TRIBUNNEWS.COM - Ahli digital forensik, Rismon Sianipar mengaku salah sempat menuding halaman lembar pengesahan skripsi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggunakan jenis font Times New Roman.
Dulu Rismon berhipotesis, Times New Roman belum ada di tahun 1985, tahun di mana Jokowi menyelesaikan skripsinya.
Tetapi sekarang, Rismon menyebut telah salah mengidentifikasi font tersebut.
Berdasar hasil temuan terbarunya, lembar pengesahan Jokowi ternyata menggunakan font Times Roman, yang lebih dulu ada sebelum Times New Roman.
Hal itu disampaikan Rismon dalam program Rakyat Bersuara yang ditayangkan iNews TV, Selasa (21/4/2026) malam.
"Dulu saya berkesimpulan ini ditulis dengan text editor, dengan word processor yang ada sejak 1983, karena saya berhipotesis saat itu, itu menggunakan Times New Roman," ungkapnya.
"Ternyata, saya pelajari lagi historinya sebelum lahir Times New Roman secara digital tahun 1983 di Microsoft Windows 3.1, itu ada juga yang namanya Times Roman yang ada sejak 1984, dengan lengkungan yang hampir sama dengan Times New Roman," ungkapnya.
Sehingga, memungkinkan pada tahun tersebut untuk membuat dokumen cetak seperti lembar pengesahan skripsi menggunakan font digital.
"Saya rekonstruksilah dengan Times Roman yang ada di 1984, digital font, ada di text editor Apple Machintos 1.3, itu sudah ada dengan koleksi keluarga font Serif, itu dikembangkan oleh perusahaan Adobe tahun 1984 dalam sistem teknologi post-script dan itu ada font type 1 dan 3, itu ada 1984," jelasnya.
Baca juga: Rismon Sianipar Terima SP3, Jokowi: Itu Kewenangan Polda Metro Jaya
Pada kesempatan yang juga dihadiri Roy Suryo itu, Rismon mengatakan lembar pengesahan skripsi seperti milik Jokowi telah banyak ditemukan.
"Seperti ini itu banyak lho saya temukan. Di Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi saya temukan. Jadi karena mahal, lembar pengesahan itu mereka pergi ke percetakan yang dicetak hanya satu dua sampai lima halaman pertama."
"Dan itu banyak saya temukan dan saya sembunyikan untuk mendukung kebohongan saya sebelumnya," ungkap Rismon yang mengundang reaksi kaget Roy Suryo dan para penonton.
Rismon mengaku, meski telah menemukan dokumen lain yang serupa, Ia saat itu masih berkeyakinan ada kejanggalan di skripsi Jokowi dan masih meyakini hipotesis sebelumnya.
Rismon menjelaskan, pada tahun 1984-1985 sudah ada sistem printer laser, namun biayanya sangat mahal karena harga printer saat itu seharga mobil.
"Mahasiswa hanya mampu supaya cantik itu skripsi, maka dicetak ke percetakan, mereka edit itu dengan teknologi font post-script saat itu, bentuknya, lengkungannya, mirip dengan digital font Times New Roman yang merupakan hipotesis saya yang salah sebelumnya," ungkapnya.
"Inilah yang salah, padahal, hal seperti ini banyak lho di fakultas lain, hanya depannya yang begini dan tidak ada tanda tangan penguji juga ada," tambahnya.
(Tribunnews.com/Gilang P)