Tokyu Jepang Tetap Dukung Perkeretaapian Indonesia Meski Terhambat Pandemi
Eko Sutriyanto April 20, 2026 10:38 PM

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kereta bekas Jepang seri 8000 dan 8500 milik Tokyu Jepang ternyata memiliki peran besar dalam modernisasi transportasi kereta di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Impor kereta bekas Tokyu antara 2005-2009 dan sempat ingin berulang tetapi terhambat oleh Corona antara 2019-2022.

“Semua rencana berantakan gara-gara Corona. Tapi kita tetap dukung Indonesia dan tetap melakukan kerjasama yang baik dengan pihak Indonesia, khususnya dalam mendukung suku cadang dan fasilitas kereta api lainnya,” papar Yoshito Kadota, General Manager Tokyu Railways khusus kepada Tribunnews.com minggu lalu..

Di balik kesuksesan tersebut, terdapat perjalanan panjang penuh tantangan—mulai dari proses ekspor, pelatihan teknisi, hingga dukungan suku cadang—yang menunjukkan eratnya kerja sama Jepang dan Indonesia di bidang perkeretaapian.

Saat memasukkan kereta api bekas Tokyu ke Jakarta, Tokyu Construction juga sempat membangun Depo Kereta api di Lebakbulus Jakarta Selatan.

“Saya juga ke sana melihat Depo tersebut  saat pembangunan,” papar Fellow Kepala Engineering Tokyu Construction, Masafumi Ota, juga kepada Tribunnews.com yang mengaku sempat ke Bandung dan kota lain di Indonesia.

Baca juga: Gempa M7,5 Jepang Hari Ini Picu Peringatan Tsunami 80 Cm di Tohoku dan Hokkaido

Bahkan Ota merasa nyaman enak sekali berada di Bandung karena sejuk dibandingkan Jakarta yang panas, tambahnya sambal tersenyum.

Dari Atap Kereta Penuh Penumpang ke Transportasi Modern

Sekitar tahun 2004, perwakilan Tokyu mengunjungi Jakarta dan menemukan kondisi transportasi yang memprihatinkan.

Pada jam sibuk pagi hari, penumpang bahkan sampai naik ke atap kereta karena kondisi gerbong yang tidak layak—tanpa AC dan pintu yang tidak dapat tertutup dengan baik.

Melihat kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mengirimkan kereta bekas dari Jepang guna meningkatkan kualitas layanan transportasi di Indonesia.

Menariknya, proyek ini tidak berjalan melalui perusahaan dagang seperti biasa.

Tokyu memilih bekerja langsung dengan pihak Indonesia dengan melibatkan grupnya sendiri, termasuk Tokyu Car (sekarang J-TREC) dan Tokyu Construction.

“Sebenarnya ada pihak perusahaan Jepang yang mau membantu tetapi mengundurkan diri karena dianggap tidak menguntungkan dia,” papar Ota lagi mengenang masa lalu.

Proses ini tidak mudah.

Banyak dokumen harus disiapkan, termasuk sertifikat asal dan kontrak jaminan.

Bahkan, permintaan mendadak dari pihak Indonesia sering terjadi.

Namun berkat kerja sama yang solid, proyek ini berhasil berjalan dan bahkan membuka peluang bisnis lain, seperti proyek MRT Jakarta.

Transfer Teknologi dan Pelatihan Teknis

Salah satu kunci keberhasilan adalah transfer teknologi. Setiap pengiriman kereta disertai pelatihan bagi teknisi Indonesia di Jepang.

Teknisi Indonesia belajar langsung di pabrik Tokyu mengenai perawatan, termasuk cara menjaga pintu tetap berfungsi dengan baik.

Selain itu, teknisi Jepang juga terus memberikan dukungan teknis setelah kereta beroperasi di Indonesia.

“Setiap tahun, ketika sekitar 4 orang Indonesia datang ke Jepang untuk melakukan pemeriksaan kendaraan sebelumnya, pelatihan mengenai kendaraan juga dilakukan bersama-sama.Berlangsung selama 5 tahun jadi total ya sekitar 20 orang yang pernah ke Jepang sini,” ungkap Kadota.

Kendala Suku Cadang

Dalam perjalanan waktu, muncul kendala besar terkait suku cadang. Pemerintah Indonesia melarang impor komponen elektronik bekas, sehingga pengiriman suku cadang menjadi sulit.

Akhirnya, hanya suku cadang baru untuk pemeriksaan berkala yang dapat dikirimkan, itupun melalui proses yang memakan waktu hingga dua tahun.

Rencana Besar yang Gagal karena Pandemi

Tokyu sebenarnya memiliki rencana besar untuk mengirim tambahan sekitar 200 unit kereta seri 8500 ke Indonesia.

Bahkan pelatihan sudah dilakukan untuk mendukung rencana tersebut. Namun, pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menggagalkan seluruh rencana tersebut.

Akibatnya, kereta yang sudah pensiun di Jepang tidak dapat disimpan dan akhirnya harus dibongkar dan dihancurkan.

Masa Depan: Dari Kereta ke Pembangunan Kota

Meski demikian, kerja sama Jepang–Indonesia di bidang transportasi belum berakhir.

Tokyu melihat peluang besar di masa depan, terutama dalam proyek MRT Jakarta fase berikutnya serta pengembangan kota berbasis transportasi (Transit Oriented Development/TOD).

Jakarta dinilai sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan pesat di Asia Tenggara, sehingga peluang kerja sama masih sangat terbuka.

Selama hampir 20 tahun, kereta seri 8000 dan 8500 menjadi simbol perubahan Jakarta—dari kondisi transportasi yang penuh sesak hingga menjadi sistem komuter yang lebih modern dan tertata.

Ke depan, kerja sama antara Jepang dan Indonesia di bidang transportasi diperkirakan akan terus berkembang, tidak hanya dalam bentuk pengiriman kereta, tetapi juga dalam pembangunan kota secara menyeluruh.

Diskusi  beasiswa dan loker  di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.