BANGKAPOS.COM - Pasca meninggalnya Nus Kei (Agrapinus Rumatora) yang meninggal usai ditusuk di Bandara Karel Sadsuitubun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026) kemarin, pelaksanaan Musyawara Daerah Partai Golkar Maluku Tenggara pun jadi sorotan.
Kini Musda Golkar Maluku Tenggara ditunda.
Di sisi lain, ada sosok Mossad Kennedy Refra, anak John Kei yang mau mencalonkan diri sebagai Ketua DPD di Musda Golkar.
Mossad Kennedy Refra atau yang dikenal dengan inisial MKR disebut-sebut telah mendapat dukungan dari sejumlah pemilik suara menjelang Musda.
Dia juga telah tiba di Maluku Tenggara untuk mempersiapkan diri mengikuti proses Musda.
Dalam video yang beredar, MKR tampak disambut puluhan pendukung saat tiba di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur.
Di bagian lain, Sekretaris DPD Partai Golkar Maluku, Anos Jeremias, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan pencalonan MKR karena proses pendaftaran belum dibuka.
“Kalau terhadap itu, nanti ditanyakan ke panitia karena belum ada laporan. Memang ada informasi, tapi dia belum daftar, jadi kami belum bisa berkomentar,” kata Anos saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan, kepastian calon baru dapat diketahui setelah pendaftaran resmi dibuka oleh panitia Musda.
Saat ini, pelaksanaan Musda Partai Golkar Maluku Tenggara masih ditunda menyusul meninggalnya Ketua DPD Golkar setempat, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.
“Kalau sudah buka pendaftaran dan ada yang mendaftar, baru kita bisa tahu siapa saja yang akan maju,” ujar Anos.
Baca juga: Biodata Nus Kei yang Tewas Ditikam, Paman John Kei, Pernah Diserang Keponakan Sendiri, Apa Motifnya?
Lantas, siapa Mossad Kennedy Refra lebih jauh?
Mossad Kennedy Refra (MKR) adalah putra dari John Refra (John Kei) dan Sophia Eden Leatemia.
Dia lahir di Jakarta pada 18 Mei 1999.
Mossad dikenal sebagai sosok advokat yang aktif dalam kancah politik di Maluku Tenggara.
Berdasarkan laporan, Mossad Kennedy Refra menempuh jalan yang berbeda dengan ayahnya.
Mossad juga berkiprah sebagai atlet muay thai profesional.
Ketua DPD Partai Golkar setempat, Agrapinus Rumatora atau yang akrab disapa Nus Kei, tewas akibat penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026).
Insiden maut ini terjadi sesaat setelah korban mendarat dari penerbangan asal Ambon sekitar pukul 11.10 WIT.
Ketika sampai di depan pintu keluar bandara untuk menemui keluarganya, Nus Kei langsung ditikam oleh orang tidak kenal (OTK).
Pada momen tersebut, kakak Nus Kei, Antonius Rumatora langsung membanting pelaku. Namun, pelaku berujung melawan dan melarikan diri.
"Selang beberapa menit, datang seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan menggunakan masker langsung menikam Saudara Almarhum Agrapinus Rumatora."
"Melihat kejadian tersebut Saudara Antonius Rumatora (kakak korban) sempat memeluk dan membanting yang diduga pelaku namun pelaku melawan dan berhasil melarikan diri," demikian rilis resmi yang diterima dari Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono, Minggu (19/4/2026) melansir Tribunnews.com.
Setelah itu, Nus Kei sempat lari ke dalam bandara tetapi terjatuh dan sempat memperoleh pertolongan dari petugas di lokasi.
Nus Kei lantas dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis. Nahas, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit.
"Pukul 11.44 WIT, Saudara Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital," tuturnya.
Berdasarkan laporan yang diterima, Nus Kei menderita empat luka tusuk di bagian dada sebelah kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.
Di sisi lain, maksud dari Nus Kei berada di Kabupaten Maluku Tenggara untuk menghadiri acara partai.
"Kedatangan Agrapinus Rumatora Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara untuk mengikuti Musda Partai Golkar Maluku Tenggara yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2026," katanya.
Polres Maluku Tenggara menangkap dua pelaku pembunuhan terhadap Agrapinus Rumatora alias Nus Kei yang menjabat sebagia Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026).
