Tampang Guru Diduga Culik Siswi SD Selama Dua Hari, Kenal dari Aplikasi Hijau
Kiki Novilia April 21, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Sumedang - Tampang Indra (34) guru honorer SMK di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang diduga menculik siswi kelas 6 SD, NAM. 

Ia ditangkap saat kedapatan membonceng korban di wilayah Sumedang Utara pada Minggu (19/4/2026) pukul 13.00 di Jalan Raya Sumedang -Wado, tepatnya di kawasan Sukatali, Kecamatan Situraja.

Adapun NAM sebelumnya dilaporkan hilang dari rumahnya selama dua hari atau sejak Jumat (17/4/2026) siang. Ia baru ditemukan bersama pelaku pada Minggu.

Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika, mengatakan motif utama perkara ini dilatarbelakangi dorongan nafsu birahi. 

"Motif pelaku didasari nafsu birahi," kata Kapolres, dikutip dari TribunJabar, Selasa (21/4/2026). 

Baca juga: WS Tak Berkutik Diamankan PPA Polres Way Kanan Usai Asusila Anak di Bawah Umur

Kapolres mengatakan, awal mula perkenalan pelaku dengan korbannya di sebuah 'aplikasi hijau' alias Michat. 

Jadi Perhatian Pakar

Kasus dugaan kekerasan terhadap siswi sekolah dasar di Kabupaten Sumedang menjadi pengingat pentingnya keharmonisan komunikasi dalam keluarga. 

Ketua Yayasan Peduli Generasi Muda sekaligus penanggung jawab LKSA Senandung PERADA Sumedang, Retno Ernawati, menekankan orang tua dan anak harus saling mendukung dalam menyelesaikan persoalan, bukan bersikap keras kepala.

Menurut Retno, dalam kasus tersebut orang tua sebenarnya diduga telah mengetahui adanya persoalan yang dialami anak.

Namun, pendekatan yang terlalu keras dinilai membuat penyelesaian tidak berjalan efektif.

“Di rumah sebetulnya orang tua sudah melihat ada masalah. Tapi karena terlalu keras, hasilnya jadi tidak efektif,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Ia menegaskan, penyelesaian masalah anak harus dilakukan secara bersama antara orang tua dan anak dengan pendekatan yang lebih suportif.

Sementara pihak luar, seperti lingkungan sosial atau lembaga, berperan sebagai pendukung.

“Kita harus mendukung dua-duanya, baik orang tua maupun anak, untuk bergandengan menyelesaikan masalah,” katanya.

Retno juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan rumah yang aman dan nyaman bagi anak. Menurutnya, rasa aman menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian di luar rumah saat menghadapi masalah.

“Yang jelas anak harus merasa aman dan nyaman di rumah. Jangan sampai anak merasa terancam di rumahnya sendiri,” ucapnya.

Ia menambahkan, komunikasi yang terbuka dan saling memahami menjadi fondasi utama dalam mencegah berbagai persoalan anak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.