SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan di Jawa Timur (Jatim) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan 2026 dengan menyiapkan langkah strategis terintegrasi, seiring prediksi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, saat memaparkan langkah antisipasi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Antisipasi dan Mitigasi Kemarau 2026, yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta Selatan.
"Langkah-langkah strategi itu saya paparkan saat Rakornas bersama Kementeri Pertanian yang langsung dipimpin pak Menteri pada Senin (20/4/2026) kemarin, " kata Yuhronur Efendi, Rabu (22/4/2026).
Pemkab Lamongan menyiapkan langkah konkret untuk menjaga produksi pertanian, memastikan ketersediaan pangan, dan melindungi kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya fenomena El Nino pada semester II 2026 mencapai 70–90 persen.
Menyitir pernyataan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dampaknya sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, sementara 57,2 persen wilayah akan mengalami kemarau lebih panjang.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan:
Langkah Pemkab Lamongan selaras dengan kebijakan pemerintah pusat, yang menyiapkan distribusi pompa air untuk mendukung pengairan hingga 1 juta hektare lahan pertanian.
Secara nasional, produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pada 2026, pemerintah menargetkan produksi meningkat menjadi minimal 35,69 juta ton untuk memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang ekspor.
Bupati Yuhronur menegaskan, kesiapsiagaan sejak dini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan dan ketersediaan air masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen mengantisipasi dampak musim kemarau melalui optimalisasi jaringan irigasi, penyediaan sarana pengairan seperti pompa air dan waduk, normalisasi sungai, serta penguatan koordinasi lintas sektor,” ujarnya.
“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, Lamongan optimistis mampu menghadapi tantangan kekeringan sekaligus terus berkontribusi sebagai lumbung pangan nasional,” pungkasnya.