TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Madina Salma Tsuraya tak menampik jika dirinya kerap diremehkan saat berkarya apalagi dikaitkan dengan pekerjaan. Hal itu karena dirinya yang berstatus difabel tunarungu.
Namun dari kondisi tersebut, memicu dirinya untuk terus bersemangat lebih kreatif mencari solusi.
Salah satunya adalah dengan membuat gaun dari kain bekas, yang kemudian dia pasarkan melalui akun media sosial pribadinya.
Dari situlah dirinya juga menjadi desainer. Berbagai pesanan pun mengalir, utamanya busana kebaya yang menjadi andalan karya Madina.
Baca juga: Indeks Pemberdayaan Gender Kota Semarang Tembus 78,71, Peran Perempuan Kian Kuat
• Ayah Bejat di Cilacap, 3 Tahun Setubuhi Anak Kandung, Bayi SF Lahir di Kamar Mandi
Madina Salma Tsuraya, difabel tunarungu sedang duduk fokus menyelesaikan gaun batik.
Tangannya terlihat lincah menari di atas kain. Suara jarum jahit pun berderit.
Madina adalah pemilik @madinaa.salma fashion design.
Sejak kecil, dia memang sudah terpikat pada dunia gambar.
“Saya suka menggambar baju-baju imajinasi saya waktu SD,” tulisnya di notes ponsel saat wawancara via teks seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Selanjutnya, hobi tersebut berkembang serius setelah dirinya lulus SMA.
“Saya mulai bikin karya visual sederhana, seperti sketsa gaun dari kain bekas,” lanjutnya.
Kini, akun Instagram miliknya dipenuhi pesanan dari pelanggan. Mulai dari kebaya wisuda hingga busana sehari-hari dengan sentuhan khas Jawa.
Madina mengklaim senang mewujudkan imajinasi di kepalanya menjadi sebuah karya nyata.
“Ingin menyalurkan kreativitas. Senang lihat ide di kepala jadi karya nyata yang bisa dipakai orang,” ujarnya.
Baca juga: Gadis 15 Tahun di Semarang Utara Diduga Dibakar Pamannya, Polisi Kejar Pelaku
• Sopir Masih Trauma, Ayah Tewas usai Truk Menabrak Pohon di Wonogiri
Perjalanan Madina dalam berkarya tidak sepenuhnya mulus. Keterbatasan komunikasi sempat menjadi kendala.
Meski begitu, semangatnya tidak surut. Madina belajar mendesain secara otodidak.
Kiprah tantenya yang juga sebagai desainer semakin memacu motivasi Madina dalam menekuni dunia desain.
“Tante saya yang juga seorang desainer di Paris, karena dari beliau saya mendapat inspirasi dan motivasi untuk menekuni dunia desain,” ungkapnya.
Meski begitu, dia menyadari disabilitas sering mengalami kesusahan dalam mencari pekerjaan, juga kerap diremehkan.
Namun kondisi ini membuatnya lebih kreatif untuk mencari solusi.
“Mempengaruhi proses kerja, tapi juga membuat saya lebih kreatif dalam mencari solusi,” ujarnya.
Sekarang, Madina tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Dia memilih fokus dengan kariernya.
“Meskipun saya pernah diremehkan, tapi itu jadi motivasi untuk membuktikan kemampuan saya bahwa saya juga mampu,” ujarnya.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Madina menjadi salah satu Penerima Anugerah Wanita Puspakarya 2025 yang diselenggarakan Pemkot Semarang.
Dia juga menjadi Juara II IKM Fashion Award 2025, sebuah ajang penghargaan tahunan dari Dinas Perindustrian Kota Semarang untuk pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor fashion.
Di Hari Kartini pada Selasa (21/4/2026), Madina berharap perempuan disabilitas bisa mendapatkan hak setara dalam mencari penghidupan dan mimpi-mimpinya.
"Wanita Semarang Unggul, Inovatif, dan Inspiratif," ungkapnya. (*)
Sumber Kompas.com