Respons Kepala BGN Soal Kenaikan Harga BBM dan Gas LPG, Apakah Menu MBG Bakal Dikurangi?
jonisetiawan April 22, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji nonsubsidi yang memicu kekhawatiran publik, pemerintah memastikan satu hal: kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dikorbankan.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa fluktuasi harga energi tidak akan berdampak pada mutu makanan yang diterima masyarakat, khususnya anak-anak sebagai penerima manfaat utama program tersebut.

Tiga Pilar Utama MBG Tetap Terjaga

Dadan menjelaskan, dalam implementasi program MBG, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berpegang pada tiga komponen utama: bahan baku, operasional, dan insentif.

Baca juga: Bukannya Dimakan, Siswa Malah Bawa Pulang MBG Buat Dikasih ke ART, BGN Bentuk Tim Investigasi

“Sejauh ini, kami selalu menetapkan tiga komponen, di antaranya bahan baku, operasional, dan insentif,” ujarnya.

Kenaikan harga BBM dan elpiji memang berdampak pada dua aspek, yakni bahan baku dan operasional.

Namun, menurutnya, kedua komponen tersebut bersifat fleksibel sehingga masih bisa disesuaikan tanpa menurunkan kualitas makanan.

"Makanya, fluktuasi harga tidak akan memengaruhi kualitas dari menu," tegasnya.

POLEMIK MBG - (Ilustrasi)
POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG. Dadan Hindayana menegaskan kenaikan harga BBM dan elpiji tidak akan menurunkan kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. (Instagram @badangizinasional.ri)

Lonjakan Harga Energi Cukup Signifikan

Kenaikan harga yang terjadi sejak 18 April 2026 memang tidak bisa dianggap kecil. Sejumlah jenis BBM dan gas nonsubsidi mengalami lonjakan cukup tajam.

Sebagai gambaran:

  • Pertamax Turbo naik menjadi Rp 20.250 per liter dari sebelumnya Rp 13.650
  • Pertamina Dex melonjak ke Rp 24.950 per liter dari Rp 15.100
  • Elpiji 5,5 kg naik dari Rp 94 ribu menjadi Rp 111 ribu
  • Elpiji 12 kg dari Rp 194 ribu menjadi Rp 230 ribu
  • Bahkan elpiji 50 kg melonjak drastis dari Rp 832 ribu menjadi Rp 1.666.000

Kondisi ini tentu berpotensi menekan biaya distribusi dan produksi pangan dalam program MBG.

Baca juga: Kepala BGN Klaim IQ Orang Indonesia Rata-rata 78, Target MBG Bisa Perbaiki: Stunting Bisa Dicegah

Komitmen Jaga Mutu di Tengah Tekanan Biaya

Meski tekanan biaya meningkat, BGN memastikan strategi pengelolaan anggaran dan distribusi telah dirancang agar tetap adaptif. Penyesuaian dilakukan pada aspek yang memungkinkan, tanpa menyentuh standar kualitas makanan.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah berupaya menjaga konsistensi program MBG sebagai investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Di tengah dinamika ekonomi, pesan yang ingin disampaikan jelas: program gizi untuk generasi masa depan tidak boleh goyah hanya karena fluktuasi harga energi.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.