Temuan Magma di Toskana, Harapan Baru Transisi Energi
Tribunnews April 22, 2026 01:38 AM

Ada aktivitas sangat hebat di bawah perbukitan hijau Toskana, Italia. Di sana, para peneliti menemukan ruang magma raksasa. Reservoir geotermal ini berukuran sekitar 6.000 kilometer kubik, kira-kira 25 kali lipat volume Danau Toba.

Yang istimewa dari temuan ini adalah tidak adanya tanda-tanda keberadaan ruang magma raksasa di permukaan. Sementara, reservoir sebesar itu di tempat lain biasanya ‘menunjukkan keberadaannya' lewat letusan gunung berapi, pembentukan kawah, atau geiser.

Tim peneliti dari Universitas Jenewa, Swiss, menemukan ruang magma tersebut dan mempublikasikan hasil temuannya pada bulan April dalam jurnal ilmiah Nature. "Kami tahu bahwa wilayah ini, yang membentang dari utara ke selatan Toskana, aktif secara geotermal,” kata sang penulis utama studi tersebut, Matteo Lupi dari Departemen Ilmu Bumi Universitas Jenewa. "Namun, kami tidak menyadari bahwa di sana terdapat volume magma sebesar itu, yang dapat disamakan dengan sistem supervulkan seperti yang ada di bawah Yellowstone (red. Taman Nasional yang terletak di barat AS).

Meskipun ukurannya besar, magma tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi penduduk di Toskana. "Suatu saat di masa depan, kemungkinan akan terjadi letusan di sini,” kata Lupi kepada DW. "Namun, kita berbicara dalam skala waktu geologis. Saat itu, kemungkinan besar sudah tidak ada lagi manusia yang tinggal di sana.” Meskipun demikian, penemuan ini memiliki nilai ilmiah yang besar.

Merekam 'suara' bumi

Para peneliti menemukan reservoir tersebut dengan bantuan teknik yang disebut "ambient noise tomography”, atau tomografi suara lingkungan. Teknik yang sama kerap digunakan sebelumya dalam studi seismologi, untuk mempelajari pembentukan dan penyebaran gelombang gempa.

"Kami menggunakan mikrofon yang merekam suara seismik,” kata Lupi. "Lagi pula, Bumi selalu mengeluarkan suara.” Suara-suara tersebut bisa berasal dari aktivitas manusia, tetapi juga dari proses alam seperti perubahan pasang surut air atau angin.

Jika gelombang suara membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai titik pengukuran berikutnya, itu pertanda bahwa batuan di bawah permukaan bumi memiliki kandungan cairan yang tinggi – seperti halnya magma. Para peneliti di Toskana menemukan gelombang suara yang lambat tersebut saat menganalisis 60 sensor yang mereka pasang untuk studi ini. "Pada kedalaman 8 hingga 10 kilometer, gelombang tersebut sangat lambat,” kata Lupi. Di sana, kemudian timnya menemukan ruang magma.

Temuan dan pemodelan yang berharga bagi transisi energi

Melalui analisis data pemindaian tersebut, para peneliti berhasil membuat pemodelan 3D wilayah di bawah permukaan bumi. Kemampuan untuk mendeteksi ruang magma dengan teknik tomografi serta membuat pemodelannya sangat berharga bagi masa depan transisi energi. Panas bumi adalah energi terbarukan yang dianggap semakin penting, karena tergolong stabil dan tidak bergantung pada cuaca seperti tenaga surya.

Lupi mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan sudah dapat menggunakan teknologi tomografi yang ia dan timnya gunakan untuk menentukan lokasi mana yang paling menguntungkan untuk pengeboran panas bumi. Proses ini cepat dan biayanya pun tidak mahal. "Satu-satunya kendala adalah perusahaan-perusahaan konservatif yang enggan menggunakan teknologi yang tidak mereka pahami,” kata peneliti tersebut. "Di Asia, sudah banyak perusahaan yang menggunakan metode ini. Di Swiss, lingkungannya lebih konservatif, sehingga metode ini belum banyak digunakan.”

Logam tanah jarang juga dapat dideteksi melalui tomografi

Tomografi suara lingkungan juga dapat membantu menemukan endapan litium atau logam tanah jarang. Bahan baku ini sangat berharga saat ini karena dibutuhkan untuk dalam baterai mobil listrik atau cip komputer. Saat ini, dunia masih sangat bergantung pada Cina untuk pasokan logam tanah jarang, di mana sebagian besar cadangan bahan baku tersebut telah ditemukan.

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.