TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Keterbatasan ekonomi bukan penghalang menjalankan ibadah haji. Niat dan tekad menjadi bekal yang kuat.
Tekad kuat inilah yang selalu diperjuangkan Halimah dan Ili, pejuang haji yang menyisihkan sebagian penghasilan dari jualan siomay dan es mung-mung demi menyempurnakan agama dengan bertolak haji.
Halimah A Sujai (48) tengah sibuk menata tumpukan perlengkapan haji di rumahnya, di Jalan Sukasirna, RT 07 RW 12, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin, 20 April 2026 siang.
Satu per satu, kebutuhan ibadah haji dimasukkan Halimah ke dalam koper, mulai dari pakaian, kerudung hingga batik berwarna biru muda, ditata rapi.
Tak lupa, berbagai dokumen juga disiapkan Halimah, menggunakan tas terpisah.
“Kalau paspor sama kartu pengenal disimpan di tas berbeda, biar mudah ngambilnya,” ujar Halimah.
Ibu empat anak ini dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci melalui Embarkasi Indramayu, dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati Majalengka.
“Rabu (22 April) Insya Allah berangkat ke Asrama haji dulu. Saya masuknya gelombang pertama, kloter kedua,” katanya.
Halimah harusnya berangkat ke Baitullah bersama Suaminya, A Sujai. Namun, sang suami meninggal dunia pada 2021, sehingga digantikan anak pertamanya, Mutia Salsabila (22).
Baca juga: Cerita Sejumlah Peserta Saat Ikuti UTBK: Soal Menantang, Akui Pusing Saat Mengerjakan
Dari Gerobak Siomay ke Tanah Suci
Kebahagiaan terpancar dari wajah Halimah, saat menceritakan perjuangan mendapatkan tiket ke Arab Saudi bersama almarhum suaminya.
Halimah bersama almarhum suami sudah daftar sejak 13 Juni 2014, dengan modal tabungan hasil jualan siomay.
"Alhamdulillah, waktu itu daftar langsung ke bank, dengan uang Rp50 juta untuk berdua sama suami,” ucapnya.
Setelah mendaftar, Halimah dan suami rajin menyisihkan uang hasil usahanya selama bertahun-tahun. Bahkan, sang suami sampai rela berjualan bubur untuk menambah pemasukan.
“Jadi, pagi-pagi jualan bubur dulu, siangnya jualan siomay,” katanya.
Berjalannya waktu, pada 2021 sang suami meninggal karena sakit. Halimah sempat merasa putus asa, setelah kehilangan suaminya yang menjadi tulang punggung keluarga.
Sejak saat itu, usaha jualan bubur dan siomay tak lagi berjalan. Halimah tak sanggup menyiapkan semua kebutuhan dan berjualan seorang diri.
Halimah mengganti peran suaminya dengan bekerja serabutan, mulai dari mengasuh anak tetangga, membersihkan sisa benang di konveksi sekitar rumahnya.
Biasanya, Halimah mendapatkan upah Rp100 ribu. Uang tersebut, harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan empat orang anak yang masih sekolah.
“Kalau logika manusia, tidak akan cukup ya. Tapi Allah yang mencukupi,"
"Ibu cuma yakin kalau kita diundang sama Allah, berarti kita dimampukan sama Allah. Bukan kitanya yang mampu tapi Allah memampukan yang diundang," ujarnya.
Baca juga: Hari Kartini, Citra Pitriyami Berharap Sepak Terjangnya di Dunia Politik Semangati Kaum Perempuan
Di tengah keterbatasan itu, suaminya ternyata telah menyiapkan tabungan haji yang membuat semangat Halimah terus menyala.
Untuk pelunasan, Halimah rela menjual perhiasan peninggalan sang suami.
“Alhamdulillah tabungan sudah cukup buat naik haji sebelum suami meninggal. Jadi kita sekarang tidak nabung lagi. Kalau pelunasannya kemarin itu Rp62 juta untuk dua orang,” katanya.
