 1999.
Mossad dikenal sebagai sosok advokat yang aktif dalam kancah politik di Maluku Tenggara.
Berdasarkan laporan, Mossad Kennedy Refra menempuh jalan yang berbeda dengan ayahnya.
Mossad juga berkiprah sebagai atlet muay thai profesional.
John Kei memiliki nama lengkap John Refra Kei.
Ia merupakan pria kelahiran Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara.
John Kei terkenal dengan julukan Godfather of Jakarta.
Hal tersebut tidak lepas dari catatan kriminal yang ia miliki.
John Kei disandingkan dengan mafia di Italia dan diberikan gelar 'Godfather of Jakarta' karena bisnisnya seperti mafia.
Perjalanan hidup John Kei dimulai saat usia 18 tahun ketika ia merantau ke Surabaya.
Selama di Surabaya, John Kei menggelandang dan ditolong untuk membantu Hamba Allah di sebuah gereja.
Dirinya kemudian memutuskan untuk pindah menuju ibu kota, tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat.
John Kei dikenal sebagai debt kolektor melalui organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI).
Namanya makin meroket di komunitas underground Jakarta setelah kematian Basri Sangaji yang merupakan pesaingnya.
Kematian Basri Sangaji sering dikaitkan dengan John Kei, hal ini karena antara kelompok John Kei dengan Basri Sangaji sempat bentrok.
John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan Basri Sangaji.
Nama John Kei tersorot media saat dirinya tertangkap karena kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Stell Mandiri.
Pembunuhan
Kasus John Kei yang paling menghebohkan yaitu pembunuhan berencana bos Sanex Stell Mandiri, Tan Harry Tantono 26 Januari 2012.
Tan Harry Tantono ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kawasan Jakarta Pusat.
Baca juga: Gaji ke-13 PNS, PPPK, Polri-TNI Kapan Cair? Cek Jadwal dan Besarannya Tahun 2026
John Kei terbukti melanggar Pasal 340 Juncto Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Pria kelahiran 10 September 1969 divonis 12 tahun penjara pada 27 Desember 2012.
John Kei mengajukan banding. Namun, dirinya kalah dalam persidangan dan justru hukumannya ditambah menjadi 16 tahun penjara.
Dia lalu ditahan di penjara Nusakambangan, Cilacap.
Selama 3 bulan, John Kei ditempatkan di penjara dengan keamanan khusus, CCTV mengintai 24 jam dan dilarang berinteraksi.
Dia juga hanya bisa keluar dari sel penjara selama satu jam tiap harinya.
Lima tahun mendekam di penjara, John Kei sempat mengaku bertaubat.
Dia pun aktif dalam kegiatan keagamaan selama di penjara. Hal tersebut diungkapkannya melalui acara Kick Andy Show.
Bebas Bersyarat
John Kei bebas bersyarat pada Kamis (26/12/2019).
Hal ini berarti dia hanya menjalani masa hukuman penjara 7 tahun 10 bulan.
Sesaat setelah bebas, John Kei sempat mengaku ingin berubah.
Dia ingin hidup tenang bersama dengan keluarganya.
Masuk Partai
Sebulan setelah bebas, John Kei bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Rabu (15/1/2020).
Saat itu, John Kei diharapkan bisa membantu PKPI di Indonesia Timur.
Ditangkap Lagi
John Kei kembali ditangkap 6 bulan setelah keluar dari penjara oleh Polda Metro Jaya.
Polda Metro Jaya menggerebek markas John Kei di perumahan Tytyan Indah Utama, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (21/6/2020).
Penggerebekannya dilakukan setelah terjadi kasus penembakan, kericuhan, dan pembacokan di perumahan elite Green Lake City, Tangerang.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus menyebutkan John Kei ditangkap bersama dengan anak buahnya.
Total 25 orang ditangkap polisi dalam penggerebekan ini.
Polisi juga mengamankan 28 buah tombak, 24 buah senjata tajam, 2 buah ketapel panah, 3 buah anak panah, 2 buah stik bisbol, dan 17 buah ponsel.
John Kei pernah nyaris membunuh Nus Kei lantaran masalah penjualan tanah.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana mengungkap John Kei dan Nus Kei masih memiliki ikatan keluarga.
Motif penyerangan yang dilakukan oleh kelompok John Kei terhadap Nus Kei bermula ketidakpuasan pembagian uang hasil penjualan tanah.
"Dilandasi berdasarakan permasalahan pribadi antara saudara John Kei dengan Nus Kei. Masalahnya adanya ketidak puasan pembagian uang hasil penjualan tanah," kata Nana.
Baca juga: Profil Nus Kei Tewas Ditikam OTK, Siapanya John Kei? Kronologi dan Rekam Jejaknya di Kasus Blowfish
Kemudian permasalahan semakin meruncing dengan keduanya saling melempar ancaman.
Terjadi dua aksi penyerangan oleh kelompok John Kei pada hari, Minggu (21/6/2020).
Penyerangan pertama berlokasi di wilayah Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat sekitar pukul 11.30 WIB.
Aksi penyerangan yang dilakukan oleh sekitar 7 orang tersebut menewaskan 1 orang dengan sejumlah luka bacok, serta 1 orang lainnya mengalami luka di bagian tangan.
Penyerangan kedua terjadi di kediaman Nus Kei di Green Lake City, Cluster Australia No 52, Cipondoh, Kota Tangerang pada pukul 12.25 WIB.
Mereka melakukan pengrusakan terhadap rumah yang ditempati Nus Kei. Pintu rumah Nus Kei didobrak, kaca jendela dipecahkan menggunakan barbel.
Selain itu merusak ruang tamu dan kamar tidur menggunakan parang. Pelaku juga merusak satu kendaraan milik Nus Kei dan satu milik tetangganya.
