Sekolah Setujui Saran Kang Dedi Mulyadi Soal Hukuman Siswa SMA 1 Purwakarta yang Hina Guru
Rita Lismini April 22, 2026 02:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Sebelumnya pihak sekolah menjatuhkan hukuman bagi siswa SMA Negeri 1 Purwakarta yang menghina guru berupa skorsing selama 19 hari. 

Namun, Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi tidak setuju dengan keputusan sekolah tersebut. 

Kang Dedi Mulyadi merasa keputusan tersebut kurang tepat untuk memberikan efek jera. 

Gubernur Jabar itu pun menyarankan agar para Siswa SMA Negeri 1 Purwakarta itu menjalani sanksi sosial.

Menanggapi soal ini sekolah pun akhirnya memutuskan siswa tersebut bersih-bersih sekolah selama sebulan dan belajar di ruang khusus. 

Gubernur Jabar Turun Langsung 

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi turun langsung menemui para siswa dan siswi SMAN di Purwakarta yang sempat viral karena diduga mengejek guru mereka.

Kedatangan Dedi ke sekolah tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi para siswa setelah insiden yang sempat menyita perhatian publik itu, sekaligus memastikan tindak lanjut pembinaan yang diberikan pihak sekolah.

Diketahui, sembilan siswa yang sebelumnya terancam sanksi skorsing atau dirumahkan, akhirnya tidak jadi menerima hukuman tersebut.

Pihak sekolah memilih mengikuti saran dari Dedi Mulyadi dalam menentukan bentuk pembinaan yang lebih edukatif.

Sebagai gantinya, para siswa yang terlibat dalam kasus perundungan terhadap guru itu diminta menjalani kerja sosial di lingkungan sekolah.

Mereka diwajibkan membersihkan area sekolah setiap hari selama tiga bulan sebagai bentuk tanggung jawab dan pembelajaran.

Tidak hanya itu, para siswa juga akan mendapatkan pembinaan akhlak dan penguatan karakter yang dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.

Saat mendatangi sekolah pada Selasa (21/4/2026), Dedi Mulyadi tampak semringah.

Ia merasa cukup tenang melihat perkembangan para siswa tersebut.

Pada kesempatan itu, para siswa yang sempat viral karena mengolok-olok guru justru tengah menjalani aktivitas keagamaan.

Delapan siswa terlihat sedang mengaji, sementara satu siswa lainnya tampak membaca Al Kitab.

"Ini anak-anaknya mereka lagi refleksi. Jadi dari sembilan orang itu ada non muslim satu orang, delapannya muslim," ungkap guru BK.

"Laki-laki berapa orang?" tanya Dedi Mulyadi.

"Laki-laki ada tiga, perempuannya enam," ujar guru BK.

Penasaran, Dedi Mulyadi pun bertanya soal asal-usul sembilan siswa pelaku perundungan terhadap guru tersebut.

Pihak sekolah lantas menjelaskan bahwa sembilan murid tersebut berasal dari jalur masuk yang berbeda-beda.

Yakni ada yang masuk lewat jalur zonasi, prestasi, dan juga afirmasi.

Bukan cuma itu, Dedi juga bertanya soal kondisi keluarga dari tiap anak-anak yang bermasalah tersebut.

Diungkap guru BK, sembilan anak-anak pelaku perundungan guru itu berasal dari keluarga yang utuh, harmonis dan perekonomian menengah ke atas.

"Di rumahnya mereka (anak-anak yang olok guru) tidak ada problem psikologi?" tanya Dedi Mulyadi.

"Enggak ada," jawab guru BK.

"Enggak ada problem keluarga?" tanya Dedi Mulyadi.

"Enggak ada," imbuh guru BK.

"Problem ekonomi?" tanya Dedi Mulyadi lagi.

"Enggak ada pak, sebagian besar orangtuanya mampu, orangtuanya juga menyesali perbuatan anaknya," kata guru BK.

Lebih lanjut, sang guru menceritakan aktivitas sembilan murid tersebut setelah dapat hukuman.

Mereka diminta untuk bersih-bersih lingkungan sekolah, lalu diberikan pengajaran terkait akhlak.

"Ini dari hari senin, udah dua hari (anak-anak dibina)," kata guru BK.

"Mereka ngaji dari jam berapa sampai jam berapa?" tanya Dedi.

"Tadi mereka datang pagi bersih-bersih dulu, setelah bersih-bersih mereka ngaji bareng temannya, mereka tadarus satu hari satu juz dibagi bersembilan. Yang satu kristen, dia bawa al kitab sendiri," ungkap guru BK.

Dedi Mulyadi lantas bertanya soal respon orangtua dari para pelaku perundungan terhadap guru tersebut.

