Mengapa Trump Selalu Berubah Sikap di Perang Iran? Analis Sebut AS Bisa Terjebak
Garudea Prabawati April 22, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sikap plin-plan kembali ditunjukkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tentang perang Iran.

Sebelumnya, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan memperpanjang waktu gencatan senjata dengan Iran.

Menurut Trump, Iran harus mau bernegosiasi dengan AS karena ia memiliki kesepakatan yang bagus.

"Saya rasa mereka tidak punya pilihan," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Squawk Box CNBC, Selasa (21/4/2026) pagi.

"Kita telah melumpuhkan angkatan laut mereka, kita telah melumpuhkan angkatan udara mereka, kita telah melumpuhkan para pemimpin mereka," lanjutnya.

Trump menegaskan tidak ada kata "perpanjangan waktu" untuk gencatan senjata yang sudah berjalan selama dua pekan terakhir.

"Saya tidak ingin melakukan itu (gencatan senjata)," tegasnya.

Namun, belum ada 24 jam sejak pernyataan tersebut, Trump berubah pikiran.

Trump pada Selasa (21/4/2026) malam mengumumkan bahwa ia memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan.

Mengutip Axios, pengumuman ini disampaikan beberapa jam sebelum gencatan senjata akan berakhir.

Meskipun langkah tersebut menandakan bahwa Trump belum siap untuk melanjutkan perang, hal itu berisiko mengurangi pengaruhnya.

Baca juga: Negara Arab Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang, Dampak Selat Hormuz Jadi Sorotan

Trump menulis di Truth Social bahwa ia membuat keputusan tersebut atas permintaan mediator Pakistan — kepala militer Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

"Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, kami diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," tulis Trump.

Gencatan senjata, lanjut Trump, akan berlangsung sampai proposal Iran diajukan, dan diskusi diselesaikan, baik dengan cara apa pun.

Trump mengatakan dia telah mengarahkan militer AS untuk melanjutkan blokade angkatan laut di pelabuhan Iran dan "tetap siap dan mampu" untuk melanjutkan perang jika diperlukan.

Lantas, pertanyaannya mengapa Trump selalu berubah sikap terkait perang Iran ini?

Sejumlah pakar kebijakan luar negeri menyoroti bahwa pesan-pesan Trump yang berubah-ubah mencerminkan gaya pengambilan keputusan yang lebih mengandalkan intuisi pribadi ketimbang data intelijen resmi.

"Ada dua perang yang terjadi saat ini: satu perang di lapangan oleh militer, dan satu lagi perang di dalam pikiran Donald Trump," ungkap seorang analis senior dalam laporan PBS.

Para analis di Chatham House dan Council on Foreign Relations memperingatkan bahwa strategi plin-plan ini bisa menjebak AS ke dalam jebakan eskalasi.

Tanpa adanya tujuan akhir yang jelas, Iran bisa merasa tidak memiliki pilihan selain terus melawan.

"Trump adalah seorang penjudi, tapi dia bukan orang yang ingin bunuh diri"

"Masalahnya, dia menyukai tangga eskalasi karena dia merasa paling nyaman di sana," tulis pengamat di The Guardian.

Baca juga: Iran Siap Lanjutkan Perang, Ancam Lumpuhkan Minyak Negara Teluk jika Teheran Ikut Diserang

Iran Masih Belum Mau Berunding

Pemerintah Iran menegaskan hingga kini belum ada keputusan final terkait rencana kehadiran delegasi mereka dalam meja perundingan dengan AS di Pakistan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak ingin sekadar "formalitas" dalam diplomasi.

Menurutnya, setiap langkah diplomatik yang diambil Iran harus memberikan keuntungan nyata bagi kepentingan nasional mereka.

"Datang dan pergi ke meja perundingan bukanlah ukuran kesuksesan."

"Bagi kami, yang terpenting adalah apakah partisipasi tersebut benar-benar sejalan dengan kepentingan nasional kita atau tidak," ujar Baghaei, mengutip WANA News Agency.

Dalam pernyataannya, Baghaei juga melontarkan kritik pedas terhadap AS.

Ia menilai ada jurang pemisah yang lebar antara retorika manis diplomatik Washington dengan tindakan mereka di lapangan.

Baghaei mengingatkan kembali bagaimana Iran tetap patuh pada kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) bahkan setahun setelah AS secara sepihak keluar dari perjanjian tersebut di era Trump.

Hal ini, menurut Baghaei, adalah bukti bahwa Iran adalah aktor yang bertanggung jawab, sementara AS kerap melanggar janji.

Saat disinggung mengenai agenda apa saja yang akan dibawa — termasuk kemungkinan pembahasan isu nuklir yang sensitif — Baghaei memilih untuk menutup rapat informasi tersebut.

"Rincian mengenai agenda hanya akan dibahas jika kami sudah memutuskan untuk berangkat. Untuk saat ini, belum ada keputusan final," tegasnya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.