Kisah Alayanto Warga Dusun I Air Ibul Bangka Barat Susah Cari Sinyal hingga Terpaksa Panjat Pohon
Ardhina Trisila Sakti April 21, 2026 10:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Warga Dusun I, Air Ibul, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung belum sepenuhnya merasakan kemajuan teknologi komunikasi hingga hari ini, Selasa (21/4/2026) 

Demi mendapatkan sinyal telepon seluler hingga internet. Setiap hari warga harus memanjat pohon belasan meter, hingga mencari dataran tinggi lainnya.

Hal itu disampaikan, Alayanto (53) warga Dusun I, Air Ibul, Desa Belo Laut, saat ditemui Bangkapos.com, Senin (20/4/2026) sore di rumahnya.

Sore itu, Alayanto bersama satu rekannya baru saja pulang bekerja sebagai petani kelapa sawit.

Ia langsung duduk di belakang rumah sembari mengeluarkan telepon genggam dari kantongnya untuk melakukan panggilan. 

Namun, beberapa kali percobaan panggilan dilakukan tak satu pun panggilan tersambung. 

Dia berpindah-pindah tempat di sekeliling halaman rumah mencari sinyal.

Hingga akhirnya naik ke atas pohon rambutan yang berada di samping rumahnya. 

Yang dicari bukan buah-buahan di atas pohon. Tetapi sinyal telepon.

Ketika memanjat, ia terlihat sedikit kesulitan, sembari menyingsingkan celana dan memegang telepon genggam agar tidak jatuh ke tanah.

Kebiasan memanjat pohon untuk mencari sinyal sudah biasa dilakukan Alayanto.

Bahkan, bukan hanya pohon rambutan, tetapi pohon durian dan pohon karet yang jauh lebih tinggi pernah ia panjat.

"Di sini sinyalnya susah benar. Kalau kami ingin telepon itu tadi, harus manjat pohon, hingga ke lapangan bola mencari sinyal. Itu juga masih putus-putus sinyalnya tidak normal benar," keluh Alayanto kepada Bangkapos.com, Senin (20/4/2026)

Dia mengatakan, kondisi susahnya sinyal telekomunikasi di Dusun I, Air Ibul, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, telah bertahun-tahun terjadi. 

"Kondisi ini sudah dari tahun 1990-an, sampai sekarang 2026 masih susah sinyal. Setiap hari memanjat pohon kalau ingin telepon. Seperti tadi, saya lakukan. Kadang manjat pohon durian, karet, dan rambutan. Karena sinyal di sini susah benar. Ketika sudah manjat juga, kadang ada dan tidak sinyalnya masih putus-putus tidak merata," keluhnya.

Diketahui, lokasi Dusun I, Air Ibul, Desa Belo Laut, jaraknya memang jauh dari pusat Kecamatan Mentok.

Menuju dusun ini harus sedikit menghela nafas panjang. Karena membutuhkan perjuangan ekstra, melalui jalanan berbatuan krikil, kemudian berlanjut dengan jalan tanah merah yang licin, penuh lumpur. Sehingga membuat kendaraan mudah tergelincir.

Jalanan itu, membentang di tengah hamparan luasnya perkebuhan sawit milik PT GSBL dengan panjang jalan berkisar 8 kilometer.

"Kalau orang luar menghubungi kami di kampung ini susah. Tetapi kalau kami yang menghubungi bisa, soalnya kami yang mencari sinyalnya. Kayak tadi, memanjat pohon. Itulah cara kami mencari sinyal," katanya.

Selain itu, untuk mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp juga perlu waktu berjam-jam agar pesan dapat terkirim.

"Kalau pesan WhatsApp misalnya kita kirim pukul 14.00 WIB sore. Pukul 22.00 WIB hingga 23.00 WIB baru masuknya pesannya," terangnya.

Tak hanya sinyal telepon seluler, sinyal radio juga sering dicari Alayanto saat memanjat pohon. Sembari menelpon untuk dapat berkomunikasi dengan penyiar radio.

"Iya saya nelpon penyiar radio juga dari atas pohon. Karena saya hobi mendengarkan radio malam hari, mereka juga mengatakan hati-hati saat berada di atas sana," ceritanya.

Alayanto meminta kondisi susahnya sinyal di dusunnya dapat segera berakhir. Menurutnya, kasihan masyarakat desa, apabila kondisi seperti ini terus menerus terjadi.

"Jadi kalau bisa kepada pemimpin-pemimpin kita mendegar ini, karena kami sangat membutuhkan sinyal. Apalagi di sini ada SD Negeri juga, jadi anak-anak sekolah itu butuh juga sinyal. Kasihan anak-anak mencari sinyal harus ke lapangan bola, kalau malam-malam," harapnya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.