TRIBUNNEWS.COM - Kenaikan harga LPG dan bahan kemasan plastik tak hanya berdampak di sejumlah daerah.
Kenaikan ini dirasakan secara luas oleh para pelaku kuliner di berbagai daerah di Indonesia.
Kondisi ini pun menambah tekanan di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) Jawa Barat, Rezha Noviana mengatakan, kenaikan harga plastik dan LPG ini sangat berpengaruh terhadap operasional usaha.
"Dari sisi kami sebagai pelaku jasa boga, ini sangat berpengaruh, kami sudah menjerit. Kenaikan LPG dan plastik langsung berdampak ke harga jual," ujar Rezha saat dihubungi TribunJabar.id, Senin (20/4/2026).
Kondisi yang paling memberatkan dirasakan oleh pelaku usaha yang sudah terikat kontrak dengan klien karena kesepakatan awal tidak bisa diubah meski biaya produksi makin meningkat.
"Kalau sudah kontrak, kami tidak bisa menaikkan harga di tengah jalan. Akhirnya kami harus putar otak supaya tetap jalan, tapi margin jadi sangat tipis," jelasnya.
Meski bisa berhemat dengan beralih di beberapa item, namun tidak semua komponen bisa dihemat.
"Boks, sendok, mika itu tidak mungkin dihilangkan. Jadi ruang efisiensinya sangat terbatas," katanya.
Terkait dengan kenaikan LPG, Rezha mengatakan bahwa para pengusaha sudah tidak ada alternatif lain.
"Kami tidak punya pilihan selain pakai LPG. Mau tidak mau harus tetap pakai, sementara harganya terus naik," ujar Rezha.
Baca juga: Imbas Harga LPG Nonsubsidi Naik, Warga Jember hingga Jakbar Beralih ke Gas 3 Kg, Solihah: Itu Berat
Akhirnya, harga produk terpaksa dinaikkan.
"Kalau untuk klien baru, kami sesuaikan harga,"
"Tapi itu juga belum tentu diterima, karena kondisi ekonomi juga lagi berat," katanya.
Ia juga menyoroti tindakan pemerintah yang jarang melibatkan pelaku usaha dalam pengambilan kebijakan.
“Harapan kami, pelaku usaha dilibatkan dalam kebijakan. Dulu kami sering dirangkul, sekarang tidak, padahal dampaknya langsung ke kami,” katanya.
Tak adanya insentif atau keringanan kepada para pengusaha di tengah naiknya biaya produksi juga menambah berat para pelaku usaha.
“Pajak tetap, biaya naik, pesanan juga berkurang, jadi bebannya terasa berlapis,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik ini bahkan mencapai puluhan persen hingga nyaris 100 persen.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengatakan, lonjakan harga tersebut dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku global imbas konflik di Timur Tengah.
"Ini imbas dari ketegangan di Middle East, sehingga dengan ditutupnya Selat Hormuz itu 70 persen bahan baku nafta yang kita butuhkan itu jadi tidak bisa keluar dari sana," tutur Fajar saat dihubungi Jumat (3/4/2026).
Tidak seimbangnya permintaan dan pasokan saat lebaran juga jadi salah satu penyebab naiknya plastik di sejumlah daerah.
"Demand (permintaan) H+10 Lebaran ini mulai aktif, sehingga antara permintaan dengan suplai memang terjadi ketidakseimbangan," jelas Fajar.
Fajar menjelaskan, sebenarnya naiknya harga plastik ini bertahap.
"Seolah-olah harganya naiknya besar sekali, padahal kenaikannya itu sudah mulai dari minggu kedua pada saat perang di Iran dan Israel tadi," ujarnya.
Diketahui, produk berbahan plastik seperti thinwall, tempat makan, cup atau gelas plastik, hingga plastik bungkus makanan harganya naik hingga hampir 100 persen.
Baca juga: Harga Plastik Makin Meroket, DPR Dorong UMKM Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan
Sejumlah pengusaha pun mengalami dampak dari kenaikan harga plastik.
Salah satunya yakni Nafis Ghifari, seorang pengusaha es teh di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Harga gelas plastik, sealer, hingga kantong plastik berpengaruh ke biaya operasionalnya.
Kepada Kompas.com, Nafis mengatakan bahwa kenaikan bahan plastik tersebut mencapai 65 persen.
Lonjakan ini otomatis berdampak kepada ratusan cabang usaha es teh miliknya yang tersebar di sejumlah daerah.
"Kerugian bisa sampai sekitar 50 persen dari pendapatan karena biaya kemasan naik drastis," ujarnya.
Ia menuturkan, Rp3.000 untuk satu gelas es teh saat ini sudah tidak ideal.
Dengan harga tersebut, pedagang hanya mendapat keuntungan Rp500 saja.
“Di kondisi seperti ini sudah tidak cukup untuk biaya operasional,” pungkasnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJabar.id, Putri Puspita Nilawati)(Kompas.com, Muchamad Dafi Yusuf)