TRIBUN-MEDAN.com- Selama 2021–2025, PT Agincourt Resources (PTAR) telah menghasilkan 187.615 bibit tanaman lokal dan tanaman cepat tumbuh yang disemai dan dikembangkan di nursery (fasilitas pembibitan) perusahaan itu.
"Pemanfaatan tanaman lokal memang menjadi salah satu pendekatan PT Agincourt Resources (PTAR) dalam rehabilitasi lahan," ujar Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, dikutip dari buletin Tona Smartabe.
Selain menjaga kelestarian dan eksistensi tanaman lokal, inisiatif itu membantu mengembalikan fungsi ekosistem secara bertahap.
Tanaman lokal memiliki peran penting dalam memulihkan lahan bekas tambang.
Tanaman lokal itu lebih adaptif terhadap kondisi setempat serta berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Untuk memastikan tanaman lokal tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan kembali dalam kegiatan rehabilitasi, PTAR melakukan berbagai langkah.
Mulai dari survei dan penilaian awal sebelum area tambang dimanfaatkan.
Survei dan identifikasi vegetasi dilakukan untuk mengetahui spesies tanaman yang terdapat di lokasi.
Kemudian penyelamatan tanaman bibit atau biji tanaman yang berpotensi terdampak dipindahkan agar dapat digunakan kembali dalam rehabilitasi lahan.
"Ada pun pengembangan di nursery dengan bibit atau biji tanaman lokal yang telah dikumpulkan sebelumnya dirawat dan dikembangkan hingga siap ditanam kembali," ujar Katarina.
Dia menjelaskan, fasilitas pembibitan PTAR hingga saat ini ada seluas 6.000 meter persegi dengan kapasitas produksi 60.000 bibit.
"Produksi bibit tanaman lokal dari tahun 2024-2025 ada 71.922 bibit, sementara total bibit tanaman lokal dan tanaman cepat tumbuh yang telah disemai dan dikembangkan di nursery selama 2021–2025 sudah sebanyak 187.615 bibit," kata Katarina.
Spesies Tanaman Lokal
Hingga Oktober 2025, PTAR telah membibitkan 12.869 bibit "local pioneer" dan 15.507 bibit "long-term local species" di nursery .
Beberapa jenis tanaman lokal yang dikembangkan di nursery PTAR mulai Hapinis, Tambiski,
Kapundung, Simarbaliding, Hapas-hapas, Mahoni, Kemenyan, Torop dan Meranti.
Tanaman-tanaman itu nantinya akan digunakan dalam rehabilitasi lahan di Tambang Emas Martabe.
"Tanaman lokal penting untuk rehabilitasi karena tanaman tersebut adaptif terhadap kondisi tanah dan iklim setempat," kata Katarina.
Termasuk mendukung ekosistem alami serta habitat satwa lokal, mengurangi erosi dan memperbaiki kualitas tanah serta meningkatkan keanekaragaman hayati kawasan rehabilitasi
Kolaborasi Ilmiah untuk Rehabilitasi
Untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi, PTAR bekerja sama dengan para ilmuwan dan lembaga akademik, termasuk Institut Pertanian Bogor.
Kolaborasi meliputi identifikasi intensif spesies tanaman lokal, peningkatan kapasitas pembibitan, penerapan teknik simbiosis mikoriza untuk meningkatkan keberhasilan penanaman dan pengawasan ilmiah terhadap proses rehabilitasi.
Melalui pemanfaatan tanaman lokal dan dukungan penelitian ilmiah, PTAR berupaya mengembalikan kawasan yang telah dimanfaatkan agar sedekat mungkin dengan kondisi alaminya.
"Bagi PTAR, rehabilitasi dan reklamasi lahan bekas tambang bukan sekadar menanam kembali pohon, melainkan juga upaya memulihkan keseimbangan ekosistem," kata Katarina.
(ase/tribun-medan.com)