TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, meresmikan Rumah Adat Kutai Kutim sebagai pusat pelestarian budaya, sekaligus mendorong pelaksanaan Erau Adat Kutai Timur.
Peresmian Rumah Adat Kutai Kutim ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Momen ini juga dirangkai dengan penyerahan Sabda Pandita Ratu serta Surat Keputusan (SK) Bupati kepada Pemangku Adat Kutai Timur.
Langkah ini menjadi simbol penguatan kelembagaan adat sekaligus mempertegas peran masyarakat adat dalam menjaga tradisi dan nilai budaya lokal.
Baca juga: Bupati Kutim Ardiansyah Berlakukan WFH Bagi ASN di Hari Jumat, Kecuali Pejabat Eselon III, II dan I
Rumah Adat Jadi Pusat Aktivitas Budaya
Ardiansyah menegaskan bahwa keberadaan rumah adat tidak boleh hanya menjadi bangunan simbolik semata.
Ia mendorong agar tempat tersebut dihidupkan dengan aktivitas seni budaya secara rutin.
Ia berharap setiap malam rumah adat diisi dengan pertunjukan musik Tingkilan maupun tarian Jepen klasik, sehingga generasi muda dapat mengenal dan mempelajari warisan budaya asli.
“Bangunan ini jangan sampai sunyi. Harus ada aktivitas budaya yang terus hidup,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ardiansyah menyampaikan bahwa Kabupaten Kutai Timur telah dipersilakan untuk menyelenggarakan Erau Adat Kutai.
Baca juga: Harga LPG Nonsubsidi di Sangatta Kutim Melonjak, Pedagang dan Warga Keluhkan Penurunan Daya Beli
“Dengan telah dikukuhkannya Pemangku Adat dan diresmikannya Rumah Adat, maka Kabupaten Kutai Timur dipersilakan untuk mengadakan Erau Adat Kutai,” ungkapnya, Rabu (22/4/2026).
Instruksi tersebut merupakan pesan langsung dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang berharap tradisi besar tersebut dapat segera digelar di wilayah Kutai Timur.
Agenda Budaya dan Wisata
Pemerintah daerah berencana menyelaraskan pelaksanaan Erau dengan momen penting daerah, seperti Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Timur atau akhir tahun.
Dalam pelaksanaannya, Erau akan diisi berbagai ritual adat, di antaranya Pelas Tanah, Pelas Tijak Tanah, Pelas Laut, hingga Festival Olahraga Tradisional.
“Kami juga menyiapkan berbagai agenda adat dalam Erau tersebut,” jelas Ardiansyah.
Baca juga: Keluhan Sopir Travel di Kutim, Harga Dexlite Rp 24 Ribu, Isi Rp 750 Ribu Tak Sampai Setengah Tangki
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menarik minat wisatawan.
Pendanaan dan Kolaborasi
Meski belum masuk dalam APBD murni, Ardiansyah optimistis anggaran pelaksanaan Erau dapat dialokasikan melalui APBD Perubahan.
Pemerintah daerah juga membuka peluang keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dinilai menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan festival budaya berskala besar.
Ardiansyah berharap seluruh unsur masyarakat, khususnya majelis adat, terus berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal.
“Mudah-mudahan para anggota majelis adat selalu diberikan kesehatan untuk terus mengayomi,” pungkasnya. (*)