Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) V DPD Partai Golkar Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, akhirnya dialihkan ke Ambon.
Keputusan pengalihan tersebut diambil setelah dinamika persidangan yang berlarut-larut akibat skorsing berulang yang memicu ketidakpastian dalam forum.
Padahal , sejak dibuka oleh Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, Umar Ali Lessy pada Senin (20/4/2026), kegiatan tersebut berlangsung sesuai agenda.
Namun, situasi mulai berubah saat memasuki tahapan verifikasi bakal calon Ketua DPD II Golkar SBT yang memicu perdebatan antar peserta.
Dari tiga bakal calon yang mendaftar, satu di antaranya, Husein Kelilauw, dinyatakan tidak memenuhi syarat dukungan, hingga menyusahkan dua nama, yakni Agil Rumakat dan Ismail Rumbalifar.
Ketegangan meningkat ketika kedua kubu saling mengklaim dukungan dari pimpinan kecamatan, yang kemudian memicu perdebatan panjang dalam forum sidang.
Kondisi tersebut membuat pimpinan sidang beberapa kali melakukan skorsing, yang dinilai sejumlah peserta justru memperpanjang ketidakjelasan jalannya Musda.
Baca juga: Baru Berjalan 30 Menit, Puluhan Interupsi Dilayangkan Peserta Musda ke-X Golkar Malteng
Baca juga: Steering Committee Soroti Dugaan Intervensi di Musda Golkar SBT, Akui Sering Diintimidasi
Akibat situasi yang tidak kondusif, agenda sidang yang semula dijadwalkan selesai di Bula terpaksa ditunda dan dialihkan pelaksanaannya ke Ambon.
Ketua Steering Committee (SC) Musda V Golkar SBT, Hafas Kelirey, menyayangkan keputusan skorsing yang dinilai berlebihan dan berdampak pada terganggunya jalannya forum.
“Kami sangat kecewa dengan skorsing yang terjadi berulang kali. Ini membuat proses tidak jelas dan merugikan peserta,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia juga meminta Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I hingga Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar untuk mengevaluasi jalannya Musda tersebut.
Senada dengan itu, salah satu peserta Musda, Muhamad Amin Sokanmetan, menilai keputusan pimpinan sidang yang berubah-ubah turut memperkeruh suasana.
“Kami berharap ada ketegasan dan konsistensi dalam pengambilan keputusan, agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan,” katanya.
Ia menambahkan, polemik yang terjadi selama Musda berpotensi memengaruhi soliditas internal Partai Golkar di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Sejumlah peserta pun berharap, pelaksanaan lanjutan Musda di Ambon dapat berjalan lebih kondusif, transparan, serta mampu menghasilkan keputusan yang diterima seluruh pihak.(*)