Keduanya adalah Hendrikus Rahayaan (HR) alias Hendra dan Finansius Ulukyanan (FU) alias Finis.
Hendrikus Rahayaan diketahui adalah atlet Mixed Martial Arts sekaligus keponakan John Kei, tokoh preman di Jakarta.
Sementara Finis adalah warga biasa.
Motif Hendirkus dan Finis adalah dendam lama.
Kapolres Maluku Tenggara, AKBP Rian Suhendi, mengungkapkan bahwa identitas kedua tersangka adalah Hendrikus Rahayaan (HR) alias Hendra dan Finansius Ulukyanan (FU) alias Finis.
Adapun fakta di balik motif pembunuhan ini. Penikaman tersebut dipicu oleh dendam lama terkait peristiwa berdarah di Jakarta pada tahun 2020 silam.
"Motifnya adalah dendam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi, beberapa tahun lalu," jelas AKBP Rian Suhendi melansir dari berbagai sumber.
Baca juga: Catatan Hendrikus Rahayaan sebagai Atlet MMA, Kini Bunuh Nus Kei, Unggahan Kerjaan Rp1 M Disorot
Hendrikus Rahayaan adalah atlet Mixed Martial Arts (MMA) sekaligus keponakan John Kei, tokoh preman asal Maluku Tenggara di Jakarta.
Hendrikus Rahayaan lahir di Watran, Kota Tual, Maluku.
Dirinya juga tercatat sebagai keponakan dari John Kei mantan preman legendaris dengan julukan The Godfather Jakarta.
Pria kelahiran O6 Desember 1997 ternyata memang memiliki hobi berkelahi.
Hal ini sempat diutarakan dalam percakapan dengan Tribun Manado pada tahun 2023 silam.
petarung dengan slogan Bad Boy From Kei itu menceritakan kegemarannya itu.
Katanya, sedari kecil dia sudah sering berkelahi dengan teman sepermainan.
Hingga sering terlibat tauran seiring bertambahnya umur.
Namun, hobi itu tentu negatif, sehingga dia pun kurang disukai keluarga lantaran kerap hobinya menghasilkan masalah.
"Awalnya itu memang suka sekali cari gara-gara, beta (Saya) itu memang berawal dijalanan dari situ terus tidak disukai oleh keluarga," katanya kepada TribunAmbon.com, Kamis (25/8/2023).
Bertumbuh dewasa, Hendrikus pun memutuskan untuk menekuni hobinya.
Dengan tekad, hobinya berbuah prestasi yang membanggakan keluarga.
"Jadi bikin saja, lebih baik kita bikin baku pukul jalanan itu jadi prestasi saja biar jadi kebanggaan keluarga, selain bisa bertahan hidup juga, kita bisa mengharumkan nama daerah," lanjutnya. .
Jalan menuju atlet profesional dimulainya dengan berlatih keras dimentoring kakeknya sendiri yang kebetulan adalah pelatih ilmu bela diri.
Tidak hanya satu, kakeknya menguasai tiga cabang ilmu bela diri, yakni; Mhuay Thai, Whu su dan Boxing.
"Kebetulan beta punya kakek itu kita di sasana dia jadi coach, di Tual sini," lanjutnya.
Basic mental by one serta latihan keras, keponakan John Kei itu akhirnya terjun di kelas bantam One Pride MMA Itu.
Dari situlah, 2 match yang menjadi awal berkarirnya berakhir mulus dengan kemenangan.
M. Ricky Syahputra berhasil ditumbangkan dengan perolehan TKO 22 detik.
Sementara Boido Simanjuntak tunduk pada ronde ke tiga.
Hendrikus pun sangat yakin mampu menjadi atlet berprestasi, dan dia punya harapan besar anak muda Maluku yang sehobi bisa bertarung di ring profesional.
"Untuk mental-mental jalanan anak Maluku itu buat saja, kita itu anak-anak yang dianggap nakal begini, kalau baru mau berjuang itu nanti dapat banyak kritikan dari orang-orang, jadu saya harap selalu bermental baja, lakukan saja apa yang harus kita lakuakan tuk terus harumkan nama daerah, tandasnya.
Baca juga: Kabar John Kei Sekarang, Keponakan Nus Kei yang Pernah Seteru vs Hercules, Apa Masih Hidup & Bebas?
(Tribun Sumsel/ Surya/ Bangkapos.com)