TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah resmi menunda pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8 yang semula dijadwalkan berlangsung pada April 2026 ini.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya ketegangan dan eskalasi situasi geopolitik yang memengaruhi negara-negara anggota.
Langkah penundaan ini menjadi keputusan bersama setelah melihat dinamika keamanan global yang dinilai tidak kondusif untuk menyelenggarakan pertemuan tingkat kepala negara.
Dijelaskan Sugiono, penundaan ini bertujuan untuk memastikan seluruh anggota dapat berpartisipasi secara maksimal dalam situasi yang lebih stabil.
"KTT D-8 yang seyogianya kemarin dilaksanakan di bulan April ini kita tunda karena ada perkembangan dan eskalasi situasi yang juga dialami oleh negara-negara anggota," ujar Sugiono di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2026).
Pemerintah, kata Sugiono, saat ini terus memantau perkembangan situasi internasional sebelum menetapkan jadwal baru untuk pertemuan organisasi kerja sama ekonomi tersebut.
Sugiono mengingatkan bahwa koordinasi intensif antarnegara anggota tetap berjalan meski agenda utama harus mengalami penjadwalan ulang.
"Jadi nanti kita akan melihat perkembangan situasinya untuk melaksanakan KTT tersebut," tutur Sugiono.
Ia mengatakan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor yang menyita perhatian negara-negara anggota D-8.
Dinamika di Iran dan ketegangan di jalur perdagangan energi dunia diakuinya telah menciptakan kompleksitas baru dalam diplomasi multilateral.
Hal inilah yang mendorong negara-negara D-8 untuk lebih fokus pada penanganan situasi internal dan regional masing-masing terlebih dahulu.
Organisasi D-8 merupakan kelompok negara berkembang yang memiliki populasi muslim besar terdiri dari Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turkiye.
Hingga saat ini, Kemlu RI belum memberikan tanggal pasti terkait kapan KTT ini akan kembali digelar.