TRIBUNKALTIM.CO - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih sulit tercapai menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan pada Rabu (22/4/2026).
Gencatan senjata adalah penghentian sementara pertempuran yang disepakati pihak berkonflik untuk memberi ruang bagi diplomasi.
Meski Pakistan telah menyiapkan pertemuan dengan pengamanan ketat di Islamabad, belum ada kepastian apakah kedua pihak akan benar-benar hadir.
Baca juga: Dokumen Bocor Ungkap Rusia Pasok Jet Tempur Su-35 ke Iran hingga 2027
Perbedaan pandangan dalam sejumlah isu krusial membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu singkat dinilai sangat menantang.
Berikut poin-poin utama yang menjadi sengketa:
Gencatan senjata AS-Iran yang diumumkan pada 7 April dan berlaku mulai 8 April akan berakhir pekan ini.
Meski Pakistan telah menyiapkan pertemuan dengan pengamanan ketat di Islamabad, belum ada kepastian apakah kedua pihak akan benar-benar duduk bersama.
Dengan perbedaan yang masih tajam di sejumlah isu, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu singkat dinilai masih sangat menantang.
Dilansir Al Jazeera, salah satu isu paling mendasar adalah program nuklir Iran.
Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menginginkan Iran menghentikan sepenuhnya program nuklirnya.
Namun, Teheran menolak tuntutan tersebut.
Baca juga: Wajah Ganda Trump di Perang Iran Disorot: Agresif Menggertak di Publik, Gelisah di Balik Layar
Iran menyatakan, pembatasan hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu tertentu, bukan permanen.
AS juga meminta agar sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi milik Iran diserahkan atau berada di bawah pengawasan Washington.
Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Iran, yang menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Ketegangan juga terjadi di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.
Iran bersikeras akan tetap membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut hingga AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Sebaliknya, Trump menegaskan blokade tidak akan dicabut sebelum tercapai kesepakatan.
Iran menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset mereka senilai sekitar 20 miliar dollar AS sebagai bagian dari kesepakatan.
Bagi Teheran, langkah ini menjadi syarat penting untuk memulihkan kondisi ekonomi yang terdampak sanksi berkepanjangan.
Baca juga: Makin Panas! Kapal Kargo Iran Ditembaki Pasukan Amerika, Teheran Bersumpah Balas Serangan AS
Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer AS dan Israel, dengan nilai mencapai sekitar 270 miliar dollar AS.
Tuntutan ini menjadi salah satu poin paling sulit disepakati dalam negosiasi.
Di tengah kebuntuan tersebut, Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan lanjutan dengan AS di Islamabad, Pakistan.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, pelanggaran gencatan senjata oleh AS masih menjadi hambatan utama.
Dilansir Tasnim News Agency, sikap keras juga disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menolak negosiasi di bawah tekanan.
Di sisi lain, Trump tetap mendorong kesepakatan cepat guna menekan dampak konflik terhadap harga energi global. (*)