TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat, menyikapi tren lonjakan kasus campak klinis di Kabupaten Fakfak yang ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Hal itu disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Papua Barat Billy Graham Makamur saat diwawancarai TribunPapuaBarat.com di Fakfak, Rabu (22/4/2026).
"Kami memantau lewat laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (KSDR) memang untuk beberapa minggu terakhir mengalami kenaikan kasus campak klinis di Fakfak," ujarnya.
Menurutnya, dari hasil pelaporan pihaknya meninjau kembali terkait faktor epidemiologis atau keterikatan kontak orang dalam suatu wilayah.
"Untuk itu kami turun langsung ke Fakfak terutama ke beberapa Lokasi Khusus (Lokus), serta sudah diambil beberapa sampel untuk ditindaklanjuti dengan pemeriksaan di laboratorium" tuturnya.
Baca juga: Dinkes Manokwari Pastikan Imunisasi Campak Aman bagi Anak, Masyarakat Diminta Tidak Khawatir
Selain adanya faktor epidemiologis, pihaknya juga mendeteksi gejala campak yang sama di Kabupaten Fakfak sehingga tergolong dalam kategori campak klinis.
"Untuk itu, kami tetap intervensi dengan imunisasi atau vaksinasi campak untuk bayi di Fakfak," bebernya.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan mencegah campak klinis paling efektif dilakukan melalui pendekatan imunisasi dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan.
Penetapan KLB
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak menetapkan Campak Rubella Klinis sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ditemukan 15 kasus suspek di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Fakfak, Husein Lie, menjelaskan bahwa penetapan KLB dilakukan karena peningkatan kasus telah memenuhi indikator epidemiologis.
“Secara nasional memang ada peningkatan kasus campak, termasuk Fakfak. Maka sudah seharusnya ditetapkan menjadi KLB,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Husein merincikan, Distrik Pariwari mencatat 8 kasus suspek, dengan distribusi tertinggi di Kampung Tanama sebanyak 4 kasus.
“Campak yang biasa dikenal di wilayah timur dengan sebutan Sarampa memiliki penularan tinggi atau faktor epidemiologis erat,” jelasnya.
(*)