TRIBUN-SULBAR.COM - Skandal jaringan prostitusi menerpa dunia sepakbola.
Sebanyak 70 pemain terkenal Eropa disebut terlibat dalam skandal tersebut.
Skandal jaringan prostitusi bernilai £1 juta atau sekitar Rp20 miliar dibongkar oleh kepolisian Italia.
Tak hanya pesepakbola, pembalap formula 1 juga disebut terlibat dalam kejahatan tersebut.
Baca juga: Wabup Mamuju Tengah Ungkap Ancaman Serius Narkoba dan Prostitusi, Minta Peran Aktif Ibu-ibu
Baca juga: Asal 4 Wanita Digrebek Warga dalam Sebuah Rumah BTN Diduga Jadi Tempat Prostitusi di Polman
Meski begitu, identitas para pemain sepakbola dan pembalap formulai 1 tidak disebutkan.
Kepolisian Italia masih melakukan pendalaman bukti keterlibatan pemain klub raksasa Eropa tersebut.
Menurut laporan Metro, jaringan ini diungkap melalui penyelidikan panjang yang melibatkan penyadapan komunikasi (wiretap).
Dalam operasi tersebut, aparat menemukan adanya layanan prostitusi terselubung yang dikemas dalam bentuk “paket hiburan eksklusif”, termasuk akses klub malam, pesta privat, hingga layanan seksual.
Nilai transaksi dalam jaringan ini disebut mencapai lebih dari £1 juta, dengan aliran uang yang terorganisir rapi.
Skandal ini semakin menghebohkan karena diduga melibatkan sekitar 70 pesepak bola profesional, termasuk dari kompetisi papan atas Eropa.
Selain itu, seorang pembalap Formula 1 juga disebut ikut terseret dalam pusaran kasus tersebut.
Namun penting dicatat, laporan menyebut para atlet tersebut tidak semuanya berstatus tersangka.
Sebagian besar diduga sebagai klien dari layanan ilegal tersebut.
Hal ini juga diperkuat laporan media lain seperti The Sun yang menyebut para pemain tidak berada dalam penyelidikan kriminal langsung, melainkan terkait sebagai pengguna jasa.
Jaringan ini beroperasi dengan modus menawarkan paket hiburan eksklusif kepada klien kelas atas, termasuk atlet profesional.
Layanan tersebut mencakup:
Akses VIP ke klub malam
Pesta privat di hotel mewah
Penyediaan perempuan untuk layanan seksual.
Menurut hasil penyelidikan, para perempuan yang terlibat dijanjikan bayaran dan akomodasi selama menjalankan aktivitas tersebut.
Selain itu, aparat juga menemukan indikasi pencucian uang dalam operasional jaringan ini.
Dalam penggerebekan, polisi menyita dana lebih dari €1,2 juta (sekitar Rp20 miliar) yang diduga berasal dari aktivitas ilegal tersebut.
Beberapa orang yang diduga sebagai operator jaringan telah ditangkap dan kini tengah menjalani proses hukum.
Penyelidikan juga mengungkap detail lain, termasuk percakapan sensitif yang memperkuat dugaan aktivitas ilegal dalam jaringan tersebut.
Skandal ini berpotensi menjadi salah satu kasus terbesar yang mencoreng dunia sepak bola Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Meski belum ada pemain yang secara resmi dijerat hukum, keterlibatan sebagai klien tetap menjadi sorotan publik dan berisiko merusak reputasi mereka.
Pengamat sepak bola menilai kasus ini bisa berdampak pada citra liga dan klub, terutama jika identitas para pemain akhirnya terungkap.
(*)