Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Rabu, 22 April 2026
KESELAMATAN: JERITAN KERINDUAN MANUSIA
(Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a.4-5.6-7a; Yoh. 6:35-40)
"Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang." (Yoh. 6:37)
Dalam jeritan pergumulan hidup, satu hal yang menjadi dasar perjuangan serentak pengharapan manusia ialah kebaikan, kenyamanan, kedamian dan keselamatan. Mental instan, asal jadi, cari gampang menggerogi daya tahan militansi manusia dalam menggapai hal yang paling baik dalam hidup.
Tantangan dalam dunia pendidikan di era digital ialah game lebih menarik enggan lepas HP dan belajar giat.
Banyak siswa terlantar, jarang masuk namun ingin punya ijazah. Ini tantangan mendasar yang melumpuhkan banyak aspek dalam hidup.
Turunan selanjutnya ekonomi parah, politik kepentingan lebih dominan ketimbang kesejahteraan bersama (bonum individuum - bonum commune).
Penghayatan hidup rohani mandeg dan hidup jadi khaos. Jaminan keselamatan dari Allah ada pada Yesus, namun orang tidak percaya pada-Nya.
Seperti jeritan pergumulan untuk menggapai hal terbaik hingga keselamatan, demikian kasih Allah tak terbatas bagi manusia.
Kehendak kudus Allah bagi manusia seperti disampaikan dengan tegas oleh Yesus, "Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang telah melihat Anak dan percaya kepada-Nya betoleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yoh. 6:40).
Dalam spirit kehendak Bapa Yesus menerima siapa pun yang datang kepada-Nya. Pada Yesus ada hidup kekal, sebab dalam Dia ada kebangkitan. Maka Yesus menegaskan tentang Diri-Nya, "Akulah Roti Hidup."
Percaya dan dekat pada Yesus pada dasarnya tak terlepas dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dengan pengantaraan Yesus Putra-Nya. Kasih Allah bagi manusia abadi adanya. Apakah semua manusia membuka diri dan sungguh percaya pada Yesus seutuh-Nya?
Kesulitan keselamatan selalu ada. Stefanus dibunuh dan Saulus makin beringas terhadap umat Yesus.
Tantangan penganiayaan tak membuat para rasul surut dalam karya pewartaan kabar keselamatan.
Filipus ke kota Samaria, pewartaannya diteguhkan Tuhan sendiri dengan mukjizat, penyembuhan orang sakit dan pengusiran roh jahat.
Walau tantangan terus menantang, namun jumlah orang yang percaya bertambah banyak dan bertumbuh dengan cepat. Dengan demikian karya pewartaan Tuhan menjadi sumber kegembiraan yang menakjubkan.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Bersorak-sorailah bagi Allah hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah, "Betapa dahsyat segala pekerjaan-Mu!" (Mzm. 66:1-3a).
Kita percaya, lalu datang dan bersama Yesus masuk dalam lingkaran keselamatan Allah Bapa-Nya.