TRIBUNJAKARTA.COM - Sosok pelaut sekaligus konten kreator, Andrian Umar, kembali menjadi sorotan publik usai kontennya terkait kapal tanker milik Pertamina, Gamsunoro, viral di media sosial.
Video yang direkam saat berpapasan di Selat Hormuz itu memicu perdebatan luas di kalangan netizen.
Dalam video awalnya, Andrian mengaku kecewa setelah mengetahui tidak ada satu pun warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi kru di kapal tersebut.
Ia menilai kondisi tersebut cukup memprihatinkan, mengingat Indonesia memiliki jumlah pelaut yang besar.
"Sebagai putra bangsa pasti kecewa, karena kalau enggak ada pelaut Indonesia, oke fine artinya enggak ada yang sanggup bawa kapal itu. Tapi Indonesia itu memiliki 1,4 juta pelaut, kita itu ada di urutan ketiga di dunia untuk non perwira," ujarnya dikutip dari Instagramnya beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, Andrian juga sempat menyoroti fenomena banyaknya pelaut Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri karena merasa kurang dihargai di dalam negeri.
Namun, setelah videonya viral dan menuai beragam reaksi, Adrian kemudian memberikan klarifikasi yang justru mengubah sudut pandang sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kapal berbendera asing dengan kru multinasional merupakan hal yang lazim dalam industri pelayaran internasional.
Menurutnya, praktik tersebut dikenal sebagai flag of convenience, yakni sistem di mana perusahaan mendaftarkan kapal di negara lain untuk mendapatkan keuntungan bisnis, seperti pajak lebih rendah, biaya operasional lebih efisien, serta regulasi yang lebih fleksibel.
"Di dalam dunia pelayaran ada yang namanya, flag of convenience di mana perusahaan kapal atau pemilik kapal itu berhak mendaftarkan kapalnya menggunakan negara lain yang menurut mereka itu menguntungkan bagi perusahaan ataupun pemilik kapal termasuk Pertamina Gamsunoro dan Pertamina Pride," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan bendera negara seperti Panama atau Singapura membuat perusahaan bebas merekrut kru dari berbagai negara, tidak terbatas pada tenaga kerja lokal.
Meski demikian, Andrian mengakui bahwa sistem tersebut bisa menjadi "boomerang" bagi pelaut Indonesia karena berpotensi mengurangi peluang kerja di kapal-kapal milik perusahaan nasional.
"Sedangkan kalau kita menggunakan bendera Singapura atau Panama itu bebas kalian bebas memilih kru dari mana aja. Tapi, ini sebenarnya menjadi boomerang bagi pelaut-pelaut indonesia," katanya.
Lebih lanjut, Andrian menyoroti faktor regulasi sebagai salah satu alasan utama di balik praktik tersebut.
Ia menilai, sejumlah negara memiliki aturan yang lebih sederhana dan pro terhadap bisnis dibandingkan Indonesia.
"Di beberapa negara, contohnya misalnya Panama atau Singapura itu aturannya jelas enggak ribet dan pro terhadap bisnis artinya menguntungkan bagi para pebisnis nah sedangkan kalau di Indonesia ya gua enggak perlu jelasin. Kayaknya sebenarnya itu gimana kalau di Indonesia. Nah, yang jadi pertanyaan poinnya adalah apakah ini menguntungkan, atau buntung?" ujarnya.
Adrian menegaskan bahwa kasus kapal Gamsunoro bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan praktik yang umum terjadi di berbagai negara.
"Kasus Gamsunoro maupun Pertamina pride itu sangat normal. Enggak cuma di Indonesia, hampir seluruh negara di dunia ini yang memiliki kapal itu menggunakan sistem seperti ini," katanya.
Pernyataan terbaru Andrian tersebut kemudian memicu beragam respons dari netizen di Instagram.
Sejumlah netizen menilai narasi yang disampaikan Andrian berpotensi menggiring opini tanpa penjelasan utuh mengenai industri pelayaran.
Salah satu pengguna Instagram dengan akun ishak0306 memberikan penjelasan dari perspektif industri pelayaran.
Ia menyoroti adanya skema bisnis yang umum digunakan dalam dunia shipping.
"Sebaiknya sebelum memviralkan sesuatu dapat cross n check terlebih dahulu..
Sebagai pelaut yg berkarir di Tanker sejak 2001 sy melihatnya dari sisi prespektif Shipping Business Industry dimana terdapat beberapa jenis charter party yg lazim digunakan yg salah satunya adalah Barboat Charter yaitu skema penyewaan kapal tanpa crew dan bahan bakar dimana pencarter mengambil alih penuh operasional, manajemen teknis, asuransi dan manning crew kapal," tulisnya.
"Perlu diketahui bahwa Gamsunoro telah berganti port registry (bendera) dari Indonesia ke Panama dan di-managemeni oleh BSM (bernarld schulte management) dan dicarter oleh Aramco Trading Company.
Jadi kenapa Gamsonoro crewnya orang asing? Jawabanya adalah karena kapal tersebut di sewakan ke foreign oil major company dalam hal ini Aramco Trading Company dengan skema Barboat Charter," lanjutnya.
Kritik juga datang dari akun lainnya yang menilai konten tersebut kurang didukung riset yang memadai.
"Ga mungkin ada asap kalo ga ada api, di video pertama narasi brother menggiring opini liar publik yg menurut saya sangat disayangkan. Harap lebih bijak dalam memberikan narasi brother. Kumpulkan literasi yg cukup sebelum video kita jd bola liar di media sosial, hqrqp lebih bijak. Sukses selalu brother," tulis @brahmatyo.
Tak hanya itu, ada pula netizen yang menyoroti adanya kontradiksi antara video awal dan klarifikasi yang disampaikan kemudian.
"Ini kontradiksi sekali mas sama yg anda buat di video awal, setelah saya komentari di video awal baru keluar video ini. Mas bro sepertinya paham tp ga paham alias bodoh tp pintar, atau memang mau cari banyak viewer aja? Saran saya buat video yg normal aja mas, yg meng edukasi, jangan kaya gini. Banyak netizen yg ga paham dan malah jd gaduh dan bs timbul perpecahan. Buat video ttg pengetahuan kapal aja tanpa bahas politik dan bisnis," tulis @andhikariyandhani.
Komentar lain juga menyinggung dampak dari konten viral yang dianggap memicu kesalahpahaman publik.
"next be smart bang. sebelum cuap2 riset dulu. jgn cuma cari viral. diklarifikasipun nasi sdh menjadi bubur. opini liar dimasyarakat sdh terjadi," tulisnya @wulaniyulia.