Jokowi Tanggapi Santai Jusuf Kalla soal Karier Politik: Saya Orang Kampung
Arie Noer Rachmawati April 21, 2026 09:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapan santai saat dimintai komentar terkait pernyataan Jusuf Kalla mengenai peran dalam perjalanan karier politiknya.

Saat ditemui di Solo pada Senin (20/4/2026), Jokowi merespons singkat dengan menyebut dirinya hanyalah orang kampung.

Pernyataan itu disampaikan sebagai jawaban atas klaim Jusuf Kalla yang menyebut dirinya memiliki andil besar dalam kesuksesan Jokowi hingga menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Jokowi menegaskan dirinya berasal dari latar belakang sederhana dan tidak ingin memperbesar polemik atas pernyataan tersebut.

"Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung," ujar Jokowi singkat, dikutip dari Kompas.com.

Selain soal peran politik, Jokowi juga menanggapi dengan tenang pernyataan Jusuf Kalla yang sebelumnya sempat menyinggung kekhawatiran mengenai masa depan negara di bawah kepemimpinannya saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Menanggapi kritik tersebut, Jokowi enggan memberikan penilaian pribadi dan menyerahkan sepenuhnya kepada persepsi publik.

"Yang menilai bukan saya," ucapnya santai.

Baca juga: Apa itu Termul? Dilontarkan Wapres ke-12 Jusuf Kalla di Tengah Kisruh Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Pernyataan Jusuf Kalla

Sebelumnya, dalam sebuah klarifikasi di kediamannya pada Sabtu (18/4/2026), Jusuf Kalla menyinggung kembali sejarah politik mereka.

JK, sapaan akrap Jusuf Kalla mengklaim ia memiliki andil besar dalam memboyong Jokowi dari Solo ke Jakarta untuk bertarung di Pilkada DKI Jakarta.

"Kasih tahu itu, Jokowi jadi presiden karena saya," ujar JK sebagaimana dikutip dari KompasTV.

Selain itu, JK juga memberikan klarifikasi terkait keterlibatan namanya dalam pusaran isu ijazah Joko Widodo.

Ia menegaskan posisinya tetap netral dan memandang pernyataan-pernyataannya selama ini sebagai bentuk nasihat, bukan perlawanan politik.

Hingga saat ini, hubungan antara kedua tokoh bangsa yang pernah berpasangan pada periode 2014-2019 tersebut terus menjadi sorotan publik.

Terutama terkait dinamika komunikasi politik pasca-masa jabatan mereka berakhir.

Baca juga: Isi Kritik Jusuf Kalla soal Kebijakan WFH untuk Hemat BBM, Stafsus Wapres Buka Suara

JK Soroti Isu Ijazah

Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 ini juga prihatin dengan kasus ijazah palsu Jokowi yang terus berlarut-larut.

Ia heran dengan Jokowi karena tak kunjung menunjukkan ijazah aslinya.

Menurut Jusuf Kalla, keengganan Jokowi menunjukkannya justru membuat perselisihan terjadi di masyarakat akibat isu ijazah palsu tersebut.

"Ini sudah dua tahun rakyat berkonflik, bertentangan, saling mengadu, saling berteriak-teriak. Sudahlah Pak Jokowi, kasih lihat ijazah saja," kata Jusuf Kalla dalam konferensi persnya pada Sabtu (18/4/2026), dikutip dari kompas.tv.

"Sudahlah, Pak, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa, sih? Dan saya yakin itu asli, kenapa tidak kasih lihat? Membiarkan masyarakatnya berkelahi sendiri, saling memaki, (selama) dua tahun," sambungnya.

Jusuf Kalla mengaku yakin ijazah Jokowi asli. 

Namun, ia prihatin isu ijazah palsu yang terkesan dibiarkan berlarut-larut menimbulkan friksi di masyarakat.

Jokowi sendiri menegaskan dirinya tidak keberatan menunjukkan ijazah asli.

Namun, ia menekankan hal itu hanya akan dilakukan dalam forum hukum resmi, bukan di ruang publik.

“Kalau diminta hakim, saya siap tunjukkan semua. Dari SD, SMP, SMA sampai S1,” ujarnya, Jumat (10/4/2026), dikutip dari Tribun Solo.

Jokowi menegaskan pengadilan adalah tempat yang tepat untuk membuktikan kebenaran.

Ia menilai polemik yang berkembang di ruang publik cenderung sarat spekulasi.

Baca juga: Jokowi Tolak Tunjukkan Ijazahnya ke Publik saat Diminta Jusuf Kalla

“Forumnya harus jelas, yaitu di pengadilan,” tegasnya.

Jokowi juga mengimbau semua pihak untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya persoalan ini ke jalur hukum.

Ia mengingatkan dalam prinsip hukum, pihak yang menuduhlah yang harus membuktikan.

“Yang menuduh yang harus membuktikan. Bukan saya yang diminta menunjukkan,” ujarnya.

Menurutnya, jika logika dibalik, maka siapa pun bisa menuduh tanpa dasar dan meminta pihak yang dituduh membuktikan sebaliknya.

“Itu bisa jadi kebalik-balik,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.