MBG Tak Merata, Sekolah di Pesisir Jakarta Tak Dapat, Murid Butuh Gizi, Guru Bersepeda Tempuh 10 km
ninda iswara April 21, 2026 11:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Potret pendidikan di wilayah pesisir Jakarta masih menyisakan berbagai persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Mulai dari kesejahteraan guru hingga distribusi program pemerintah yang belum merata, semuanya menjadi gambaran nyata yang dihadapi sekolah-sekolah di kawasan ini.

Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1, yang berada di sebuah gang di kawasan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Lokasinya yang berada di tengah permukiman padat seolah merefleksikan tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di wilayah pesisir.

Di balik tantangan itu, sekolah ini kini memiliki wajah baru.

Dari luar, bangunannya tampak cukup megah dengan dinding berwarna abu-abu yang memberi kesan kokoh dan modern.

Sebuah piagam peresmian terpajang di bagian depan, menandakan gedung tersebut resmi digunakan sejak 19 Oktober 2024 oleh Wali Kota Jakarta Utara saat itu, Ali Maulana Hakim.

Baca juga: Menu MBG Basi atau Kurang dari Rp 10 Ribu, Laporkan ke Intel Jaksa, Foto Buktinya, SPPG Ditindak

Perubahan ini menjadi titik penting bagi sekolah yang sebelumnya berada dalam kondisi memprihatinkan.

Salah satu guru honorer di MI Nurul Islam 1, Abdul Azis, mengungkapkan bahwa pembangunan ulang gedung sekolah tidak lepas dari bantuan pihak swasta yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.

"Kalau mengingat ke belakang, sebelumnya sekolah kita ini ya bangunannya sudah tidak layak pakai.

Kalau saya ngajar ini di lantai 2 itu saya lihat bangunan sudah banyak yang keropos, bahkan besi-besinya sudah mulai rapuh ya.

Khawatir bangunan rubuh.

Alhamdulillah ada pihak dari Yayasan Buddha Tzu Chi datang kesini dan membantu proses pembangunan ulang sampai sebagus sekarang," kata Azis menceritakan sejarah kondisi sekolahnya mengajar saat berbincang dengan TribunJakarta.com Senin (20/4/2026).

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa di balik bangunan yang kini tampak kokoh, tersimpan perjalanan panjang penuh kekhawatiran dan harapan dari para tenaga pendidik yang tetap bertahan demi keberlangsungan pendidikan di wilayah pesisir.

Belum Ada MBG

Kendati begitu, sampai saat ini sekolah tersebut belum tersentuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.

Disampaikan Azis, tak hanya MI Nurul Islam 1 tempatnya mengajar, tetapi sejumlah sekolah lain di kawasan Kamal Muara memang belum ada yang mendapatkan MBG.

“Di sini belum ada, mungkin karena dapurnya belum tersedia,” katanya.

Ia berharap program tersebut segera hadir, mengingat banyak siswa di wilayah pesisir yang membutuhkan dukungan gizi untuk menunjang kegiatan belajar.

"Semoga aja bisa segera mendapatkan MBG buat para murid," kata Azis.

Kayuh Sepeda ke Sekolah

Selain persoalan MBG, kisah Azis juga penuh perjuangan untuk datang ke sekolah.

Setiap hari, ia harus mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 10 kilometer pulang pergi dari rumahnya di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju MI Nurul Islam 1 yang berada di wilayah Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kondisi itu bukan tanpa alasan. Sepeda motor yang sebelumnya ia gunakan hilang pada akhir 2025.

Sementara, penghasilannya sebagai guru honorer belum cukup untuk membeli kendaraan pengganti, bahkan motor bekas sekalipun.
“Sekarang naik sepeda. Dari Desember sampai sekarang,” ujar Azis.

Sebagai guru honorer, Abdul Aziz hanya menerima penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan.

Jumlah tersebut merupakan kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, di mana ia sudah mengabdi di sekolah itu sejak tahun 2018.

Jika dibandingkan dengan UMR Jakarta yang di angka Rp 5,7 juta, penghasilan Azis memang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih ia juga harus menafkahi istri dan kedua anaknya.

“Kalau untuk kebutuhan, enggak cukup,” katanya.

Untuk menutup kekurangan, ia mencari tambahan dengan mengisi khutbah Jumat hingga mengajar pengajian di lingkungan sekitar.

Baca juga: BGN Sedih Lihat Makanan MBG Dibuang-buang: Anak-anak Bosan Lauk Telur, Lebih Enak Makan di Kantin

POTRET SEKOLAH PESISIR - (ilustrasi) (kiri) Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1 yang terletak di sebuah gang di kawasan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, belum dapat MBG. (kanan) Abdul Azis, guru honorer di MI Nurul l Islam 1 membonceng anaknya dengan sepeda menuju ke sekolah. Gaji kecil sebagai guru honorer membuatnya tak mampu membeli motor bekas sekalipun seusai motornya hilang. (Instagram/@badangizinasional.ri | TribunJakarta\ Elga Hikari)

Perjalanan Lebih Lama, Risiko Lebih Besar

Perjalanan menuju sekolah kini menjadi lebih berat. Jika dulu hanya 5–10 menit menggunakan motor, kini ia harus menempuh hingga 25 menit dengan sepeda.

Tak jarang, ia datang terlambat ke sekolah.

Di sisi lain, risiko keselamatan juga meningkat.

Jalur yang dilalui merupakan jalan besar yang kerap dilintasi kendaraan berat seperti truk kontainer.

Adapun Azis tiap harinya turut membonceng putri sulungnya yang juga bersekolah di tempat ia mengajar.

“Takut pasti ada, khawatir kesenggol,” ujarnya.

Tak Naik JakLingko

Di tengah keterbatasan, Azis sebenarnya sempat mempertimbangkan menggunakan transportasi umum seperti JakLingko. 

Namun, akses yang berputar dan memakan waktu lebih lama membuatnya memilih tetap bersepeda.

“Kalau naik JakLingko harus muter dulu tiga kali transit jadi malah lebih lama. Lebih efektif naik sepeda, satu jalur,” jelasnya.

Harapan untuk Pemerintah

Azis pun berharap pemerintah, khususnya Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Nasional, dapat lebih memperhatikan kondisi guru honorer dan pemerataan program pendidikan.

“Kami berharap bisa diperhatikan, terutama guru-guru yang punya keterbatasan dalam menjalankan tugas,” ucapnya.

(TribunTrends/TribunJakarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.