Sosok Deddy Sitorus, Kader PDIP Cecar Bima Arya saat Singgung Fungsi E-KTP Dibanding MyKad
Facundo Chrysnha Pradipha April 22, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Anggota Komisi II DPR RI, Deddy Sitorus, mencecar Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya dalam rapat Komisi II DPR RI yang berlangsung belum lama ini.

Deddy Sitorus menyinggung fungsi dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang sudah memiliki teknologi chip bertahun-tahun namun tak sesuai dengan manfaatnya.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini bahkan membandingkan e-KTP dengan MyKad, kartu pengenal identias milik warga Malaysia yang dirancang sebagai multi-purpose smart card atau kartu pintar multifungsi.  

Deddy mengungkapkan rasa frustrasi masyarakat mengenai inkonsistensi sistem.

Meskipun KTP sudah canggih (memiliki chip), masyarakat masih sering diminta fotokopi KTP, Kartu Keluarga (KK), hingga akta lahir untuk urusan administrasi.

Ia menganggap birokrasi di Indonesia sangat melelahkan (beribet) karena data yang sudah ada di ujung jari tidak terintegrasi saat warga kehilangan dokumen atau membutuhkan layanan dasar.

Kesimpulannya, Deddy Sitorus ingin menekankan bahwa pemerintah perlu segera melakukan integrasi data nasional agar anggaran tidak terbuang percuma dan pelayanan publik tidak menyulitkan rakyat.

"Kita kalau urusan ngambur-ngamburkan uang tuh juara satu, Pak. Untuk data saja, padahal kalau kita pakai single apa namanya... ID card ini, KTP ini bisa dipakai untuk semua. Ini Pertamina keluar uang bikin data sendiri untuk subsidi, ya nggak nyelesaikan persoalan itu, banyak persoalan di sana," ungkap Deddy, dikutip dari YouTube TVR Parlemen..

"KPU keluarkan uang untuk data pemilih, triliun-triliun nih semua urusannya ini ya. Lalu BPJS bikin lagi, Kemensos bikin lagi, semuanya bikin hanya untuk urusan data. Luar biasa ini, pemborosan yang luar biasa kalau menurut saya."

"Entah kapan kita mau selesaikan. Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini, karena nggak pernah kelar. This is nothing personal Pak ya, tapi ini persoalan kita. Dan saya kira benar tadi yang disebutkan, ini soal political will."

"Untuk soal data ini, triliunan kita buang tuh tiap tahun. Tiap tahun. Padahal BRI punya data nasabah misalnya, dan lain-lain lah. Juga tadi rumitnya kita punya KTP, udah pakai chip apa-apa, urusan harus pakai fotokopi lagi. Ditanya lagi KK, ditanya lagi surat lahir, ditanya lagi kalau kami ini surat baptis, mampus kita!"

Baca juga: MyKad KTP-nya Warga Malaysia Disinggung di Rapat Komisi II DPR, Perbandingan dengan e-KTP Indonesia

"Lalu buat apa kita udah ada ujungnya? Ketika kita hilang KTP diminta itu semua lagi. Ini kan urusannya negara, this is very basic government services. Kenapa jadi begini beribet gitu loh menurut saya."

Sosok Deddy Sitorus

Deddy Sitorus memiliki nama lengkap Deddy Yevri Hanteru Sitorus.

Ia lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut) pada 17 November 1970.

Deddy merupakan lulusan S1 Pertanian Universitas Simalungun pada 1996.

Pada tahun 2006, ia berhasil meraih gelar Master of Arts dari Kingston University.

Sebelum menjadi anggota legislatif, ia berkecimpung di dunia bisnis.

Berbagai jabatan strategis pernah diembannya.

Suami dari Suriany itu tercatat pernah menjabat sebagai Komisaris PT Takagama (2009–2018), Direktur Eksekutif PT Optima Consulting Network (2010–2012), serta Indonesia Country Representative Exclusive Analysis (Acquires by IHS) (2011–2013).

Dikutip dari Wikipedia, Deddy juga pernah menjadi Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast (2014–2017), Komisaris Independen PTPN III (Holding), (2017–2019), dan Komisaris Independen PT Berkah Multi Cargo (anak perusahaan Pelindo III) (2017–2019).

Ia kemudian melebarkan sayapnya ke dunia politik.

Pada 2019, Deddy berhasil melenggang ke Senayan melalui PDI-P, dari daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Utara.

Keberhasilan tersebut berlanjut pada periode berikutnya.

Pada 2024, ia kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dengan perolehan 59.335 suara.

Di sisi lain, pria berusia 55 tahun itu juga aktif dalam berorganisasi.

