BANGKAPOS.COM, BANGKA - Aktivitas di SPBU 24.331.69 Selindung Baru, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Senin (20/4/2026) pagi berlangsung padat sejak pukul 05.00 WIB.
Antrean kendaraan, terutama truk dan mobil diesel, sudah mengular bahkan sebelum operasional dimulai.
Suara peluit petugas marshal terdengar bersahut-sahutan mengatur arus kendaraan yang terus berdatangan.
Satu per satu kendaraan bergerak perlahan menuju nosel bertuliskan “Solar”, lalu keluar setelah pengisian selesai. Aktivitas berlangsung tanpa jeda.
Pengawas lapangan SPBU, Taufan, mengatakan antrean mulai terbentuk sejak pukul 05.00 WIB.
Baca juga: Bio Solar Bangka Belitung Diawasi Ketat, Mobil Plat Luar Harus Isi Dexlite
Ia menyebut, stok Bio Solar yang tersedia setiap hari relatif terbatas dan cepat habis.
“Mulai SPBU buka sampai sekitar jam 10 pagi, BBM jenis solar biasanya sudah habis. Stoknya memang terbatas, itu sudah ketetapan dari pemerintah sejak dulu,” ujarnya.
Dalam kurun waktu sekitar 3,5 jam, sebanyak 8.000 liter atau 8 ton solar subsidi habis tersalurkan.
Baca juga: Antrean Pertamax Dex dan Dexlite di Beberapa SPBU Babel Lengang, Jalur BBM Subsidi Ramai
Untuk menjaga ketertiban, pihak SPBU menurunkan petugas marshal guna mengatur antrean agar tidak mengganggu lalu lintas di jalan utama.
“Kami tugaskan marshal supaya antrean tetap tertib dan tidak saling serobot, apalagi ini berada di jalur ramai,” kata Taufan.
Ia menjelaskan, sistem antre sejak pagi merupakan bagian dari mekanisme distribusi yang sudah berjalan lama.
Selain itu, pembatasan pengisian juga diberlakukan sesuai aturan.
“Untuk kendaraan besar maksimal 60 liter per kartu, kendaraan kecil sekitar 30 liter. Sekitar 70 persen yang mengisi itu truk dan kendaraan besar,” jelasnya.
Sementara itu, di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi dalam beberapa hari terakhir, antrean solar subsidi tidak mengalami lonjakan signifikan.
“Sejak kenaikan BBM nonsubsidi, antrean solar relatif stabil, tidak ada peningkatan berarti,” ujarnya.
Namun kondisi berbeda terjadi pada BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
Kenaikan harga berdampak langsung pada penurunan minat beli.
“Penjualan Dexlite dan Pertamina Dex turun sampai 50 persen. Banyak yang mengurangi bahkan batal isi,” ungkap Taufan.
Ia bahkan menyebut ada pengendara yang membatalkan pengisian setelah mengetahui harga terbaru.
“Kemarin ada tiga mobil pribadi yang sudah di nosel, tapi setelah kami informasikan harga baru, mereka langsung batal. Dampaknya langsung terasa,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan situasi tetap kondusif tanpa adanya protes dari masyarakat.
“Alhamdulillah tidak ada yang marah, karena ini memang kebijakan dari pusat secara nasional,” ujarnya.
Penurunan konsumsi BBM non-subsidi juga terlihat pada sektor usaha.
Perusahaan transportasi yang sebelumnya rutin mengisi dalam jumlah besar kini mulai menekan penggunaan.
“Biasanya ada perusahaan isi sampai empat mobil, sekarang tinggal dua. Mungkin mereka mulai efisiensi biaya operasional,” pungkasnya. (Bangka Pos/x1)