BANGKAPOS.COM -- Syamsiah atau bu Atun, guru SMA Negeri 1 Purwakarta, viral usai videonya diledek oleh siswa beredar di media sosial.
Ternyata ada penyebab yang membuat siswa melakukan tindakan tidak terpuji tersebut.
Menurut penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, siswa meledek bu Atun lantaran guru tersebut mengubah kelompok secara mendadak.
"Pelajaran PPKn gurunya bu Atun waktu itu ada kerja kelompok tentang keberagaman. Keberagaman ada makanan, karya, nyanyian, kesenian daerah," katanya.
Bu Atun membagi kelompok siswa untuk mengerjakan tugas.
"Anak-anak dibagi kelompok, tapi pas mau presentasi kelompoknya rubah dan kelompok ini yang anak-anak ini yang sembilang orang," katanya.
Baca juga: Kronologi 9 Siswa Hina Guru di SMAN 1 Purwakarta, Diskors 19 Hari dan Terancam Sanksi Sosial
Saat kelompoknya diubah, mereka sama sekali tidak protes.
"Jadi ketika dipindah ke giliran terakhir mereka tetap presentasi, tetap manis, memperlihatkan gak ada apa-apanya sama bu Atun, minta foto bersama, terus ibunya keluar dan terjadi seperti itu, ibu uga gak tahu," katanya.
Purwanto memastikan para murid melakukan tindakan tersebut secara sengaja.
"Ya sengaja," katanya.
Sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat, resmi menjalani sanksi sosial selama tiga bulan terhitung mulai Senin (20/4/2026).
Langkah ini diambil pihak sekolah sebagai tindak lanjut atas aksi tidak pantas atau perundungan (bullying) yang dilakukan para siswa tersebut terhadap salah seorang guru hingga viral di media sosial.
Sanksi pembinaan karakter ini disepakati oleh pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat dan orangtua siswa dengan menitikberatkan pada tanggung jawab sosial tanpa menghilangkan hak pendidikan siswa.
Ancaman hukuman ini mendapat kritik tajam dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengkhawatirkan adanya pencabutan hak belajar anak.
Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil, menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi di sela-sela kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).
Saat itu, suasana kelas sudah tidak formal setelah sesi tugas kelompok dan foto bersama.
"Di sesi akhir ada kegiatan foto, kemudian ada momen mencicipi sesuatu sebagai bagian dari tugas siswa.
Setelah itu, ketika situasi sudah tidak formal, ada siswa dari belakang yang melakukan gestur tidak pantas," ujar Sidik di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).
Setelah melakukan pendalaman terhadap seluruh siswa di kelas tersebut, sekolah menetapkan sembilan siswa terbukti sengaja melakukan aksi tersebut. Sementara itu, 24 siswa lainnya dinyatakan tidak terlibat.
Sanksi sosial yang diberikan mengharuskan kesembilan siswa tersebut membersihkan lingkungan sekolah, mulai dari ruang kelas hingga fasilitas toilet.
Meski demikian, pihak sekolah memastikan mereka tidak dikeluarkan dan tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
Baca juga: Rekam Jejak Hendrikus Rahayaan Pelaku Pembunuhan Nus Kei, Atlet MMA Hobi Berkelahi Sejak Kelas 6 SD
"Setelah kejadian, kami langsung memanggil orangtua pada Sabtu lalu. Atas arahan Disdik Jabar dan Gubernur (Dedi Mulyadi), disepakati sanksi pembinaan selama tiga bulan," kata Sidik.
Lama masa sanksi akan bergantung pada evaluasi perubahan sikap masing-masing siswa selama masa pembinaan.
"(Sanksi) ini akan dievaluasi berdasarkan perubahan sikap para siswa," tambahnya.
Untuk menghindari dampak sosial seperti perundungan balik dari siswa lain atau publik, SMAN 1 Purwakarta menerapkan kebijakan khusus.
Kesembilan siswa tersebut saat ini menjalani proses pembelajaran secara terpisah di ruang khusus untuk menjaga kondisi psikologis mereka.
Selain itu, sekolah juga menggandeng tenaga psikolog untuk memberikan pendampingan intensif.
"Kami sudah melakukan pembinaan setelah apel pagi. Guru dan wali kelas diminta menenangkan siswa lain, agar tidak panik dan tetap menjaga lingkungan sekolah yang kondusif," tutur Sidik.
Menanggapi pengaruh media sosial yang memicu viralnya video tersebut, manajemen sekolah berencana memperketat aturan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
"Kami tidak melarang sepenuhnya, tapi akan membatasi. Saat masuk sekolah, HP akan dikumpulkan untuk menghindari penyalahgunaan," tegas Sidik.
Pihak sekolah berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh siswa untuk lebih bijak bersikap, terutama dalam menghormati tenaga pendidik di era digital.
Sementara itu, Syamsiah, guru yang menjadi korban, telah memaafkan para siswa tersebut dan mendoakan yang terbaik bagi masa depan mereka.
"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," katanya.
Menurutnya tujuan utama menjadi guru adalah membimbing, bukan malah memberi hukuman yang berlebihan.
"Saya tidak pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berahklak tinggi dan selamat dunia akhirat," katanya.
Baginya kelakuan para murid merupakan fase yang bisa dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang tepat.
"Saya tidak tahu kalau direkam," katanya.
Ia menceritakan awalnya para murid tersebut bersikap biasa saja, bahkan terbilang santun.
"Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain," katanya.
Setelah melihat video yang beredar, bu Atun merasa sedih.
Ia tak menyangka ternyata murid yang di depannya bersikap santun, justru meledek di belakang.
"Sedih itu manusiawi. Tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati," katanya.
(Bangkapos.com/TribunnewsBogor.com/Kompas.com)