Alih-alih marah, orangtua para pelaku kata gurunya, justru senang dengan hukuman yang disarankan oleh Dedi.

"Tapi intinya orangtuanya tidak komplain?" tanya Dedi.

"Sama sekali tidak. (Orangtua) sangat bersyukur dengan aturan yang ada di sini," ungkap guru BK.

"Jadi kalau saya menyampaikan hukumannya bersih-bersih deh," pungkas Dedi.

"Mereka (orangtua) sangat bersyukur sekali karena buat kebiasaan mereka (anak-anak) juga," ujar guru BK.

Perihal kondisi terkini sembilan siswa tersebut, guru BK mengurai fakta.

"Mereka sekarang happy?" tanya Dedi.

"Alhamdulillah," imbuh guru BK.

"Awalnya mereka syok?" tanya Dedi.

"Betul pak, awalnya syok sekali kayak terpuruk kembali. Sekarang sudah kuat, hadapi kembali," pungkas guru BK.

"Mereka kan harus dibina, harus mengajar yang tidak baik jadi yang baik," jelas Dedi.

Diungkap Dedi, sembilan murid tersebut nantinya akan dibina di barak militer.

"Nanti bulan Juni mereka ikut program barak militer, nanti bareng ketua osis yang sekarang," ujar Dedi.

VIRAL DI MEDSOS - Foto Guru bernama Bu Atun Syamsiah yang diolok-olok hingga diacungkan jari tengah oleh siswa SMA Negeri 1 Purwakarta perkara tak terima diubah kelompok belajar, Selasa (21/4/2026).
VIRAL DI MEDSOS - Foto Guru bernama Bu Atun Syamsiah yang diolok-olok hingga diacungkan jari tengah oleh siswa SMA Negeri 1 Purwakarta perkara tak terima diubah kelompok belajar, Selasa (21/4/2026). (Instagram/@infojawabarat)

Pengakuan Guru Syamsiah 

Bu Atun Ia menceritakan awalnya para murid tersebut bersikap biasa saja, bahkan terbilang santun.

"Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain," katanya.

Setelah melihat video yang beredar, bu Atun merasa sedih.

Ia tak menyangka ternyata murid yang di depannya bersikap santun, justru meledek di belakang.

Namun, melihat para siswa menyadari kesalahan dan menangis menyesali perbuatannya sudah lebih dari cukup.

“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,

Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya. 

Pendidik yang telah mengabdi sejak tahun 2003 ini memegang prinsip bahwa perilaku nakal siswa hanyalah sebuah fase yang bisa diubah melalui pendidikan yang konsisten dan penuh kesabaran.

“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat,

Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” tuturnya.

Kronologi di balik video viral

Insiden ini terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS, tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) mengenai pengolahan makanan selesai.

Syamsiah mengaku saat itu ia hanya fokus menjaga ketertiban kelas dan tidak menyadari jika tindakan provokatif siswa tersebut direkam.

“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.

Meski sempat merasa sedih secara manusiawi, Syamsiah memilih untuk menguatkan diri melalui keikhlasan.

Ia menganggap luka hati yang muncul dapat disembuhkan dengan komitmennya untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya.

Sanksi pembinaan

Meski telah dimaafkan secara pribadi oleh Syamsiah, prosedur institusi tetap berjalan sebagai bentuk evaluasi. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, memastikan bahwa sembilan siswa tersebut tidak akan dikeluarkan dari sekolah.

Sebagai gantinya, mereka akan menjalani masa pembinaan intensif selama tiga bulan, dilansir dari Kompas.com, Senin.

Langkah ini selaras dengan saran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar sanksi yang diberikan bersifat mendidik, seperti kerja sosial membersihkan fasilitas sekolah, daripada sekadar memberikan skorsing yang menjauhkan siswa dari lingkungan pendidikan.

Melalui kejadian ini, Syamsiah berharap pendidikan karakter dan adab kembali menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan.

"Adab itu hal utama. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," ujar Syamsiah.

"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," sambungnya.

Siswa Minta Maaf 

Menanggapi polemik yang terjadi, pihak sekolah bersama para siswa kemudian memberikan klarifikasi melalui video lanjutan yang diunggah akun Instagram @infojawabarat pada Sabtu (18/4/2026).

Dalam video itu, seorang siswi bernama Hamila tampil sebagai perwakilan kelas dan menyampaikan penyesalan atas tindakan yang telah dilakukan.

Ia mengakui bahwa perilaku tersebut tidak pantas ditujukan kepada guru mereka.

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu guru atas tindakan kami yang kurang berkenan. Kami menyadari kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ungkapnya.

Di akhir video, seluruh siswa tampak menundukkan kepala dan secara bersama-sama mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan yang telah terjadi.

 

Sumber: Kompas.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.