Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kenaikan harga LPG nonsubsidi mulai dirasakan warga Bengkulu, termasuk Lina, yang mengaku harus tetap bertahan di tengah lonjakan harga meski tidak berencana beralih ke gas subsidi.
Harga LPG nonsubsidi di Kota Bengkulu mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Untuk ukuran 5,5 kilogram kini dijual Rp111.000 per tabung, sedangkan ukuran 12 kilogram mencapai Rp230.000 per tabung.
Kenaikan ini cukup signifikan dibanding harga sebelumnya. LPG 5,5 kilogram yang sebelumnya berada di kisaran Rp94.000 kini naik Rp17.000.
Sementara LPG 12 kilogram mengalami kenaikan lebih tinggi, dari Rp196.000 menjadi Rp230.000 atau naik Rp34.000 per tabung.
Kenaikan Harga Bebani Warga
Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat, terutama kalangan menengah yang selama ini mengandalkan LPG nonsubsidi untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Lina, yang merupakan warga Rawa Makmur, mengaku kenaikan harga gas tersebut menambah beban pengeluaran keluarga.
Apalagi, kata dia, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada LPG, tetapi juga pada sejumlah kebutuhan pokok lainnya.
“Harapannya agar gas non subsidi ini bisa turun. Soalnya sekarang barang-barang kebutuhan pokok juga banyak yang ikut naik, sementara penghasilan kami sebagai masyarakat menengah ini tidak ada peningkatan,” ujar Lina kepada TribunBengkulu.com, Rabu (22/4/2026).
Enggan Beralih ke LPG Subsidi
Terkait peluang beralih ke LPG subsidi, Lina mengaku tidak berencana melakukannya.
Ia menilai penggunaan LPG subsidi seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat yang benar-benar berhak.
“Kalau untuk beralih ke gas subsidi, saya rasa tidak. Masih banyak masyarakat yang lebih berhak menggunakannya,” tambahnya.
Ia mengatakan, kondisi saat ini membuat masyarakat harus lebih cermat dalam mengatur keuangan rumah tangga.
Penggunaan gas kini dihemat agar tidak cepat habis dan tidak terlalu sering membeli tabung baru.
Harapan Harga Bisa Turun
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga, sehingga kebutuhan energi rumah tangga tetap terjangkau di tengah tekanan ekonomi.
"Harapannya agar gas non subsidi ini bisa turun, apalagi barang barang kebutuhan pokok lainnya banyak yang ikut naik, sementara penghasilan atau pendapatan kaum menengah tidak naik, ini yang untuk kaum menengah rasakan sekarang," harapnya.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini