TRIBUNNEWS.COM - Persaingan gelar Liga Inggris 2025/2026 menghadirkan duel panas antara Arsenal dan Manchester City.
Kedua tim tampil konsisten sepanjang musim, membuat perebutan trofi diprediksi akan ditentukan hingga pekan terakhir pada 24 Mei mendatang.
Kemenangan krusial Manchester City atas Arsenal pada akhir pekan lalu menjadi titik balik penting. Gol dari Rayan Cherki dan Erling Haaland memastikan tiga poin berharga sekaligus memangkas jarak menjadi hanya tiga angka dari puncak klasemen.
Situasi ini semakin menarik karena skuad asuhan Pep Guardiola masih memiliki satu laga tunda, yang berpotensi membuat kedua tim sejajar dalam perolehan poin.
Lantas, bagaimana jika Arsenal dan City benar-benar finis dengan poin yang sama?





Sesuai regulasi Liga Inggris, penentuan posisi tidak berhenti pada jumlah poin.
Faktor pertama yang menjadi pembeda adalah selisih gol.
Saat ini, Arsenal masih unggul dalam aspek tersebut, namun City bisa menyamai jika mampu meraih kemenangan dengan margin yang cukup di laga tunda mereka.
Baca juga: Sulitnya 5 Sisa Laga Manchester City, The Citizens Melawan Kemustahilan
Jika selisih gol identik, maka jumlah gol yang dicetak akan menjadi penentu berikutnya.
Hingga saat ini, City sedikit lebih unggul dalam produktivitas gol dibanding Arsenal, menandakan betapa tipisnya jarak kualitas di antara kedua tim.
Namun, jika kedua aspek tersebut juga sama, maka penentuan akan berlanjut ke rekor pertemuan langsung (head-to-head).
Dalam hal ini, Manchester City berada di posisi yang lebih menguntungkan.
Setelah bermain imbang 1-1 di Emirates Stadium, City sukses menang 2-1 pada pertemuan terakhir, yang membuat mereka unggul dalam poin head-to-head atas tim asuhan Mikel Arteta.
Artinya, dalam skenario ekstrem di mana poin, selisih gol, dan jumlah gol identik, Manchester City berhak keluar sebagai juara, seperti yang dilaporkan Sportbible.
Peluang City untuk menyalip Arsenal akan kembali terbuka saat mereka menghadapi Burnley pada Rabu (23 April).
Hasil laga tersebut bisa menjadi langkah awal menuju comeback dramatis dalam perebutan gelar.
Menariknya, dalam sejarah Liga Premier sejak 1992, gelar juara hampir selalu ditentukan oleh selisih poin.
Hanya satu kali trofi ditentukan oleh selisih gol, yakni pada musim 2011/2012.
Saat itu, Manchester City dan Manchester United sama-sama mengoleksi 89 poin.
Momen legendaris terjadi ketika Sergio Aguero mencetak gol dramatis di menit akhir melawan Queens Park Rangers.
Gol tersebut memastikan kemenangan sekaligus membawa City meraih gelar Liga Premier pertama mereka, berkat keunggulan selisih gol +64 dibandingkan United yang +56.
Dengan situasi musim ini yang begitu ketat, bukan tidak mungkin skenario serupa kembali terulang.
Jika itu terjadi, persaingan Arsenal dan Manchester City berpotensi dikenang sebagai salah satu perebutan gelar paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris.
(Tribunnews.com/Ali)