Ia menjadi Pendiri dan Presidium Koalisi Anti Utang (2000–2001) serta Komunitas Aksi Solidaritas Buruh Indonesia (1998–2000).

Riwayat Pendidikan:

  • SD Perguruan Kristen Kalam Kudus Pematangsiantar (1983)
  • SMP Negeri 4 Pematangsiantar (1986)
  • SMA Negeri 3 Pematangsiantar (1988)
  • S-1 Sarjana Pertanian, Universitas Simalungun (1996)
  • S-2 Master of Arts, Kingston University (2006)

Karier:

  • Komisaris Independen PT Berkah Multi Cargo (anak perusahaan Pelindo III) (2017–2019)
  • Komisaris Independen PTPN III (Holding), (2017–2019)
  • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast (2014–2017)
  • South East Asia Researcher IHS - Exclusive Analysis (2013–2018)
  • Komisaris PT Optima Consulting Network (2012–2014)
  • Indonesia Country Representative Exclusive Analysis (Acquires by IHS) (2011–2013)
  • Direktur Eksekutif PT Optima Consulting Network (2010–2012)
  • Komisaris PT Takagama (2009–2018)

Organisasi:

  • Pendiri dan Presidium Koalisi Anti Utang (2000–2001)
  • Indonesia Representative, South East Council for Food Security and Fair Trade (SEACON) (1999–2001)
  • Pendiri dan Presidium Komunitas Aksi Solidaritas Buruh Indonesia (1998–2000)
  • Indonesia Representative, Friends of The Earth (1998–1999)
  • Indonesia Representative, Asian NGO Coalition on Rural Development and Agrarian Reform (ANGOC) (1998–2001)
  • Indonesia Representative, International Council on Social Welfare (ICSW) (1998–1999)

Harta Kekayaan 

Deddy Sitorus tercatat memiliki total harta kekayaan sebesar Rp27.651.925.944 atau Rp27,6 miliar.

Hartanya itu terdaftar di dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilaporkannya terakhir kali pada 25 Februari 2025.

Harta terbanyaknya berasal dari kas dan setara kas sebesar Rp15.425.298.586 atau Rp15,4 miliar.

Sumber harta terbanyak kedua milik Deddy berasal dari 8 aset tanah dan bangunan senilai Rp9,9 miliar.

Berikut daftar lengkap rincian harta kekayaan Deddy Sitorus:

A. TANAH DAN BANGUNAN Rp. 9.922.071.000

1. Tanah dan Bangunan Seluas 204 m2/219 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA TIMUR , HASIL SENDIRI Rp. 2.000.000.000

2. Tanah dan Bangunan Seluas 30 m2/30 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA TIMUR , HASIL SENDIRI Rp. 414.071.000

3. Tanah dan Bangunan Seluas 56 m2/56 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN , HASIL SENDIRI Rp. 2.250.000.000

4. Tanah Seluas 561 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA TIMUR , HASIL SENDIRI Rp. 4.500.000.000

5. Tanah Seluas 538 m2 di KAB / KOTA BULUNGAN, HASIL SENDIRI Rp. 500.000.000

6. Tanah Seluas 2.500 m2 di KAB / KOTA KOTA TARAKAN , HASIL SENDIRI Rp. 75.000.000

7. Tanah Seluas 2.500 m2 di KAB / KOTA KOTA TARAKAN , HASIL SENDIRI Rp. 75.000.000

8. Tanah Seluas 4.000 m2 di KAB / KOTA BULELENG, HASIL SENDIRI Rp. 108.000.000

B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp. 2.175.000.000

1. MOBIL, HYUNDAI CRETA Tahun 2022, HASIL SENDIRI Rp. 180.000.000

2. MOTOR, ITALJET DRAGSTER Tahun 2022, HASIL SENDIRI Rp. 20.000.000

3. MOTOR, QUADRO QOODER Tahun 2019, HASIL SENDIRI Rp. 75.000.000

4. MOBIL, TOYOTA APLHARD Tahun 2021, HASIL SENDIRI Rp. 700.000.000

5. MOBIL, HYUNDAI IONIC 5 Tahun 2022, HASIL SENDIRI Rp. 400.000.000

6. KAPAL LAUT/PERAHU, KAPAL KAPAL SPEED BOAT Tahun 2021, HASIL SENDIRI Rp. 800.000.000

C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp. ----

D. SURAT BERHARGA Rp. ----

E. KAS DAN SETARA KAS Rp. 15.425.298.586

F. HARTA LAINNYA Rp. 129.556.358

Sub Total Rp. 27.651.925.944

III. HUTANG Rp. ----

IV. TOTAL HARTA KEKAYAAN (II-III) Rp. 27.651.925.944

(Tribunnews.com/ Chrysnha, Falza)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.