Mbah Tiwi Bertahan Sendiri, Lansia di Kota Yogyakarta Sambung Hidup Jual Nasi Rames Sebatang Kara
Yoseph Hary W April 22, 2026 06:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tinggal sebatang kara membuat Sumartiwi harus berjuang sendiri. Usianya sudah 76 tahun dan ia telah kehilangan suaminya kala pandemi COVID-19.

Berjuang sebatang kara

Sementara putranya sudah jauh lebih lama meninggal dunia. Kini ia harus bertahan sendirian.

Untuk menyambung hidup, Mbah Tiwi sapaannya, berjualan nasi rames di tepi Jalan Kolonel Sugiono, Mergangsan, Kota Yogyakarta. 

Di warung sederhana itu, ia menjual ayam goreng, telur, gorengan, serta aneka minuman kemasan. 

Setiap pagi, ia mengayuh sepeda onthel tuanya dari daerah Kotagede. Di tengah perjalanan, ia mampir membeli ayam untuk dijual di warungnya. 

“Dari rumah itu jam 07.00, sampai sini (warungnya) jam 08.00. Naik sepeda kan, beli ayam juga, belinya nggak di pasar. Sudah langganan di pinggir jalan,” katanya, Rabu (22/4/2026). 

Tubuh renta melawan usia

Tangannya keriput, punggungnya bungkuk termakan usia, tertatih-tatih Mbah Tiwi mempersiapkan dagangannya. Ia membungkuk, memotong tempe menjadi beberapa bagian dan membaluri dengan adonan tepung. 

Setelahnya, ia menggoreng tempe itu ke dalam minyak panas di atas tungku arang. 

Sumartiwi atau Mbah Tiwi, lansia di Kota Yogyakarta menjual nasi rames di Jalan Kolonel Sugiono, Mergangsan, Kota Yogyakarta, seorang diri, Rabu (22/4/2026). Suami dan anaknya telah meninggal dunia sehingga ia sebatang kara.
Sumartiwi atau Mbah Tiwi, lansia di Kota Yogyakarta menjual nasi rames di Jalan Kolonel Sugiono, Mergangsan, Kota Yogyakarta, seorang diri, Rabu (22/4/2026). Suami dan anaknya telah meninggal dunia sehingga ia sebatang kara. (Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani)

Ada empat tungku arang di sana, satu digunakan untuk memasak air dengan cerek, lainnya digunakan untuk menggoreng dan menanak nasi dengan ketel. Sementara satu tungku arang ia siapkan sebagai cadangan. 

Kala hujan, ia harus lebih bekerja keras. Tubuh renta itu harus mengangkat terpal yang disimpan di belakang gerobaknya. Ia berjibaku, melawan hujan dan memasang terpal sebagai atap. 

Ketika hujan deras, terpalnya terkadang tak mampu menahan air yang tertampung. Sesekali ia harus membenahi terpalnya, agar air yang tertampung tak mengguyur. 

Dulu menjahit kolor bersama suami

Sebelum membuka nasi rames, ia menjahit celana kolor bersama suaminya. Namun kemudian suaminya meninggal dunia. 

“Terus menikah dengan mbah kakung (suami kedua), membuka warung ini sejak 2001. Dulu gempa itu bikin tenda di sini, kayak orang kemah,” terangnya. 

“Pas corona (COVID-19) meninggal. Kalau anak saya sudah meninggal lama. Jadi sekarang tinggal sendiri,” sambungnya. 

Setelah kepergian suami keduanya, ia memilih meneruskan usaha yang dirintis 25 tahun silam seorang diri. 

Penghasilan tak tentu, dipotong Rp300 ribu untuk listrik, PBB, dan PDAM

Penghasilannya tidak menentu, namun ia selalu menyisakan Rp 300.000 per bulan untuk membayar listrik, arisan, PDAM, dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Rumah yang ia tinggali saat ini merupakan peninggalan ibunya. 

“Tidak untuk apa-apa, pokoknya untuk listrik, mencukupi arisan, PBB, dan ledeng (PDAM),” ujarnya. 

Pendapatannya memang tidak banyak, namun ia selalu merasa cukup. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.