TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Integrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan memicu pergeseran besar pada metode pengajaran tradisional.
Hal itu mengemuka dalam pengukuhan lima guru besar lintas disiplin ilmu di UPH yang digelar di Tangerang, Senin (20/4/2026).
Pakar pendidikan, Prof. Khoe Yao Tung, memaparkan bahwa penggunaan AI dalam desain pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk memahami proses belajar siswa secara lebih mendalam.
Khoe memaparkan riset berjudul ‘Personalized Learning, Desain Instruksional dan Artificial Intelligence sebagai Framework Pembelajaran Masa Depan’.
Dirinya menekankan bahwa teknologi berperan sebagai kerangka kerja untuk mengidentifikasi kebutuhan unik setiap individu secara akurat.
"AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi membantu merancang pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan bermakna bagi setiap siswa," ujar Prof. Khoe.
Peran guru kini berevolusi dari penyampai materi menjadi desainer pengalaman belajar yang berpusat pada siswa agar pendidikan tetap memiliki kedekatan emosional.
Di sisi lain, penguatan integritas manusia dalam sistem digital dan tata kelola publik juga menjadi sorotan.
Baca juga: Sosok Syamsiah Guru PKN di Purwakarta: Pertama Kali Diolok Siswa Sejak mengajar 2003
Pakar audit, Prof. Tanggor Sihombing, bersama pakar SDM, Prof. Ardi, menekankan bahwa kualitas informasi keuangan dan ketahanan terhadap tantangan zaman sangat bergantung pada independensi serta karakter individu sebagai penyeimbang sistem.
Sementara itu, dari sisi politik, Prof. Thomas Tokan Pureklolon menggarisbawahi konsep bonum commune, di mana kekuasaan dijalankan sebagai tanggung jawab moral melalui partisipasi publik.
Sejalan dengan itu, pakar pariwisata Prof. Juliana menawarkan paradigma pembangunan berbasis kolaborasi masyarakat lokal dan teknologi.