Reaksi DPRD Lebak Soal Nasib Saminah : Tinggal di Gubuk Reyot, Suami Stroke, Bansos Tak Kunjung Ada
Ahmad Tajudin April 22, 2026 03:02 PM

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Ketua DPRD Kabupaten Lebak, Juwita Wulandari, menggapai terkait nasib Saminah (51) warga Kecamatan Cikulur, Lebak, tinggal di rumah gubuk reyot namun tidak mendapatkan bantuan sosial (Bansos). 

Diketahui, Saminah tinggal di gubuk reyot bersama suaminya bernama Kapi (61) yang mengalami stroke kurang lebih sudah 15 tahun lamanya. 

Mereka tinggal berdua di gubuk berukuran 2x2 meter persegi dari bambu. Sementara kolongan rumahnya, dijadikan sebagai tempat memelihara kambing. 

Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, peran RT dan RW hingga kepala desa (Kades) harus lebih dimaksimal kembali dalam melakukan pendataan dan pengawasan bagi warga kurang mampu. 

Hal penting dilakukan agar penerima bansos bisa lebih tepat sasaran dan kejadian serupa tidak selalu terulang kembali. 

"Itu perlu, soalnya data yang di atas itu masukan dari bawah. Masa iya, kita secara kasat mata lihat kondisi tersebut, desil nya desil tinggi. Berarti kan ada yang salah pendataan yang di bawah," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026). 

Baca juga: Kades di Lebak Diminta Objektif Data Warga Miskin, Regen Abdul Aris : Cek yang Sebenarnya

Politis PDI Perjuangan itu menyampaikan, semua pihak harus bergotong royong dalam mengatasi permasalahan tersebut, mulai dari bawah hingga atas. 

Menurut Juwita, adanya kejadian itu harus dijadikan peringatan atau warning bagi semuanya, termasuk pemerintah daerah. 

"Apalagi kan sudah beberapa tahun nasib nya seperti itu, masa mau dibiarkan," ujarnya. 

Juwita berharap semua pihak harus memiliki empati ketika ada warga yang mengalami kesusahan. 

"Kita harus mengingatkan, harus memberi tau kalau ada masyarakat kita di bawah seperti ini, harus ditindaklanjuti," pungkasnya. 

Sebelumnya, Saminah mengatakan, rumah yang ia tempati sekarang ini bekas rumah yang dulunya pernah ambruk kurang lebih sudah 15 tahun lamanya. 

"Sudah sekitar lima tahun tinggal di sini. Rumah sebelumnya ambruk, enggak punya biaya untuk memperbaiki," ujarnya Senin (20/4/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Saminah bekerja serabutan sebagai buruh tani di lahan milik orang lain. 

Dari pekerjaan itu, ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp30.000 per hari.

Untuk mencari tambahan penghasilan Saminah pun merawat kambing milik orang lain untuk menambah penghasilan.

"Ya dicukup-cukupin saja, mau gimana lagi," katanya. 

Saminah (51), warga Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten harus bertahan di tengah keterbatasan.
Saminah (51), warga Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten harus bertahan di tengah keterbatasan. (TribunBanten.com)

Ia mengaku pernah menerima bantuan pemerintah. Namun kini bantuan tersebut terhenti karena kartu bantuan sosialnya diblokir tanpa kejelasan.

"Dulu ada bantuan, sekarang sudah enggak ada. Katanya kartunya diblokir," ungkapnya.

Saminah memiliki tiga orang anak, dua tengah menempuh pendidikan di pondok pesantren di Pandeglang, sementara satu anak lainnya bekerja di Jakarta.

"Yang dua mah itu ngaji, Pak, yang satu kerja di Jakarta," katanya. 

Ia mengungkapkan, bahwa suaminya yang sakit menahun semakin memperberat beban hidupnya. Meski telah berobat, penyakit stroke yang diderita Kapi tak kunjung membaik.

"Sudah diobatin, tapi enggak sembuh-sembuh," ujarnya.

Sementara itu, salah satu tetangga, Yuyu mengaku prihatin, melihat kondisi Saminah.

Terlebih, Saminah tidak sudah tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. 

"Sedih lihatnya. Mau bantu juga sama-sama susah. Dari pemerintah juga enggak ada bantuan, beras saja enggak pernah dapat," katanya. 

Yuyu berharap, pemerintah segera memberikan perhatian kepada Saminah. 

"Semoga ada bantuan buat Ibu Saminah dan suaminya. Kasihan, sudah lama sakit dan rumahnya juga seperti itu," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.