Apakah Gangguan Psikosomatis Berkaitan dengan Trauma Masa Lalu?
Melia Istighfaroh April 22, 2026 05:42 AM

Pertanyaan:

Apakah trauma masa lalu juga mempengaruhi atau mungkin berperan dalam gangguan psikosomatis ini, Dokter?

Fitri Saputri, Magelang.

Jawaban dari dr. Sitaresmi Raras N, Sp. KJ:

Iya. Jadi, mungkin sebelum masuk itu kita ke mekanisme dulu ya, bagaimana stres atau gangguan pada atau faktor psikologis ini dapat mempengaruhi keluhan fisik.

Jadi gini, ketika kita sedang menerima stress ya, ditangkap oleh bagian otak namanya amigdala diteruskan ke hipotalamus terus merangsang kelenjar adrenal lokasinya di atas ginjal untuk menghasilkan kortisol. 

Nah, amigdala kalo bisa dibilang adalah ikut mengatur emosi kita juga ya. Dia mengatur fungsi fight or flight ketika ada ancaman, ketika ada stres, ini aktif gitu. 
Ketika amigdala aktif, dia akan merespon tubuh supaya tubuh siap menghadapi ancaman gitu, stressor. 

Jadi otomatis sistem saraf simpatik akan bekerja.

Baca juga: FKG Unhas Gelar Talkshow Internasional, Kupas Sejarah dan Jejak Maritim Indonesia–Jepang

ilustrasi prikosomatis
ilustrasi prikosomatis (tribunnews.com)

Sistem saraf simpatik ini yang dikerjakan adalah mungkin detak jantungnya lebih keras, frekuensinya lebih tinggi, terus habis itu asam lambung akan meningkat, terus otot-otot akan menegang.

Karena ini dipergunakan untuk pertahanan diri, itu memang respon sewajarnya ketika kita mendapat ancaman atau stressor.

Nah, pada pasien gangguan psikosomatis ada gangguan impuls ini. Jadi sesuatu yang sebenarnya ancamannya tidak terlalu besar cuma deadline aja, tapi sinyalnya ini yang akhirnya menangkapnya bahaya yang besar sekali.

Mungkin kayak misal ya ada harimau di depan mata gitu. 
Jadi kayak udah langsung deg-degan terus habis itu ototnya menegang untuk persiapan lari dan sebagainya gitu.
 
Jadi respon terhadap stresnya berlangsung terus-menerus karena terlalu sensitif juga ya itu impulsnya.

Terus akhirnya kondisi simpatis saraf simpatis ini bekerja terlalu lama dan terlalu sering gitu.

Akhirnya dapat menyebabkan itu tadi nyeri yang macam-macam seperti itu. 

Nah, pada pasien yang sudah pernah, orang yang sudah pernah mengalami trauma ya apalagi childhood trauma, itu perannya adalah di sini amigdala ini menjadi hipersensitif, hiperaktif ya dia, dia hiperaktif.

Karena apa? amigdala sudah istilahnya overload ketika ada trauma.

Jadi dia akan terbiasa atau lebih hipersensitif, lebih aktif pada kemudian hari saat dia dewasa juga gitu.

Jadi karena di bagian amigdala atau respon fight or flightnya aja sudah sangat sensitif, dia akan gampang tertrigger gitu.

Jadi itu yang menyebabkan dia juga jadi lebih tidak bisa rileks.

Terus akhirnya stressor-stressor yang sedikit pun sudah dapat memicu respon tubuh untuk menghadapi stres itu yang akhirnya berkepanjangan, akhirnya lebih rentan untuk menjadi gangguan psikosomatis kayak gitu.

Bagi sahabat health yang ingin menyimak podcast ini secara lengkap bisa klik link YouTube di bawah ini.

Profil dr. Sitaresmi Raras N, Sp. KJ

dr. Sitaresmi Raras N, Sp. KJ adalah seorang Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUD Bung Karno Surakarta.

RSUD Bung Karno Surakarta beralamat di Jl. Sungai Serang I, RT.03/RW.03, Mojo, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta.

(Tribunhealth.com/Niken)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.