TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Baru tiga hari harga LPG nonsubsidi naik, sejumlah usaha kuliner di Kota Jambi mulai gulung tikar.
Dua tempat usaha, yaitu UMKM kuliner berbahan ayam dan UMKM kuliner siomay yang terkenal di Kota Jambi, tutup.
Kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram dan 5,5 kilogram berdampak langsung pada biaya produksi tidak lagi sebanding dengan pendapatan pelaku usaha.
Sebuah usaha kuliner di kawasan Danau Sipin dilaporkan telah menutup operasionalnya mulai Senin (20/4/2026).
Pemilik usaha yang enggan disebutkan namanya, menuturkan penutupan dilakukan setelah biaya operasional terus meningkat.
“Konsumen itu-itu saja, tapi penjual makin banyak,” ujarnya.
Kenaikan harga LPG 12 Kg, ujarnya, menjadi beban terbesar dalam operasional usaha.
Menurutnya, dalam usaha kuliner berbasis ayam, gas merupakan kebutuhan utama untuk memasak.
Selain LPG, harga bahan pendukung seperti plastik dan kertas pembungkus juga mengalami kenaikan.
Sementara itu, pelaku usaha tidak dapat menaikkan harga jual karena tingginya persaingan.
“Gas naik, plastik naik, kertas pembungkus naik. Sementara harga jual tidak mungkin dinaikkan karena saingan banyak,” katanya.
Kenaikan harga LPG nonsubsidi yang berlaku sejak 18 April 2026 dinilai semakin mempersempit margin keuntungan pelaku usaha kecil.
Jika harga dinaikkan, dikhawatirkan pelanggan akan beralih ke tempat lain.
Namun jika tidak, pelaku usaha berisiko mengalami kerugian.
Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga bahan baku lain seperti kacang yang sudah terjadi sejak akhir 2025.
Di sisi lain, jumlah pelaku usaha kuliner di Kota Jambi terus bertambah sehingga persaingan semakin ketat.
“Yang jualan makin banyak, tapi pembeli segitu-segitu saja,” ujarnya.
Berat Biaya Produksi
Situasi serupa juga dialami pelaku usaha kuliner di Kecamatan Alam Barajo.
Seorang pedagang siomay dan batagor terpaksa menutup usahanya karena biaya produksi tidak lagi tertutupi.
“Tidak bisa menutup biaya produksi,” katanya.
Selain LPG, kenaikan harga bahan baku dan kemasan turut membebani usaha tersebut.
Kenaikan harga LPG nonsubsidi disebut dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak global serta kondisi geopolitik yang mengganggu distribusi energi.
Dampaknya kini mulai dirasakan hingga ke tingkat usaha kecil di daerah.
Penutupan sejumlah usaha kuliner menjadi indikasi tekanan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha mikro.
Pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga atau menanggung kerugian.
Sebagian memilih bertahan, sementara lainnya terpaksa menghentikan usaha.
Kondisi ini dikhawatirkan akan terus berlanjut jika harga energi dan bahan baku tidak stabil. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)
Baca juga: Hari Ini Harga Sawit di Jambi Dibanderol Rp3.958 per Kg di Pabrik
Baca juga: UMKM Rempeyek Zaitun Selamat karena Jargas, Gas LPG Non Subsidi dan Plastik Naik