Konflik Timur Tengah Memanas, Raksasa Produsen Kondom Karex Bhd Terpaksa Naikkan Harga
Moch Krisna April 21, 2026 09:32 PM

 






TRIBUNSUMSEL.COM --
 Ketegangan geopolitik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel kini mulai merembet ke industri kesehatan reproduksi.

Raksasa produsen kondom dunia asal Malaysia, Karex Bhd, mengumumkan rencana kenaikan harga jual produknya hingga 30 persen akibat terganggunya rantai pasok global imbas konflik bersenjata tersebut.

Chief Executive Officer (CEO) Karex Bhd, Goh Miah Kiat, bahkan menyatakan pihaknya tak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan kenaikan harga lebih jauh jika gangguan distribusi logistik akibat konflik di Timur Tengah tersebut terus berlarut-larut.

Selain faktor biaya, Karex saat ini tengah menghadapi lonjakan permintaan yang signifikan.

Hal ini diperparah dengan melambungnya biaya logistik dan keterlambatan pengiriman yang membuat stok barang di tangan pelanggan jauh lebih rendah dari tingkat normal.

"Situasinya jelas sangat rapuh, harga-harga mahal... Kami tidak punya pilihan selain memindahkan biaya tersebut saat ini kepada pelanggan," ujar Goh dalam sesi wawancara bersama Reuters, Selasa (21/4/2026) melansir dari Tribunnews.com

 

Pemasok Utama Global Terdampak

Sebagai informasi, Karex merupakan pemain kunci di industri alat kontrasepsi dunia dengan kapasitas produksi mencapai lebih dari 5 miliar kondom setiap tahunnya.

Perusahaan ini adalah pemasok utama bagi merek-merek ternama seperti Durex dan Trojan.

Tak hanya sektor komersial, Karex juga menyuplai kebutuhan sistem kesehatan negara seperti NHS di Inggris, serta berbagai program bantuan kemanusiaan global yang dikelola oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah Karex untuk menaikkan harga menambah daftar panjang perusahaan manufaktur, termasuk produsen sarung tangan medis, yang kini bersiap menghadapi kemacetan rantai pasok.

Perang Iran telah menekan arus energi dan petrokimia dari Timur Tengah, yang secara otomatis mengganggu pengadaan bahan baku industri.

 

Biaya Produksi Melambung

Goh menjelaskan bahwa sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, Karex harus menanggung kenaikan biaya produksi di hampir seluruh lini.

Kenaikan mencakup bahan karet sintetis dan nitril untuk bahan baku kondom, hingga material pengemasan dan pelumas seperti aluminium foil serta minyak silikon.

Meskipun biaya operasional meningkat, Goh memastikan bahwa Karex masih memiliki pasokan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.

Perusahaan juga berupaya menggenjot hasil produksi demi memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.

Kekhawatiran akan kelangkaan produk muncul setelah stok kondom dunia merosot tajam menyusul pemotongan besar-besaran anggaran bantuan luar negeri, terutama oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada tahun lalu.

Di awal tahun 2026 sendiri, permintaan kondom tercatat melonjak sekitar 30 persen.

Namun, masalah distribusi di jalur laut semakin memperparah kondisi kekurangan stok di berbagai belahan dunia.

Pengiriman produk Karex ke tujuan utama seperti Eropa dan Amerika Serikat kini memakan waktu hampir dua bulan, dua kali lipat lebih lama dibandingkan durasi normal yang biasanya hanya memakan waktu satu bulan.

"Kami melihat lebih banyak kondom sebenarnya tertahan di kapal-kapal yang belum tiba di tujuan namun sangat dibutuhkan," kata Goh.

Ia menambahkan bahwa banyak negara berkembang saat ini tidak memiliki stok yang memadai karena hambatan waktu pengiriman tersebut.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.