Jaga Tradisi, Dari Kayu Waru Perajin Jombang Hidupkan Wayang Topeng Jatiduwur 
Wiwit Purwanto April 22, 2026 12:32 AM

 

SURYA.CO.ID  JOMBANG - Suara ketukan pahat terdengar ritmis dari sebuah sudut Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. 

Di sana, seorang perajin yang akrab disapa Kopral duduk bersila, menekuni sepotong kayu waru di tangannya. Perlahan, serpihan demi serpihan terlepas, membentuk lekuk wajah topeng dengan karakter khas tegas, penuh makna, dan sarat cerita.

Di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, proses itu bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan upaya merawat ingatan kolektif. 

Tradisi Wayang Topeng Jatiduwur yang telah lama hidup di tengah masyarakat kini terus dihidupkan kembali, salah satunya melalui pengembangan pembuatan topeng.

Kayu waru dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah ditemukan di sekitar desa, bahan ini memiliki serat yang lentur sehingga memudahkan perajin membentuk detail karakter. 

Baca juga: Wayang Topeng Panji, Media Belajar Dokumentasi Budaya di Taman Budaya Jatim

Dari bahan sederhana itulah lahir beragam rupa tokoh yang selama ini dikenal di panggung pertunjukan.

Ikhtiar Menjaga Warisan Budaya

Bagi pengelola sanggar, Isma Hakim, langkah ini adalah bagian dari ikhtiar menjaga warisan budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Ia ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku.

"Anak-anak kami ajak belajar menari sekaligus mengenal bagaimana topeng itu dibuat," ucap Isma saat dikonfirmasi Tribunjatim.com pada Selasa (21/4/2026). 

Tak hanya untuk kebutuhan pementasan, topeng-topeng yang diproduksi juga disiapkan sebagai cendera mata.

Harapannya, setiap pengunjung yang datang bisa membawa pulang sepotong cerita dari Jatiduwur. Bahkan ke depan, berbagai elemen lain seperti selendang, koncer, hingga ornamen pendukung pertunjukan juga akan diproduksi secara mandiri.

Baca juga: Sosok Jollene Ferischea Miss Youth Jatim, Bangga Promosikan Segoro Topeng Kaliwungu di KEN 2025

"Kami inisatif kedepan akan memproduksi elemen lain, seperti selendang, koncer, sampai fasilitas pendukung pertunjukan lainnya," ujarnya melanjutkan. 

Langkah pengembangan ini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Setyo Yanuartuti dari Universitas Negeri Surabaya. 

Ia menilai Wayang Topeng Jatiduwur memiliki potensi besar sebagai sumber kreativitas. Setyo melihat kekuatan visual dari karakter topeng dapat dikembangkan menjadi berbagai produk seni, tanpa kehilangan identitasnya.

Menurutnya, kesenian ini tak harus selalu berada dalam ruang ritual. Dengan sentuhan inovasi, Wayang Topeng dapat hadir di berbagai panggung, bahkan merambah sektor ekonomi kreatif.

"Dari karakter topeng, busana, hingga musiknya, semua bisa menjadi inspirasi untuk karya baru," ungkapnya dalam keterangan yang diterima. 

Kolaborasi antara sanggar dan akademisi pun mulai diarahkan pada pengembangan merchandise berbasis seni kriya. Tujuannya jelas, membuka peluang ekonomi sekaligus memperluas jangkauan apresiasi terhadap Wayang Topeng Jatiduwur.

"Peluang ekonomi tentu harus dilihat lebih luas. Jawa Timur punya pasar yang besar untuk seni dan budaya. Ini menarik, saat merchandise bisa diproduksi, dan dijual, bisa membuka peluang ekonomi yang sangat baik bagi para perajinnya," katanya. 

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, upaya kecil dari sudut desa ini menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus diam di tempat. 

Dari sepotong kayu waru yang dipahat dengan sabar, lahir bukan hanya topeng, tetapi juga harapan bahwa budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan memberi makna bagi generasi yang akan datang.

"Generasi muda sekarang harus ditunjukkan bagaimana seni dan budaya lahir dan diberdayakan. Era gempuran informasi dan teknologi harus bisa dimanfaatkan menjadi wadah untuk memberdayakan tradisi yang masih dijaga di tengah masyarakat kita," pungkas Setyo Yanuartuti. 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.