Ratusan kilometer dari Bandung, cerita serupa dialami Ili (62). Di tengah terik matahari dan bunyi bel es keliling yang nyaring, perjalanan hidup Ili sebenarnya tak banyak berbeda dari pedagang kecil lainnya.
Hanya saja, pedagang es mung-mung keliling asal Dewi Sartika, Kelurahan/Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon ini, menyimpan mimpi besar dari balik gerobak es mung-mung yang didorongnya setiap hari.
Niat berhaji mulai tumbuh sejak 2005. Dari sana, Ili mulai menyisihkan sebagian penghasilannya setiap hari, meski jumlahnya tak menentu.
“Ya, nabung setiap hari. Kalau ada lebih Rp 50 ribu, disisihkan. Kadang kalau musim hujan cuma Rp 30 ribu, kalau ramai bisa sampai Rp 500 ribu,” ujar Ili.
Dari hasil jualan es mung-mung tersebut, Ili perlahan mengumpulkan tabungan untuk ongkos perjalanannya menuju Baitullah.
Hingga akhirnya, pada 2013, Ili berhasil mendapatkan nomor porsi haji dan dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026.
Menjelang keberangkatan, rasa haru dan bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Baca juga: Kuota Haji Cirebon 2026 Anjlok Drastis, Jemaah Berangkat 8 Mei 2026 Melalui Embarkasi Indramayu
“Bahagia banget, kayak orang lain sama, kayak bos-bos. Saya cuma jualan es,” katanya, sambil tersenyum.
Ili berharap keberangkatannya membawa berkah bagi orang-orang di sekitarnya.
“Mudah-mudahan anak cucu, keluarga, teman-teman bisa ke Baitullah juga,” ujarnya.
Menjelang keberangkatan, kabar kenaikan biaya haji akibat gejolak global sampai ke telinga Ili dan Halimah. Keduanya pun, sempat cemas.
Fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak pada biaya avtur, memicu kekhawatiran akan lonjakan biaya perjalanan haji.
“Sempat kepikiran, kalau naik tambahannya dari mana,” ujar Ili
Pun demikian dengan Halimah yang sempat was was batal berangkat haji tahun ini.
“Katanya akan naik, tapi ternyata tidak ada tambahan biaya,” ujar Halimah.
Peran Sunyi Dana Haji
Di balik tetap stabilnya biaya haji, terdapat peran pengelolaan dana haji yang dilakukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Melalui strategi pengelolaan yang hati-hati dan berkelanjutan, BPKH mampu menjaga keseimbangan antara biaya yang dibayar jemaah dengan nilai manfaat hasil pengelolaan dana.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menyatakan pihaknya berkomitmen menjaga stabilitas pembiayaan haji di tengah dinamika global.
“Pengelolaan keuangan haji dilakukan dengan prinsip keberlanjutan untuk menjamin pembiayaan jangka panjang yang stabil,” ujar Fadlul.
Langkah mitigasi juga dilakukan melalui penguatan likuiditas, diversifikasi investasi, hingga pengelolaan risiko terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga energi.
Upaya ini, berdampak langsung pada jemaah, yang tidak perlu menanggung lonjakan biaya secara tiba-tiba, termasuk Halimah dan Ili.
• Diky Candra Nilai Uji Coba CFD ASN Rabu di Kota Tasikmalaya Kurang Efektif, Minta Dikaji Ulang
Tanpa tambahan biaya, perjalanan yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun akhirnya tetap terjangkau.
Bersama Halimah dan Ili, ada 29.643 calon jemaah lain asal Jawa Barat yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci. Mayoritas diantaranya merupakan jemaah lanjut usia yang telah menunggu bertahun-tahun.
Kini, setelah perjalanan panjang, keduanya hanya membawa satu harapan.
“Semoga ibadahnya lancar dan berkah,” ujar Halimah.
Bagi mereka, haji bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi puncak dari kesabaran, kerja keras, dan keyakinan panjang yang akhirnya menemukan jalannya. (*)