Nana melanjutkan, saat itu kelompok tersebut mencari Nus Kei. Namun diketahui yang bersangkutan sedang tidak berada di rumahnya.
"Yang ada istri dan anak-anaknya. Mereka berusaha meninggalkan tempat saat pengrusakan sedang berlangsung."
"Kemudian setelah melakukan pengrusakan dan tidak ditemukan orang yang dicari. Kelompok ini keluar," beber Nana.
Saat meninggalkan kompleks perumahan itu, kelompok John Kei kembali melakukan aksi penyerangan terhadap orang-orang di kawasan tersebut.
"Melakukan pengerusakan terhadap gerbang perumahan dan membuang tembakan sebanyak 7 kali."
"Sehingga menyebabkan 1 orang security tertabrak dan satu pengemudi ojek online tertembak di jempol kaki sebelah kanan," tuturnya.
Saat ini sebanyak 30 orang terduga pelaku termasuk John Kei telah diamankan oleh pihak kepolisian dan akan dilakukan pendalaman.
John Kei pernah berbagi kisah dengan Andy Noya melalui saluran YouTube Kick Andy Show pada Jumat (12/4/2019).
Pada kesempatan tersebut, John Kei menceritakan bagaimana dirinya bisa berubah dari pembunuh bengis menjadi sosok yang membawa perubahan satu penjara.
John Kei mengakui sejak usia 22 tahun dirinya sudah mulai membunuh orang.
Bahkan sang Godfather of Jakarta ini menegaskan tidak ada penyesalan setelah menghilangkan nyawa orang lain.
Menurut John Kei, dirinya yang saat itu justru merasa lebih hebat jika sudah berhasil membunuh orang.
Baca juga: Gaji ke-13 PNS, PPPK, Polri-TNI Kapan Cair? Cek Jadwal dan Besarannya Tahun 2026
Namun, John Kei menjelaskan jika dirinya tidak akan melukai orang lain jika orang tersebut tidak melukai dirinya.
Saat Andy bertanya pada John Kei soal alasan sang pembunuh sadis ini berubah, ia pun menceritakannya.
Bermula saat John Kei ditempatkan di penjara khusus.
John Kei ditempatkan di dalam satu kamar dengan kamera yang mengintai sepanjang waktu.
Selain semua aktivitasnya terpantau oleh kamera, ia juga dilarang berinteraksi dengan napi lainnya.
Ia juga dibatasi untuk keluar dari sel selama satu jam saja dalam waktu satu hari.
Kunjungan keluarga pun dibatasi di lapas Nusakambangan.
Hal itu harus dialami oleh John Kei selama masa tiga bulan.
Selama itu, awalnya John Kei memberontak dan ingin keluarkan.
"Aku dengar bisikan, kamu ngapain teriak-teriak sampai tuli tidak ada gunanya. Bener saya denger sendiri," cerita John Kei pada Andy.
John Kei pun merenung dan ingin mati masuk surga tidak neraka, hal ini membuat dirinya semakin rajin membaca alkitab.
Ia menegaskan semua terserah pada semua orang menilai perubahan dirinya.
"Orang mau ngomong apa itu urusan mereka tapi saya punya keyakinan dan saya yakin sampai mati saya melayani Tuhan," tegas John Kei.
John Kei sudah mempersiapkan jika keluar tidak akan tergoda.
"Kitab Injil Matius ayat 33 itu meyakinkan saya, kalau saya melayani Tuhan, Tuhan nggak mungkin lupa saya, Tuhan akan memberikan lebih dari yang aku butuhkan. Waktu yang akan membuktikan," jelas John Kei.
Penikaman Nus Kei terjadi tidak lama setelah ia tiba dari Jakarta.
Saat berjalan menuju pintu keluar bandara, Nus Kei tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal menggunakan senjata tajam.
Hal ini diungkap oleh Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi.
“Kejadiannya itu terjadi di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun."
"Korban yang baru saja tiba dari Jakarta dengan pesawat, diserang oleh orang tidak dikenal menggunakan senjata tajam," kata Kombes Rositah, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: Lebaran Haji Idul Adha 2026 Kapan? Ini Jadwal Versi Muhammadiyah dan Pemerintah dan Tanggal Libur
Kronologi tersebut juga telah dibenarkan oleh Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono.
Ia menjelaskan, Nus Kei tiba di bandara sekitar pukul 10.45 WIT menggunakan pesawat Lion Air JT 880 dari Bandara Pattimura, Ambon.
"Pukul 10.45 WIT, pesawat Lion Air JT 880 (yang ditumpangi Nus Kei) landing di Bandara Udara Karel Sadsuitubun dari Bandara Pattimura Ambon," ujarnya.
Setelah mendarat, Nus Kei berjalan menuju pintu keluar untuk menemui keluarga. Namun, situasi berubah drastis ketika seorang pria berjaket merah dan mengenakan masker mendekati korban.
"Selang beberapa menit, datang seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan menggunakan masker langsung menikam Saudara Almarhum Agrapinus Rumatora," kata Dave.
Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius.
"Mengalami empat luka tusuk di bagian dada kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang," katanya.
Kakak korban, Antonius Rumatora, sempat berupaya menghentikan pelaku. Namun, pelaku melakukan perlawanan dan melarikan diri dari lokasi.
Korban yang terluka sempat mencoba menyelamatkan diri dengan berlari ke dalam area bandara.
"Saudara Agrapinus Rumatora sempat lari ke dalam bandara namun terjatuh di pintu keluar bandara dan sempat mendapat pertolongan dari petugas bandara Karel Sadsuitubun," kata Dave.
Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
"Pukul 11.44 WIT, Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal dunia oleh dr. Irene Ubro akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Surya.co.id/TribunSumsel.com/Bangkapos.com)