TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -- Rahmat Julianto, warga RT 03, Kelurahan Puncak Kemuning, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumsel, yang sempat viral dalam kondisi kritis di ICU RS Negara Kamboja, dikabarkan meninggal dunia.
Kadinsos Kota Lubuklinggau, Hasan Andria Uy, membenarkan bila Rahmat telah meninggal dunia di Kamboja.
Hasan mengatakan bila keluarga sudah ikhlas dan sudah membuat pernyataan bila almarhum akan dimakamkan di Kamboja.
"Keluarga sudah menyerahkan ke KBRI untuk dimakamkan di sana dan sudah membuat pernyataan," ungkapnya.
Pihak keluarga sudah memahami karena untuk memulangkan almarhum ke Indonesia membutuhkan biaya besar.
"Alasannya mungkin biaya, karena keluarganya paham untuk memulangkan jenazah almarhum butuh biaya paling tidak Rp100 juta lebih," ujarnya.
Hasan menceritakan, sebelum berangkat ke Kamboja, almarhum sempat pulang ke Lubuklinggau dan saat itu almarhum masih bekerja di Jakarta.
"Sebelumnya kerja di Jakarta, berangkat ke Kamboja ternyata saat bekerja tidak mengenakkan dan jatuh sakit," ungkapnya.
Baca juga: Pemuda Asal Lubuklinggau Viral Terbaring Sakit di Kamboja, Keluarga Bingung Cari Biaya Pemulangan
Hasan juga menyampaikan, sejak awal ketika mendapat informasi tersebut, pihak tim rehabilitasi sosial (Resos) Dinsos Lubuklinggau langsung turun menemui keluarga almarhum.
"Tim Dinsos sudah datang langsung ketemu keluarga dan itu nomor yang ada di postingan itu milik teman almarhum sesama TKI," ungkapnya.
Hasil koordinasi dengan pihak KBRI, ternyata ada sekitar 400 orang yang tengah berada di KBRI berharap untuk dipulangkan ke tanah air.
"Kurang lebih ada 400 orang di KBRI, sekarang teman-teman almarhum itu ngumpul di KBRI berharap dipulangkan ke tanah air," ujarnya.
Hasan menyampaikan, banyaknya PMI (Pekerja Migran Indonesia) meminta dipulangkan dari Kamboja karena tidak sesuai dengan perjanjian kerja awal.
"Kami hanya berharap pemerintah dapat segera turun tangan membantu cucu kami untuk pulang ke Indonesia," ungkapnya pada wartawan, Minggu (19/4/2026).
Soleh bercerita, Rahmat yang hanya menamatkan pendidikan SD, sempat mencoba melanjutkan ke SMP namun hanya bertahan dua atau tiga bulan dan memilih berhenti.
Alasannya saat itu memilih bekerja untuk membantu keluarga karena kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.
"Rahmat ini anak yatim piatu dan hanya memiliki satu adik laki-laki yang sekarang tinggal bersama kami," ungkapnya.
Rahmat pertama kali berangkat ke Jakarta tahun 2021 untuk bekerja di proyek pembuatan pelat jembatan.
Setelah proyek selesai, ia sempat pulang ke Lubuklinggau pada tahun 2023 saat Iduladha, namun hanya dua hari semalam kemudian pamit merantau lagi.
Rahmat kembali ke Jakarta, tepatnya ke Cianjur, Jawa Barat, untuk menemui calon istrinya.
Rahmat pamit mengatakan kepada keluarganya bahwa ia sudah memiliki calon istri di kota rantauan dan ingin segera menikahinya.
"Rahmat meminta izin kepada keluarga dan segera kembali ke kota rantauan untuk bertemu calon istri serta calon mertuanya guna membahas pernikahan," ungkapnya.
Menurut pengakuan keluarga, setelah itu Rahmat kembali ke kota rantauan dan hingga kini hilang kabar, tidak diketahui apakah sudah menikah.
Namun yang mengejutkan, keluarga justru mendapat kabar bahwa Rahmat kini berada di Kamboja dalam keadaan sakit.
Keluarga baru mengetahui kondisi Rahmat melalui Ketua RT yang menyampaikan informasi bahwa ia kini berada di rumah sakit di Kamboja.
Muhammad Soleh mengaku kaget karena selama ini mereka hanya tahu Rahmat bekerja di Jakarta. Tiba-tiba muncul kabar bahwa ia sakit di luar negeri.
Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, Rahmat sempat mengungkapkan kepada keluarganya bahwa ia dirawat di rumah sakit di Kamboja.
Ia juga bercerita pernah mengalami sengatan listrik di tempat kerjanya sehingga sering muntah darah.
Dengan suara lemah, Rahmat meminta maaf kepada keluarga karena berangkat ke Kamboja tanpa sepengetahuan mereka.
Kini Rahmat dirawat di ruang ICU dalam keadaan lemah tak berdaya. Untuk makan maupun minum ia menggunakan selang.
Keluarga besar Rahmat hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah, baik Pemkot Lubuklinggau maupun pemerintah pusat melalui KBRI di Kamboja.
Biaya pengobatan disebut sudah ditangani oleh KBRI, namun keluarga berharap agar Rahmat bisa segera dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan apa pun.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Kalau bisa, Rahmat dipulangkan. Kami tidak sanggup kalau harus mengeluarkan biaya besar sendiri,” jelas Muhammad Soleh.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel