Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita masih terjadi di Pasar Manis Ciamis.
Sejumlah pedagang mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan pasokan.
Salah seorang pedagang sembako di Blok A Pasar Manis Ciamis, Tini, mengatakan dirinya sudah tidak menerima distribusi Minyakita sejak sebelum Ramadan.
“Sudah dari sebelum Ramadan, kurang lebih empat bulanan enggak dapat stok. Jadi sekarang sudah enggak jual lagi,” ujar Tini saat ditemui di kiosnya, Senin (20/4/2026).
Ia mengaku sempat mencari informasi ke berbagai pihak terkait distribusi, namun tidak mendapatkan kejelasan.
“Katanya sudah diambil, pendistribusiannya juga enggak jelas. Saya juga enggak tahu syaratnya apa, karena enggak pernah didatangi,” katanya.
Baca juga: Pedagang Menjerit karena Minyakita Hilang dari Pasar Ciamis
Menurut Tini, permintaan Minyakita di pasar masih cukup tinggi, namun distribusi dinilai tidak merata.
“Permintaan mah banyak. Dulu saya bisa dapat 15 sampai 20 karton, terus dibagi ke beberapa toko. Sekarang mah enggak ada sama sekali,” ungkapnya.
Ia menduga distribusi Minyakita kini lebih difokuskan langsung ke konsumen akhir, bukan melalui pedagang dalam jumlah besar.
Akibat kelangkaan tersebut, pedagang kini lebih banyak menjual minyak goreng premium dengan harga yang terus mengalami kenaikan.
Tini menyebutkan, harga minyak goreng berbagai merek sudah naik hingga beberapa kali dalam beberapa waktu terakhir.
“Minyak sudah naik sampai tiga kali. Yang baru juga sudah naik lagi,” katanya.
Karena sudah lama tidak mendapatkan stok Minyakita, akhirnya Tini harus menjual minyak goreng jenis lain dan minyak goreng premium dengan harga yang cukup tinggi.
Untuk minyak goreng non subsidi, harga bervariasi mulai dari Rp18.500 hingga Rp19.000 untuk ukuran 800 mililiter.
Sementara untuk minyak goreng premium kemasan dua liter, harga bisa mencapai Rp47.000 tergantung mereknya.
“Yang dua liter ada yang Rp42.000 sampai Rp47.000, tergantung merek dan stok,” ujarnya.
Meski lebih mahal, masyarakat tetap membeli minyak premium sebagai alternatif karena tidak adanya Minyakita di pasaran.
Selain minyak goreng, Tini juga mengeluhkan kenaikan harga bahan lain seperti plastik kemasan yang berdampak besar terhadap biaya operasional.
“Pengaruh banget, bahkan sampai 80 sampai 90 persen. Harga plastik naik misal dari Rp5.000 jadi Rp8.000 sampai Rp9.000,” ungkapnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, ia terpaksa mengurangi penggunaan plastik dalam setiap transaksi.
“Sekarang harus diirit, yang biasanya kalau konsumen minta pakai dua plastik jadi satu,” ucapnya.
Tak hanya itu, harga komoditas lain seperti beras ketan juga mengalami kenaikan pasca Lebaran.
“Harga ketan sekarang Rp25.000 sampai Rp27.000 per kilogram. Naiknya setelah Lebaran, karena belum panen,” jelasnya.
Meski demikian, untuk beras biasa, ia menyebutkan harganya masih relatif stabil.
Pedagang berharap distribusi Minyakita dapat kembali normal agar masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, tidak terus terbebani harga minyak goreng yang tinggi.
“Harapannya sih Minyakita ada lagi, supaya masyarakat bisa beli dengan harga terjangkau,” pungkasnya.(*)