TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Slow travel kini menjadi tren. Dari banyak tempat, Bhutan menjadi salah satu destinasi ideal untuk menenangkan dan menyegarkan jiwa.
Slow travel adalah tren wisata yang mengutamakan perjalanan santai, mendalam, dan sadar, fokus pada kualitas pengalaman daripada kuantitas destinasi.
Kerajaan kecil di Himalaya ini pun menawarkan beragam festival budaya dan pengalaman berbasis alam yang menghadirkan ketenangan, interaksi autentik, serta kesempatan untuk menikmati harmoni antara tradisi, spiritualitas, dan keindahan lanskapnya.
“Bhutan bukan sekadar destinasi; ini adalah perjalanan melintasi waktu, budaya, dan alam,” ujar Direktur Departemen Pariwisata, Damcho Rinzin ditulis di Jakarta, Selasa (21/4).
Ada banyak kegiatan sepanjang tahun 2026 ini, seperti yang disampaikan
Departemen Pariwisata Bhutan, di bawah Kementerian Industri dan Ketenagakerjaan.
Beberapa festival yang wajib dikunjungi selama enam bulan ke depan.
Mulai di musim dingin, mekarnya bunga di musim semi, semarak festival musim panas, hingga perayaan di musim gugur.
Sepanjang 2026, Bhutan menghadirkan rangkaian festival yang memadukan keindahan alam, budaya, dan tradisi spiritual.
Pada musim semi, Rhododendron Week (3–9 April 2026, Sheytemi, Trashigang) dan Rhododendron Festival (22–23 April 2026, menampilkan mekarnya ratusan spesies bunga di tengah aktivitas wisata alam dan edukasi lingkungan.
Sementara Haa Spring Festival (7-9 April, Haa Valley) merayakan kehidupan nomaden melalui kuliner, pertunjukan budaya, dan interaksi dengan masyarakat lokal.
Baca juga: 10 Negara Terbaik untuk Dikunjungi Bulan November: Jelajahi Puncak Himalaya di Bhutan, Ada Thailand
Memasuki musim panas, Great Yeti Quest (8-9 Mei 2026, Sakteng, Trashigang) menawarkan pengalaman petualangan dan trekking yang terinspirasi legenda Yeti, sedangkan Matsutake Festival (23-24 Agustus 2026, Ura). Di dua lokasi berbeda mengangkat tradisi kuliner jamur liar yang bernilai ekonomi dan budaya, sekaligus edukasi tentang keberlanjutan.
Pada musim gugur, Bhutan menampilkan festival spiritual besar seperti Thimphu Drubchen 17 September 2026, Thimpu)
dan Thimphu Tshechu (21–23 September 2026, Thimphu) yang dipenuhi tarian topeng sakral, ritual keagamaan, dan perayaan budaya masyarakat.
Rangkaian festival ditutup dengan Bathing Carnival di Pemagatshel, (22–24 September 2026) yang menghadirkan tradisi wellness khas Bhutan seperti pemandian herbal dan hot-stone dalam suasana relaksasi dan kebersamaan.
Secara keseluruhan, festival-festival ini mencerminkan identitas Bhutan sebagai destinasi yang menggabungkan alam, spiritualitas, dan budaya dalam pengalaman wisata yang autentik dan bermakna.
Pada musim dingin (Desember–Februari) menghadirkan pegunungan bersalju dan suasana tenang di lembah terpencil, sementara musim semi (Maret–Mei) dipenuhi bunga-bunga bermekaran seperti rhododendron dan anggrek, serta berbagai festival yang merayakan alam dan budaya lokal.
Pada periode ini, aktivitas seperti hiking dan eksplorasi alam menjadi sangat menarik dengan lanskap yang memukau.
Memasuki musim panas (Juni–Agustus), Bhutan berubah menjadi hamparan lembah nan hijau dengan sungai yang mengalir jernih dan lanskap pertanian yang melimpah, menjadikannya waktu yang tepat untuk trekking, arung jeram, serta memancing dengan teknik fly-fishing.
Sementara itu, musim gugur (September–November) menjadi waktu perayaan budaya dan spiritual, ditandai dengan festival besar yang menampilkan tarian topeng sakral dan ritual Buddha, serta langit cerah yang sempurna untuk menikmati pemandangan pegunungan.
Bhutan menerapkan konsep pariwisata “high-value, low-volume” untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, dengan membatasi jumlah wisatawan namun tetap memberikan pengalaman yang berkualitas.
Pengunjung juga disarankan menggunakan operator tur resmi agar perjalanan lebih teratur, bermakna, dan dapat menikmati keindahan alam serta budaya lokal secara maksimal.
(*)