Arief Maoshul Soroti Anomali Harga Telur di Pasaran
Siti Fatimah April 21, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat dari Fraksi PPP, Arief Maoshul Affandy, menyoroti ketimpangan harga telur ayam yang dinilai tidak wajar, karena harga di tingkat peternak justru jatuh, sementara di pasar tetap tinggi.

Arief menilai, kondisi tersebut sebagai anomali pasar yang merugikan produsen maupun konsumen.

Menurutnya, harga telur di tingkat peternak kerap berada di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP), namun tidak diikuti penurunan harga di tingkat konsumen.

“Ini menunjukkan keuntungan ekonomi tidak dinikmati peternak maupun masyarakat. Ada yang terserap di tengah, baik oleh spekulan maupun rantai distribusi yang tidak efisien,” ujar Arief, Selasa (21/4/2026). 

Arief menjelaskan, faktor distribusi memiliki peran besar dalam membentuk harga akhir telur di pasaran, dengan kontribusi mencapai 20 hingga 30 persen. 

Di Jawa Barat, persoalan distribusi masih dihadapkan pada sejumlah kendala, mulai dari biaya logistik hingga konektivitas antar wilayah.

Menurut Arief, biaya angkut yang fluktuatif mengikuti harga bahan bakar minyak turut mempengaruhi harga jual.

Selain itu, konektivitas antara sentra produksi seperti Ciamis dengan wilayah penyangga seperti Jabodetabek dinilai belum optimal.

“Distribusi kita belum efisien. Ditambah lagi ada persoalan asimetri informasi, di mana distributor besar justru lebih menguasai data stok dibanding pemerintah,” katanya.

Kondisi tersebut, kata Arief, membuka ruang bagi pengaturan pasokan di pasar yang berdampak pada harga di tingkat konsumen.

Arief juga menyoroti panjangnya rantai distribusi telur ayam yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama tingginya harga di pasaran. Secara ideal, rantai distribusi seharusnya hanya melibatkan peternak, distributor, dan pengecer.

 


Namun di lapangan, alurnya kerap lebih panjang, mulai dari peternak, pengepul kecil, pengepul besar, distributor, sub-distributor, agen, hingga pengecer.

 


“Setiap perpindahan tangan menambah margin dan biaya, yang akhirnya dibebankan ke konsumen, terutama ibu rumah tangga,” ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.