TRIBUN-TIMUR.COM - Nama Raden Ajeng Kartini tak pernah benar-benar pergi dari ingatan perempuan Indonesia.
Ia hidup dalam gagasan, dalam keberanian, dan dalam langkah-langkah kecil yang terus bergerak maju—melampaui zamannya.
Semangat itu pula terasa dalam kepemimpinan Andi Rachmatika ‘Cicu’ Dewi Yustitia Iqbal (42).
Di tengah ruang sidang yang kerap didominasi suara-suara keras dan kepentingan beragam, Cicu berdiri dengan satu keyakinan: perempuan harus hadir, bukan sekadar dilibatkan.
Peringatan Hari Kartini, 21 April 2026, ia mengingatkan perjuangan Kartini bukan sekadar cerita masa lalu.
Bukan pula seremoni tahunan yang selesai dalam satu hari. Bagi Cicu, Kartini adalah kerja belum usai.
“Hari Kartini mengajarkan kita untuk berpikir maju, berani bersuara, dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Nilai itu yang menjadi pegangan saya dalam menjalankan amanah,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, di baliknya tersimpan pengalaman panjang menghadapi dinamika politik yang tak selalu ramah bagi perempuan.
Ia paham, ruang bagi perempuan memang semakin terbuka.
Tetapi jalan menuju ke sana belum sepenuhnya rata.
Masih ada stigma.
Masih ada stereotip.
Masih ada keraguan yang kerap dibebankan hanya karena seseorang adalah perempuan.
Namun di situlah, menurutnya, semangat Kartini menemukan relevansinya.
Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk menembus batas.
“Perempuan tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah pembangunan,” katanya.
Di kursi Ketua DPRD Sulsel, Cicu tidak hanya membawa nama, tetapi juga harapan.
Ia menjadi perempuan kedua menduduki posisi tersebut, melanjutkan jejak yang sebelumnya diukir oleh Andi Ina Kartika Sari.
Dua periode berturut-turut dipimpin perempuan—sebuah catatan yang tidak sekadar angka, tetapi simbol perubahan yang perlahan menguat.
Sejak dilantik pada 31 Oktober 2024, Cicu menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi juga jembatan.
Jembatan antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat.
Antara aspirasi perempuan dan realitas di lapangan.
Ia percaya, kehadiran perempuan dalam proses pengambilan kebijakan akan menghadirkan sudut pandang yang lebih utuh.
Lebih peka.
Lebih menyentuh aspek sosial yang sering kali luput.
Karena itu, komitmennya jelas—mendorong kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak.
Bukan sekadar wacana, tetapi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan politiknya sendiri tidak datang secara instan.
Dukungan keluarga, kemampuan komunikasi, serta ketekunan membaca situasi menjadi modal penting yang membawanya hingga titik ini.
Namun bagi Cicu, posisi bukanlah tujuan akhir.
Ia melihatnya sebagai ruang untuk membuka jalan bagi perempuan lain.
Ia ingin lebih banyak perempuan berani melangkah.
Berani tampil.
Berani memimpin.
“Tidak ada yang tidak mungkin jika perempuan mau terus belajar dan berjuang. Yang penting adalah keberanian untuk memulai,” katanya.
Di tengah perubahan zaman, pesan itu terasa semakin relevan.
Bahwa perjuangan Kartini hari ini tidak lagi soal membuka akses pendidikan semata, tetapi juga membuka ruang kepemimpinan.
Di Sulawesi Selatan, jejak itu kini terlihat nyata.
Dan bagi generasi muda perempuan, Cicu menitipkan satu pesan sederhana—namun penuh makna.
“Perempuan hari ini harus berani mengambil peran, berani memimpin, dan berani membawa perubahan.”
Sebuah pesan yang, jika ditarik jauh ke belakang, terasa seperti gema dari suara Kartini.
Hanya saja kini, gema itu tak lagi terdengar dari balik surat-surat, melainkan dari ruang-ruang pengambilan keputusan.
Profil Cicu
Nama: drg Andi Rachmatika Dewi Yustitia Iqbal
Lahir: Makassar, 27 Oktober 1983
Pendidikan:
-SD 03 Pagi Pela Mampang Jakarta
-SMPN 141 Jakarta Selatan
-SMAN 6 Jakarta Selatan
-S1 Kedokteran Gigi Unhas
Organisasi:
-Wakil Ketua KNPI Makassar 2010
-Wakil Ketua HIPMI Makassar 2015-sekarang
-Ketua Gerakan Wanita Partai Nasdem 2015-sekarang
-Ketua Srikandi Pemuda Pancasila Makassar 2013-2016
-Wakil Ketua Benteng Komando Sulsel
-Wakil Ketua BKMT Kota Makassar
-Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sulsel
-Partai Golkar 2008-2013
-Partai Nasdem 2013-sekarang
Pekerjaan:
-Penyiar Radio Makassar 2003-2009
-Anggota DPRD Makassar 2009-2013
-Anggota DPRD Sulsel (sekarang)