Stafsus Gubernur Tanggapi Kisah Pilu Guru Honorer di Jakut, Ungkap Program Pemprov Gelontorkan Hibah
Jaisy Rahman Tohir April 21, 2026 12:52 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menanggapi kisah pilu Abdul Azis (45), guru honorer di MI Nurul Islam 1 yang harus mengayuh sepeda untuk mengajar karena gajinya tak cukup untuk membeli motor bekas.

Chico menjelaskan madrasah ibtidaiyah merupakan institusi pendidikan yang berada di bawah kewenangan Kementerian Agama Republik Indonesia, bukan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta tetap memberikan perhatian melalui bantuan untuk para guru honorer di lingkungan madrasah.

"Sejak beberapa tahun belakangan Pemprov DKI Jakarta setiap tahunnya menggelontorkan bantuan untuk guru guru honorer yang mengajar di institusi pendidikan di bawah Kemenag, melalui Kanwil Kemenag DKI Jakarta," kata Chico saat memberikan komentar di akun Instagram TribunJakarta.com, Selasa (21/4/2026).

Chico menyebutkan, bantuan tersebut sebesar Rp 550 ribu per bulannya untuk tiap guru yang disalurkan melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil) Jakarta.

“Kebijakan ini tetap dilaksanakan di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung,” jelasnya.

Anggaran Capai Ratusan Miliar

Lebih lanjut Chico menjelaskan untuk tahun anggaran 2026, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan hibah sebesar Rp 302.456.000.000 kepada Kanwil Kemenag DKI Jakarta.

Dana tersebut diperuntukkan bagi 26.827 guru honorer madrasah di wilayah DKI Jakarta.

HUBUNGAN KOTA GLOBAL JAKARTA - Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim saat hadir di podcast Ruang Jakarta, tayang perdana di Youtube pada Jumat (6/3/2026). Chico membahas berbagai hal, termasuk hubungan kota global Jakarta dengan perang di Timur Tengah.
HUBUNGAN KOTA GLOBAL JAKARTA - Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim saat hadir di podcast Ruang Jakarta, tayang perdana di Youtube pada Jumat (6/3/2026). Chico membahas berbagai hal, termasuk hubungan kota global Jakarta dengan perang di Timur Tengah. (TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir/Jaisy Rahman Tohir)

Chico berharap, bantuan itu dapat sedikit meringankan beban para guru, termasuk Abdul Azis yang saat ini menghadapi keterbatasan ekonomi.

"Semoga walau sedikit dapat meringankan beban bapak ibu guru sekalian. Sehat selalu untuk pak Azis dan para pahlawan tanpa tanda jasa," kata dia.

Kisah Abdul Azis

Bukan di daerah terpencil nan terpelosok, kisah guru honorer yang hidup dalam keterbatasan juga terlihat di Jakarta.

Azis tak sendiri, ia tiap hari membonceng putri sulungnya yang juga sekolah di tempat ia mengajar.

"Anak sulung saya juga sekolah di sini, dia kelas 3. Jadi tiap hari berangkat dan pulangnya bareng saya," kata Azis saat ditemui di sela waktunya mengajar di MI Nurul Islam 1.

Azis bercerita, dirinya terpaksa menggunakan sepeda lipat menuju sekolah sejak Desember 2025. Hal itu ketika sepeda motor pemberian sang paman hilang di rumahnya.

Alhasi, perjalanan yang sebelumnya hanya memakan waktu 10 menit kini berubah menjadi hingga 30 menit.

Tak jarang, ia harus berpacu dengan waktu agar tidak terlambat sampai ke sekolah. Meski demikian, semangatnya tak pernah surut

"Jadi saya kadang suka terlambat juga kalau datang ke sekolah. Kadang enggak enak sama kepala sekolah dan guru-guru yang lain," ujarnya.

Jalur yang ia lalui merupakan jalan besar yang dipadati kendaraan berat, termasuk truk kontainer.

Risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata setiap harinya.

Selain, itu ia juga harus melewati tanjakan yang cukup tinggi hinggamembuatnya harus turun menuntun sepedanya.

“Kadang takut, khawatir kesenggol kendaraan besar. Tapi tetap dijalani,” tuturnya.

Tak Naik Jaklingko

Di tengah keterbatasan, Aziz sebenarnya sempat mempertimbangkan menggunakan transportasi umum seperti JakLingko.

Namun, akses yang berputar dan memakan waktu lebih lama membuatnya memilih tetap bersepeda.

“Kalau naik JakLingko harus muter dulu tiga kali transit jadi malah lebih lama. Lebih efektif naik sepeda, satu jalur,” jelasnya.

Gaji Rp 2 Juta Per Bulan

Azis sudah menjadi guru honorer di MI Nurul Islam 1 sejak tahun 2018 dengan penghasilan yang pas-pasan yakni Rp 2 juta per bulannya.

"Awalnya gajinya itu Rp 700 ribu. Terus meningkat tiap tahunnya dan sekarang Rp 2 juta perbulan," ujar Azis.

Dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat Azis harus mencari tambahan penghasilan demi menghidupi istri dan dua anaknya.

Di luar mengajar, Aziz aktif mengisi khutbah Jumat, pengajian, hingga melatih qosidah dan hadroh di majelis taklim.

“Alhamdulillah ada tambahan, walaupun tidak banyak. Bisa untuk menutup kekurangan,” katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.